Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Hari Santri Nasional Perdana

22 Oktober merupakan hari revolusi santri melawan Belanda 70 tahun silam. Hadratussyaikh KH M Hasyim Asyari mengumandangkan Resolusi jihad

Editor: Aldy

Selamat Hari Santri Nasional (HSN) untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia. Ya, hari ini merupakan HSN, tanggal 22 Oktober tahun 2015. Didik Setiawan, Wakil Ketua Laskar Santri Nusantara, dalam sebuah tulisannya memaparkan mengenai sejarah dipilihnya tanggal ini sebagai HSN bukan pada 1 Muharram sebagaimana janji kampanye Presiden Jokowi pada kampanye Pilpres tahun 2014 lalu.
Didik memaparkan bahwa penetapan HSN pada 22 Oktober sangat tepat karena mengandung muatan historis yang sangat heroik dan monumental dalam perjalanan sejarah bangsa, khususnya bagi kalangan santri Indonesia.
Tanggal 22 Oktober merupakan hari revolusi santri melawan kolonialisme Belanda 70 tahun silam. Hadratussyaikh KH M Hasyim Asyari mengumandangkan Resolusi Jihad melawan Belanda (NICA) yang hendak kembali menjajah Indonesia pada tanggal 22 Oktober 1945.
Berikut ini merupakan isi keputusan dari Resolusi Jihad yang penulis kutip dari www.nu.or.id; 1) Memohon dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia supaya menentukan suatu sikap dan tindakan yang nyata serta sepadan terhadap usaha-usaha yang akan membahayakan kemerdekaan Agama dan Negara Indonesia, terutama terhadap fihak Belanda dan kaki tangan, 2) Supaya memerintahkan melanjutkan perjuangan bersifat “fi sabilillah” untuk tegaknya Negara Republik Indonesia Merdeka dan Agama Islam.
Seruan yang terdapat di dalam resolusi jihad inilah yang menggelorakan umat Islam untuk berjuang mengangkat senjata melawan kehadiran Belanda. Seruan ini pula-lah yang diyakini memiliki sumbangan besar atas pecahnya peristiwa 10 November 1945 yang kemudian dijadikan sebagai Hari Pahlawan.
Soetomo atau yang lebih akrab dipanggil Bung Tomo, pimpinan laskar BPRI dan Radio Pemberontakan yang disebut-sebut sebagai provokator insiden 10 November itu memang memiliki kedekatan dengan kalangan Islam.
Saat itu, diketahui oleh khalayak bahwasanya Bung Tomo kerap bertandang ke Pesantren Tebu Ireng, Jombang, untuk menemui dan meminta restu Hadratussyaikh. Seruan “Allahu Akbar” pada pembuka dan penutup orasinya yang sangat membakar melalui Radio Pemberontakan adalah upaya untuk merekrut kalangan pemuda muslim di satu sisi dan bukti kedekatannya dengan kalangan Islam di sisi lain.
Kaum santri yang identik dengan kaum sarungan sesungguhnya tidak selamanya hanya terbatas pada sekelompok orang yang sedang menuntut ilmu di pondok pesantren. Ada beragam pendapat mengenai asal mula kata “santri”. Abu Hamid berpendapat bahwa kata santri berasal dari suku kata “sant” (manusia baik) dan “tra” (suka menolong). Sehingga santri adalah kumpulan individu-individu yang terdidik (khususnya dalam ilmu-ilmu keagamaan) yang berorientasi pada aksi-aksi sosial-kemasyarakatan. Sedangkan John, sebagaimana dikutip Dhofier berpendapat bahwa kata santri berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru mengaji. Sementara menurut C.C. Berg, kata santri berasal dari kata India (Sanskerta), yaitu shastri (orang yang tahu kitab suci Hindu), atau seorang ulama dalam pengertian Islam Indonesia. Kata shastri merupakan turunan dari kata shastra yang berarti kitab suci, atau karya keagamaan, atau ilmiah.
Dalam Ensiklopedia Pendidikan dikemukakan bahwa kata santri berarti orang yang belajar agama Islam, sehingga pesantren mempunyai arti tempat orang berkumpul untuk belajar agama Islam. Ziemek berpendapat bahwa kata pesantren berasal dari pe-santri-an, yang berarti tempat tinggal. Dalam hal ini, santri yang bertempat tinggal di pesantren mendapat pelajaran dari kiai atau ustaz. Adapun Nurcholis Majid mengatakan bahwa kata santri berasal dari bahasa Jawa yaitu, “cantrik” yang berarti sesorang yang selalu mengikuti seorang guru ke mana pun ia pergi. Asal usul kata “santri” yang merupakan akar kata “pesantren” juga dikatakan berasal dari kata “sastri” (Sanskerta) yang berarti “melek huruf”. Penggunaan kata ini menggambarkan bahwa kaum santri adalah orang terdidik bagi orang Jawa, khususnya pada permulaan tumbuhnya kekuasaan politik Islam di Demak. Hal ini terlihat dari dihubungkannya kata santri dengan orang-orang yang mengerti dan memahami kitab-kitab yang bertulisan arab.
Seorang santri adalah seorang yang mengetahui masalah agama atau paling tidak dapat membaca Al-Qur’an. Kata cantrik sendiri hingga sekarang masih sering digunakan. Misalnya, seorang yang selalu mengikuti seorang dalang dalam pewayangan, agar kelak dapat memiliki keahlian seperti orang yang diikutinya sering disebut “dalang cantrik” atau “dalang magang”. Satu lagi istilah santri yang dikemukakan oleh Zaini Muchtarom yang lazim digunakan oleh orang Jawa adalah kata “putihan”. Penggunaan kata ini agaknya disebabkan oleh kebiasaan kaum santri yang memakai pakaian putih ketika mengerjakan shalat. Para putihan biasanya memakai kopiah yang terbuat dari beludru hitam, serupa fez (kopiah Turki), sehelai kemeja putih dan sarung. Setelah berhaji, kopiah tadi ditukarkan dengan peci katun putih atau kopiah haji. Berbeda lagi dengan Geertz yang berpendapat bahwa santri merupakan kelompok masyarakat yang mewakili sikap yang menitikberatkan pada segi-segi Islam dalam sinkretisme.
Nasaruddin Umar, yang mengutip beragam pendapat di atas sebagaimana yang lebih kurang penulis nukil pada tulisan ini menutup tulisannya dengan memberi pengertian bahwa santri tidak hanya terbatas pada orang yang sedang dan pernah mengenyam pendidikan agama di pondok pesantren di bawah asuhan para kiai-ulama. Tetapi juga kepada mereka yang belajar dan memahami ilmu-ilmu keagamaan baik secara autodidak maupun secara institusi formal yang kemudian diwujudkan dalam aktivitas kesehariannya. Semoga dalam momentum HSN perdana ini kita semua bisa menjadi manusia-manusia yang terus bersemangat -sebagaimana semangat resolusi jihad- dalam mengamalkan Islam untuk sebesar-besar dan seluas-luasnya manfaat bagi seluruh alam. Amin. Wallahu A’lam Bishshawab.

Oleh:
Darul Ma’arif Asry
Mahasiswa Tafsir Hadis Khusus UIN Alauddin Makassar dan alumni Pondok Pesantren Al-Ikhlas Ujung-Bone

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved