Dari PTS Abal-abal ke PTN
sangat banyak orang-orang yang bergelar S1 dan S2 yang sesungguhnya jarang sekali ikut kuliah. Bahkan tidak pernah belajar, langsung ujian
Kelihatannya Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir sangat serius dan konsen terhadap perguruan tinggi abal-abal. Kalau bulan lalu menonaktifkan 13 perguruan tinggi swasta (PTS) di Sulawesi Selatan, kini bertambah lagi enam dan menjadilah 19 PTS. Ke-19 PT ini berada di lingkungan Kopertis Wilayah IX.
Perhatian dan komitmen ini tentu perlu diberi apresiasi dan mudah-mudahan berlanjut terus sehingga tidak lagi kita menemukan perguruan tinggi abal-abal yang merugikan masyarakat dan pemerintah.
Hati-hati
Ditemukannya berbagai penyimpangan dalam pengelolaan perguruan tinggi, khususnya di PTS abal-abal tentu mempunyai makna mendalam, sekurang-kurangnya masyarakat dan pemerintah mengerti dan memahami bahwa ternyata dibalik keinginan untuk meningkatkan kualitas luaran perguruan tinggi, ternyata ada PT yang justru sebaliknya menurunkan kualitas, bahkan kredibilitas PTS.
Bukan hanya itu. Penyimpangan di PTS abal-abal bahkan seharusnya menjadi perhatian bagi perguruan tinggi negeri. Sebab sadar atau tidak, kemungkinan alumni S1 di perguruan tinggi abal-abal ada yang lolos masuk ke perguruan tinggi negeri, melanjutkan studi di program pascasarjana baik strata dua maupun strata tiga.
Selama ini, PTN yang mengelola program pascasarjana, sadar atau tidak sadar berupaya mencari mahasiswa sebanyak-banyaknya tanpa melakukan seleksi yang ketat dan benar. Asumsinya semakin banyak mahasiswa semakin baik. Sebab dipilih oleh banyak anggota masyarakat dan tentu saja semakin banyak pemasukan.
Endingnya semakin meningkatkan kesejahteraan pengelola. Padahal, sekali lagi sadar-atau tidak sadar kemungkinan banyak calon mahasiswa yang berasal dari perguruan tinggi abal-abal.
Cuci Ijazah
Untuk sementara dan tentu saja dalam beberapa kasus, PTN masih lebih baik dari PTS. Citra itu masih melekat dihati dan pikiran masyarakat dan pemerintah, Karena itulah banyak orang bermimpi untuk masuk di PTN, bukan saja kuliah dan menimbah ilmu akan tetapi juga untuk sebuah citra.mereka bangga kalau disebut alumni dari perguruan tinggi negeri ternama.
Dalam beberapa kasus terutama di program pasca sarjana yang dikelola oleh PTN, banyak yang mendaftar bukan sekedar ingin menimbah ilmu, tetapi sekaligus memperbaiki citra karena semula kuliah di perguruan tinggi abal-abal.
Dengan begitu kuliah di program pasca sarjana negeri sesungguhnya sekaligus cuci ijazah, yang semula kotor karena dari perguruan tinggi abal-abal. Kalau mereka ditanya alumni dari mana, maka jawabannya oh dari PPS Negeri, mereka tidak menyebut lagi alumni S1 atau S2 dari PT asalnya yang abal-abal.
Mereka yang kuliah di pasca sarjana setelah selesai dan memperoleh gelas S2 atau S3, biasanya hanya memanfaatkan ijazah terakhir, baik untuk melamar pekerjaan maupun untuk penyesuian atau kenaikan pangkat. Dengan begitu kuliah dipasca sarjana negeri bagi sebagian orang adalah untuk cuci ijazah.
Harus Selektif
Kemungkinan banyaknya alumni perguruan tinggi abal-abal melanjutkan kuliah di program pascasarjana (PPs) negeri untuk cuci ijazah. Hal ini tentu harus diwaspadai melalui seleksi ketat. Jangan melihat akreditasinya saja. Namun lihat dan dengar keluhan masyarakat, terutama laporan masyarakat tentang proses perkuliahannya.
Sebab sangat banyak orang-orang yang bergelar S1 dan S2 yang sesungguhnya jarang sekali ikut kuliah. Bahkan tidak pernah belajar, langsung ujian dan memperoleh gelar sarjana atau master. Setelah itu melanjutkan kuliah di PPs negeri mengikuti prosedur dan akhirnya juga memperoleh gelar dari perguruan tinggi negeri.
Memang pengelola pasca sarjana negeri seringkali kesulitan untuk menolak alumni perguruan tinggi abal-abal, sebab iajazahnya legal, malah terakreditasi dan karena itulah secara hukum tidak bisa ditolak, mereka punya hak, akan tetapi melalui seleksi yang ketat, pasti akan kelihatan bahwa calon ini berasal dari perguruan tinggi abal-abal. Hal ini bisa dilakukan terutama ketika dilakukan seleksi wawancara.
Coba tanyakan kepada mereka dimana kuliah, dimana alamat kampusnya, siapa rektor atau direkturnya. Siapa dekannya, ketua prodinya, dimana KKN, apa judul penelitiannya, siapa pembimbingnya. Kalau belum berhasil, tanyakan metode penelitiannya, populasi dan sampel penelitiannya, kesimpulan dan saran-saran skiprsi atau thesisnya.
Kalau dia bisa menjawab dengan baik dan benar, yakinlah bahwa dia adalah alumni dari perguruan tinggi yang baik, tetapi sebaliknya jika tidak bisa menjawab apalagi tidak bisa mengenal dimana kampusnya, siapa rektornya dan seterusnya, pasti dia adalah sarjana abal-abal.
Hanya dengan seleksi ketat dan keinginan yang sungguh-sungguh untuk menjaga citra PTN yang bisa menghalau mereka yang berniat memperoleh gelar dan cuci ijazah, mudah-mudahan ini menjadi perhatian dalam upaya menjaga integritas PTN sebagai simbol kejujuran, penjaga kebudayaan, jangan karena iming-iming jumlah lalu merusak kualitas dan citra. Semoga.
Oleh;
Amir Muhiddin
Anggota Forum Dosen
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/amir-muhiddin1_20151007_202955.jpg)