Mengakhiri Epidemi AIDS
Inisiatif ini lahir atas kesadaran kritis lambatnya upaya pengendalian HIV dan AIDS di seluruh dunia, khususnya di Kawasan Asia Pacifik,
Kota Makassar menjadi destinasi menarik bagi para pemerhati HIV dan AIDS seluruh Indonesia, termasuk utusan dari badan-badan dunia dan donor internasional karena akan dilangsungkan Pertemuan Nasional AIDS V pada 27-29 Oktober 2015. Ada yang berasal dari kalangan birokrat, politisi, akademisi, NGO, dan kelompok sosial masyarakat lainnya.
Maksud utama perhelatan tiga tahunan KPAN ini membuka forum dialog bersama seluruh stakeholders untuk me-review pendekatan yang sudah dilakukan. Diharapkan forum tersebut melahirkan paradigma baru, pendekatan, metode, atau teknik pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS yang salah satu isu fundamental yang didiskusikan adalah mengakhiri epidemi AIDS pada tahun 2030 sebagai inisiasi global yang dimotori oleh UNAIDS (lembaga PBB untuk HIV dan AIDS).
Inisiatif ini lahir atas kesadaran kritis lambatnya upaya pengendalian HIV dan AIDS di seluruh dunia, khususnya di Kawasan Asia Pacifik, sehingga epidemi ini terus berkembang menjadi wabah. Jika pola epidemi seperti saat ini masih terus berlangsung, maka semakin banyak orang yang terinfeksi HIV baru dan saat bersamaan, semakin banyak pula biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan, perawatan, dan dukungan.
Mungkinkah penyebaran HIV dan AIDS di dunia betul-betul bisa dihentikan? Pertanyaan ini kelihatannya seperti kalimat retoris yang mengandung keragu-raguan karena dianggap sebagai suatu cita-cita yang ambisius. Secara realistis, menghentikan HIV dan AIDS berarti merefleksikan adanya situasi sosial dimana perilaku beresiko berada pada titik nol. Artinya, tidak ada lagi hubungan seksual yang beresiko; pemakaian narkotika suntik hilang sama sekali; semua ibu hamil diperiksa dan dinyatakan negatif HIV, sehingga tidak terjadi penularan pada bayi yang dikandungnya; dan yang tak kalah pentingnya, seluruh pengidap HIV berkomitmen 100% untuk menerapkan perilaku aman.
Jalur Cepat
Realitas tersebut pastilah tidak mungkin tercipta secara ideal, namun paling tidak sebuah diskursus yang bisa mengkonstruksi gagasan baru dan radikal dalam pengendaliannya. Siginifikansi wacana penghentian epidemi AIDS adalah laju penularannya mengalami perlambatan pada tahun 2030 dengan tren penurunan kasus baru yang cepat.
Pendekatan yang digunakan dalam mencapai cita-cita ambisius itu oleh UNAIDS dinamakan fast-track suatu manuver baru yang lebih menukik pada kelompok sasaran potensial. Target yang dicanangkan tidak tanggung-tanggung yakni pada tahun 2020 sebanyak 90% pengidap HIV mencegah perkembangan virus dalam tubuh. Target ini diharapkan mengalami peningkatan menjadi 95% pada tahun 2030. Jika pendekatan fast-track ini diterapkan dengan baik, maka diprediksi terjadi pengurangan 80% pengidap HIV baru.
Pembacaan yang tajam terhadap target-target itu membalik keraguan menjadi keyakinan baru bahwa menghentikan epidemi AIDS bukanlah sesuatu yang mustahil. Banyak bukti yang
mekanisme penularan yang terjadi secara diam-diam (silent epidemic). Begitupun juga efektivitas pengobatan antiretroviral bagi ODHA (Orang dengan HIV dan AIDS) membuat mereka memiliki umur yang lebih panjang dengan kualitas hidup yang lebih baik.
Fokus lainnya yang memungkinkan pendekatan ini semakin realistis dan rasional adalah pelibatan aktif kaum muda sebagai kelompok populasi yang paling rentan dan terpapar. Capaian target fast-track ini hanya memerlukan waktu selama kurang lebih 5 (lima) tahun. Tentu saja kegagalan target pengendalian HIV dan AIDS dalam MDG’S (Millenium Development Goals) pada tahun 2015 yang dinilai pada posisi diluar jalur (off-track) tidak terulang kembali.
Penyebabnya karena program-program pengendalian HIV dan AIDS yang melintas menuju indikator MDG’s, baru dimulai pada tahun 2010. Namun demikian, hasil-hasil yang telah ada merupakan pra-kondisi yang positif dalam memulai gerakan percepatan pengendalian. Bagi Indonesia, dalam merespon komitmen global ini menghadapi sejumlah tantangan yang menghadang ke depan dan diharapkan mendapatkan penajaman diskusi pada pernas kali ini untuk menemukan solusi yang cerdas.
Tantangan itu diantaranya sekitar 85% populasi beresiko yang diestimasi belum memiliki kesadaran untuk memeriksakan status HIVnya. Artinya peluang penularan HIV baru dalam lingkungan masyarakat masih terbuka lebar. Kuantitas dan kualitas sarana pelayanan komprehensif untuk akses pengobatan, perawatan, dan dukungan relatif belum berimbang dengan tingkat kebutuhan ODHA.
Pendekatan perubahan perilaku pada populasi kunci memerlukan telaah kritis dalam memadukan pendekatan struktural dan kultural, mengingat efektivitasnya belum tercapai secara menyakinkan. Aksi kampanye penyadaran selain bersifat sporadis, pesannya belum menyentuh seluruh lapisan sosial masyarakat, utamanya masyarakat desa, kelompok muda, dan perempuan; dan kebutuhan pendekatan baru advokasi dalam kerangka menempatkan isu HIV dan AIDS ini sebagai isu sentral pembangunan nasional. Semoga Pernas AIDS V di Makassar ini mampu menelorkan tonggak sejarah baru dalam memulai upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS yang lebih akseleratif, sehingga pada tahun 2030 kelak, bangsa Indonesia berhasil menurunkan tingkat epidemi HIV dan AIDS.
Oleh;
Dr Arlin Adam
Koord. Tim Asistensi KPAP Sulsel/Wakil Ketua Panitia
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/dr-arlin-adam_20151026_205950.jpg)