Mahasiswa, SDM Tumbal MEA
MEA memunculan berbagai pro-kontra dikalangan politikus, intelektual dan para pakar. Terlepas dari siap dan tidaknya Indonesia menghadapi MEA,
Pasar bebas telah menjadi senjata mematikan nalar kritis mahasiswa. Menjadikan mahasiswa tumbal kapitalisme dengan berbagai jerat mematikan. Meletakkan dan mengebiri mereka pada strata terendah yaitu menjadi katalisator kepentingan kapitalis.
Mahasiswa merupakan titik sentral penyambung rakyat dan pemerintah. Peran ini tentu tidak sekedar asal-asalan, namun dilandasi oleh sebuah kesadaran akan eksistensi vital sebagai pengontrol sosial. Sebagai sumber daya menusia terdidik, harusnya peran ini tidak tumpul atau dimandulkan. Apatahlagi hanya dibayar murah dengan keping rupiah.
Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), mahasiswa kemudian disorot dan diarahkan menjadi penopang tantangan ekonomi regional ini. Pada seminar bertajuk How ASEAN Economic Community Will Affect the Indonesian Economic, Presiden Pancasila English Meeting Karisa menjelaskan, seminar itu bertujuan agar mahasiswa tidak sekadar paham tentang pasar bebas Asean, tetapi juga tahu apa yang bisa dilakukan untuk membantu Indonesia bisa menang di Pasar Bebas Asean. (bisnis.com 15/09/2015).
“Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) BNP2TKI Nusron Wahid menantang para mahasiswa di Kampus Universitas Islam Malang untuk memiliki sekurang-kurangnya tiga hal pokok agar mampu membayar ‘utang’ kepada bangsa dan negara, serta supaya siap menghadapi realisasi Masyarakat Ekonomi Asean yang mulai berlaku akhir 2015.
Ketiga hal pokok itu adalah peningkatan kapasitas diri yang siap menghadapi kompetisi, berperilaku tidak konsumtif dan melakukan gerakan meningkatkan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi agar mandiri (bnp2tki.go.id 15/09/2015).” Ini menjunjukkan betapa mahasiswa mempunyai peran penting terhadap negara ini.
Nihil Andil
MEA memunculan berbagai pro-kontra dikalangan politikus, intelektual dan para pakar. Terlepas dari siap dan tidaknya Indonesia menghadapi MEA, ada satu hal yang bisa dirasakan yaitu pemegang kebijakan tidak punya andil tegas terhadap hal ini.
Pengambil kebijakan/pemerintah sangat minim dilihat dari segi informasi atas peluang dan ancaman. Bagaimana peluang itu dimaksimalkan dan meminimalkan ancaman. Sementara Thailand telah menjadikan Indonesia untuk invasi busana muslim. Karena mereka menyadari bahwa Indonesia adalah negara mayoritas muslim. Vietnam juga telah memaksimalkan produksi kopi dan teh untuk menyerang pasar Indonesia. Mereka mengetahui bahwa Indonesia adalah penikmat kopi dan teh. Itu baru dari segi komoditi barang, belum dengan komoditi dan liberalisasi jasa dan Investasi. Negeri ini memiliki sumber daya alam yang melimpah, maka bukan sesuatu yang sulit bagi kapitalis untuk berinvestasi. Semakin kokohlah cengkraman ekonomi di negeri ini.
Fakta kurangnya informasi dan semakin dekatnya realisasi MEA, berbagai cara dilakukan sebagai antisipasi. Untuk dapat berkompetisi, digunakanlah berbagai inovasi dan sasaran penggerak yang menyokong Indonesia menghadapi MEA. Walhasil, digencarkan program ekonomi kreatif mandiri.
Seminar gencar dilakukan di kampus-kampus dan di berbagai daerah. Bahkan hampir bergilir setiap kampus negeri dan swasta. Biaya beausaha dikucurkan kepada sesiapa yang siap menjadi ‘pahlawan’ penolong dengan mendirikan UKM.
Jika diamati, negeri ini mempunyai modal besar untuk menjadi sebuah bangsa berekonomi kuat dan mandiri. Pertama, sumber daya alam yang melimpah hingga tujuh turunan bahkan lebih. Kedua, sumber daya manusia kiranya cukup untuk menopang perekonomian. Kita memiliki para pakar dan intelektual yang tidak kalah dengan orang diluar sana. Namun sayang, sepertinya pemerintah tidak ‘menghargai; intelektual ini. Mereka bahkan ‘terbuang’ ke negeri orang karena lebih dihargai.
Ada satu hal yang membuat dua modal besar itu tidak dapat dioptimalkan yaitu sistem rusak yang berlaku atas pengaturan dalam negeri ini, khususnya sistem ekonomi. MEA menyiratkan pemerintah tidak punya andil kuat dan tegas. Ataukah ada semacam gengsi internasional? Atas nama pergaulan dan keterbukaan negara.
Tumbal MEA
Sasaran penggerak menyonsong MEA salah satunya adalah mahasiswa. Bukan rahasia lagi, jika perguruan tinggi diharapkan mampu berkontribusi dengan mengerahkan dosen atau mahasiswa. Salah satunya adalah pembuatan proposal-proposal usaha oleh mahasiswa. Yang tentunya jika diterima mereka akan diberi bantuan usaha.
Dosen sebagai pendidik generasi telah berperan ganda menjadi katalisator ‘tim sukses’ hadapi MEA. Membimbing dan mendorong mahasiswa agar mampu membuat unit usaha sebagai bentuk pertahanan baru. Akan memprihatinkan jika yang menjadi fokus mereka bukan lagi pada bidang ilmu yang digeluti. Tetapi disandarkan pada hitung-hitung ilmu ekonomi semata. Misalnya, seorang mahasisa ilmu komputer yang harus membuat terobosan bernilai ekonomis agar bisa dijual, hal ini akan mengakibatkan distorsi keilmuan.
Celakanya, jika aktor intelektual telah terinstal dalam batok kepalanya tentang ekonomi yang berujung pembentukan pola pikir uang. Segala sesuatu distandarkan kepada fulus dan itu dikatakan sukses. Materi telah dijadikan sumber pencapaian tertinggi. Ilmu bukan lagi menjadi tujuan tapi hanya sebagai jembatan mengejar dolar.
Idelisme mahasiswa telah ‘terbeli’. Nalar kritis telah terkikis. Sebuah kemunduran pikir dan peran. Padahal kita bisa belajar para mahasiswa beberapa dekade lalu dan saat reformasi. Mereka memasang badan dalam mengkritisi kebijakan zalim pemerintah.
Mahasiswa kini telah menjadi kacung kapitalis dan mudah terbawa arus. Akhirnya, mahasiswa hanya ditempatkan sebagai tumbal penghasil sumber daya manusia (SDM) kelas menengah yang dihargai murah.
Saatnya kembali pada peran sejati. Mahasiswa atau intelektual muda sangat berperan penting di tengah masyarakat untuk penyadaran rakusnya kaum kapitalis dengan kapitalisme-nya atas nama pasar bebas. Tentunya, penyadaran ini dibarengi jalan keluar dengan kembali pada sistem ekonomi Islam. Yang telah terbukti menyejahterakan tanpa mengebiri peran intelektual. Juga harus ada upaya untuk membawa arus perubahan yang merupakan tugas hakiki intelektual yaitu merekonstruksi peradaban. (*)
Oleh;
Nurjana Syamsudin
Aktivis MHTI Chapter UMI