Penyebab Kematian Kita Sudah Ditentukan Sebelum Lahir? Baca Ini
Dijelaskan Dewan Pakar PSQ, M Quraish Shihab, atas pertanyaan netizen berikut ini.
MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM- Tentang kapan ajal manusia ditentukan oleh Sang Pencipta, dibahas di media Pusat Studi al-Qur'an (PSQ), Alifmagz.com, Senin (7/9/2015). Dijelaskan Dewan Pakar PSQ, M Quraish Shihab, atas pertanyaan netizen berikut ini.
Tanya:
Yang saya ketahui bahwa sebelum kita lahir dunia, kita sudah mengikat kontrak dengan Allah SWT bahwa kita akan mati pada waktu yang telah ditetapkan. Yang ingin saya tanyakan, apakah itu artinya kematian kita sudah ditakdirkan waktunya, sehingga tidak mungkin kita undur lagi, sekalipun kita menjaga kesehatan selalu?
Dan, apakah penyebab kematian juga sudah diketahui sebelum lahir tersebut? Untuk penyebab kematian ini saya ingin tahu, karena ini berkaitan apabila kematian seseorang diakibatkan karena kesalahan orang lain seperti dibunuh, akibat mal praktik dokter, ditabrak dll, maka artinya itupun sudah takdir sehingga penyebab kematian tersebut tidak seharusnya berdosa? Terima kasih. [Firy Nasution – via surel]
Jawaban Quraish Shihab:
Kata takdir terambil dari kata qaddara yang, antara lain, berarti memberi kadar atau ukuran. Jika Anda berkata, “Allah menakdirkan,” itu berarti “Allah memberikan kadar atau ukuran atau batas tertentu dalam diri, sifat, dan kemampuan makhluk-Nya.”
Segala sesuatu, kecil atau besar, telah ditetapkan oleh Allah takdir baginya. Bacalah, (Allah) yang menciptakan segala sesuatu lalu Dia menetapkan atasnya qadr/ketetapan dengan sesempurna-sempurnanya (QS. al-Furqan [25]: 2). Lalu, Matahari beredar di tempat peredarannya, demikian itulah takdir/ukuran yang ditentukan oleh (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (QS. Yasin [36]: 38).
Peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam raya ini, dari sisi kejadiannya, dalam kadar/ukuran tertentu, pada tempat dan waktu tertentu, itulah yang dinamai takdir. Tidak ada sesuatu tanpa takdir, termasuk manusia. Peristiwa-peristiwa tersebut berada dalam pengetahuan dan ketentuan Tuhan.
Manusia mempunyai kemampuan terbatas sesuai dengan ukuran yang diberikan Allah kepadanya. Makhluk ini, misalnya, tidak dapat terbang.
Ini merupakan salah satu takdir/ukuran batas kemampuan yang dianugerahkan Allah kepadanya. Dia tidak mampu melampauinya, kecuali jika dia menggunakan akalnya untuk menciptakan suatu alat.
Namun, akalnya pun mempunyai ukuran/batas yang tidak mampu dilampaui.
Manusia berada di bawah hukum-hukum Allah sehingga segala yang kita lakukan pun tidak terlepas dari hukum-hukum yang telah mempunyai kadar dan ukuran tertentu.
Hanya saja, karena hukum-hukum tersebut cukup banyak, dan kita diberi kemampuan memilih -tidak sebagaimana matahari dan bulan misalnya-maka kita dapat memilih yang mana di antara takdir/ ukuran-ukuran yang ditetapkan Tuhan itu yang sesuai dengan kita.
Pilihan adalah hak kita. Ketika di Syam (Suriah, Palestina, dan sekitarnya) terjadi wabah, Umar bin Khaththab yang ketika itu bermaksud berkunjung ke sana membatalkan rencana beliau.
Dan ketika itu, tampillah seseorang bertanya, “Apakah Anda lari/menghindar dari takdir Tuhan?” Umar ra. menjawab, “Saya lari/menghindar dari takdir Tuhan ke takdir-Nya yang lain.”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/nyawa-dicabut_20150904_110348.jpg)