Kolom Hati Dr Muammar Bakry Lc
Qana'ah Untuk Menghalau Dengki
Orang yang tamak pasti kikir. Dan orang kikir pasti tamak. Karena itu orang yang qana'ah pasti tidak kikir, karena ia tidak tamak

QANA'AH adalah sikap hati sebagai ungkapan kerelaan atas apa yang diterima.
Sikap merasa syukur atas apa yang diperoleh tanpa merasa iri terhadap orang lain. Sikap ini Berlawanan dengan sifat tamak, serakah dan kikir.
Orang yang tamak pasti kikir. Dan orang kikir pasti tamak. Karena itu orang yang qana'ah pasti tidak kikir, karena ia tidak tamak.
Ayat yang menjadi prinsip sifat qana'ah adalah QS. Al-Zukhruf: 32 (Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu?
Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan).
Ada keyakinan kuat orang yang qana'ah, bahwa umur manusia disesuaikan oleh rezki yang diberikan.
Umur tidaklah berakhir sebelum rezeki habis.
Rezeki tidak akan ke mana-mana jika memang milik kita.
Ada dua model qana'ah. Pertama yang tepuji yaitu beryukur atas apa yang diberikan Tuhan kepadanya, dan tidak merasa dengki kepada orang atas nikmat yang diberikan kepadanya.
Sebuah riwayat yang dikeluarkan Bukhari dan Muslim, seorang sahabat yang bernama Hakim bin Hazam datang kepada Nabi Muhammad saw untuk meminta sejumlah barang lalu Nabi memberikannya, kemudian datang kedua kalinya lalu Nabi memberikannya, kemudian datang ketiga kalinya lalu Nabi memberikannya, kemudian Nabi menyampaikan kepadanya, "wahai Hakim harta ini memang indah dan menarik, siapa yang mengambil seadanya (sesuai kebutuhan dan haknya) akan diberkati, dan siapa yang mengambil untuk keinginan dirinya (melebihi dari hak dan kebutuhannya) Allah tidak memberkatinya, seperti orang yang makan tak pernah kenyang, Tangan di atas yang memberi lebih baik dari pada tangan yang dibawa yang suka mengambil".
Hakim kemudian berjanji kepada Nabi saw untuk tidak lagi mengambil dari siapapun selama-lamanya hingga meninggal. Suatu hari Abu Bakar ingin memberi bagiannya dari baytul mal, namun Hakim menolak.
Saat Umar menjadi Khalifah, dipanggil untuk diberikan bagiannya, ia pun menolak.
Demikianlah hidup seorang sahabat Nabi yang bernama Hakim dalam sisa hidupnya hanya menikmati dari hasil kerjanya saja tanpa memikirkan jatah pembagiannya dari negara.
Qanaah yang kedua, yaitu qana'ah yang tercela. Yakni merasa puas dengan kebaikan yang dilakukan.
Bagi muslim, seharusnya tidak ada kata berhenti dalam berkarya, melakukan kebaikan, menuntut ilmu dan ibadah.
Sa'ad bin Abi Waqqash berkata, wahai anakku, jika kamu mencari kekayaan maka carilah qana'ah, karena ia adalah harta yang tak akan habis. Janganlah serakah, karena ia adalah kefakiran yang terus hadir.
Namun janganlah berputus asa, jika kamu tidak berputus asa maka Allah akan memberimu kecukupan".
Aktsam bin Shaify berkata kepada anaknya, "Wahai anakku siapa yang tidak putus asa terhadap apa yang terjadi maka bugarlah badannya, dan siapa meresa rela dengan apa yang diperoleh tenanglah hatinya".
Sifat qana'ah bukanlah maksudnya pesimis dalam hidup dan masa bodoh dengan apa yang belum tercapai.
Qana'ah bukanlah sifat yang menghalangi orang bekerja.
Tapi qana'ah tidak lain adalah sikap batin terhadap usaha maksimal yang telah dilalui dalam mencari kehidupan.
Dengan qana'ah, rasa dengki kepada orang lain menjadi hilang terganti dengan rasa kasih dan sayang. Dengan qana'ah stres kita hilang terganti dengan kepuasan batin dan rasa syukur.
Puasa yang kita lakukan sebagai madrsah dalam membina mental kita untuk tidak hidup tamak dan kikir diharapkan membentuk kepribadian yang qana'ah.
Dengan qana'ah jiwa tidak akan pernah mengalami stres, dengan qana'ah hidup selalu menjadi damai dan indah. (*)
Dr Muammar Bakry Lc, MA (Dosen UIN Alauddin Makassar)