Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Pemilik Handphone Masuk Neraka

HP masuk surga sementara pemilik HP atau penggunanya masuk neraka. Vitur azan di HP mengajak salat namun si pemilik HP tidak salat.

Tayang:
Editor: Aldy

Handphone (HP) di era sekarang telah menjadi kebutuhan pokok. HP menjadi alat komunikasi yang mengglobal dan dapat digunakan kapan saja dam di wilayah mana saja tercapai signal. Anak-anak, remaja, dewasa, semuanya dapat tayangan menikmati fasilitas melalui vitur-vitur HP. Di pelosok desa, lebih lagi di kota-kota, penggunaan HP telah menjadi kebutuhan.
Selain dapat digunakan sebagai media dakwah melalui short message service (SMS), HP juga dapat digunakan sebagai sarana internet yang dengannya seseorang dapat bertukar informasi dan berkomunikasi dalam menyampaikan dakwah. HP dianggap sebagai media yang digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan agama dan bila dilihat dari bentuk penyampaiannya, tercakup pula di dalamnya metode dakwah kalām (lisan), dakwah qalam (pena/tulisan) dan selainnya misalnya metode dakwah elektronik dengan menggunakan HP.
Ada beberapa alasan sehingga HP dianggap urgen untuk digunakan sebagai media dakwah.
Pertama, HP sebagai alat elektronik. Kita tahu berbagai fasilitas elektronik seperti televisi dan radio telah digunakan sebagai media dakwah. Setiap subuh-pagi, sebagian stasiun televisi menyiarkan dakwah. Demikian pula radio-radio. Bahkan saat azan tiba berkumandang suara azan di radio dan atau minimal penyiar memberitakan akan masuknya waktu shalat.
Demikian ini merupakan penyampaikan dakwah bagi khalayak. Tentu saja penggunaan HP dapat pula dijadikan sebagai media dakwah sebagaimana televisi dan radio tadi.
Kedua, dakwah dalam artian menyeru, memanggil, dan mengajak, dapat diupayakan dengan berbagai cara, termasuk dengan menggunakan HP dapat dilakukan, baik dengan cara menelpon langsung atau dengan menggunakan SMS. Lebih dari itu, dakwah dalam pengertian terminologis yakni al-amru bi al-ma’rūf wa al-nahyu ‘an munkar (mengajak berbuat baik dan mencegah perbuatan tercela) berdasarkan ajaran agama (Islam), dapat pula dilakukan dengan menggunakan HP.
Ketiga, media elektronik dengan pengertian alat yang menghubungkan dengan perangkat komunikasi di antara dua pihak dan sebagai alat jalur dari semua sumber di mana berita disiarkan, termasuk HP telah memasyarakat. Namun prekuensi penggunaannya dalam kegiatan dakwah kelihatannya belum memasyarakat, sehingga HP tersebut memiliki arti penting sebagai media dakwah yang dapat dijadikan sebagai alat penghubung untuk tersampainya dakwah di antara dua pihak yang berinteraksi.
Media Dakwah
HP sebagai media dakwah tidak terpaku pada penyampaian pesan-pesan agama lewat komunikasi lisan (dakwah bil lisan). Tetapi dimungkinkan melalui SMS yang identik dengan dakwah melalui tulisan (dakwah bil kitābah). Untuk yang terakhir ini yakni melalui SMS, juga dapat menghemat biaya ketimbang dengan cara menelpon langsung (dialog interaktif) kepada mad’ū, atau sasaran dakwah.
Memang dalam satu sisi, barangkali saja strategi dakwah dengan penggunaan HP sebagai media dakwah seperti yang telah disebutkan, menjadi kurang personal. Karena antara dai dan mad’u tidak bertemu langsung. Namun di sisi lain justeru modelnya profesional karena era kontemporer dewasa ini ‘memaksa’ dunia dakwah untuk meyelesaikan persoalan-persoalan dalam bentuk demikian.
Aktualiasi dakwah melalui HP pada era kontemporer, haruslah sejalan dengan esensi dakwah itu sendiri dan bisa dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
Pertama, menelpon langsung, yakni menyampaikan pesan dakwah dengan berkomunikasi lisan (bil kalam). Tentu saja dalam aktualisasinya harus dimulai dengan ucapan Assalamu Alaikum …, bukan dengan kata “halo” dan atau kata lainnya yang keluar dari esensi dakwah. Setelah itu, diadakanlah komunikasi dengan cara bijak (bil hikmah wa mau’zah al-hasanah), sehingga lawan bicara terasa tersentuh dengan dakwah yang disampaikan.
Kedua, melalui SMS, yakni menyampaikan pesan dakwah secara tulisan sebagai pengembangan dakwah bil qalam. Sama dengan cara menelpon tadi, maka melalui SMS dimulai dengan kalimat salam dan menyampaikan pesan dakwah. Perlu diperhatikan, bahwa dakwah melalui SMS harus menggunakan kalimat yang singkat dan padat, dan mudah dimengerti, sehingga obyek dakwah lebih muda memahami isi dakwah melalui SMS tersebut.
Ketiga, melalui faximile, email, dan atau selainnya bila HP yang digunakan memiliki pasilitas yang demikian. Untuk cara ini, materi dakwah dapat dikemas dengan bahasa yang utuh (tidak singkat), dan hasilnya dapat di-print out oleh sasaran dakwah sehingga memudahkan untuk dicerna ulang.
Aktualiasi dakwah dengan cara-cara di atas, memiliki prospek yang lebih baik karena HP sebagaimana yang telah dikatakan, telah menjadi kebutuhan masyarakat secara umum di era kontemporer. Sehingga dakwah tersebut dapat tersalurkan ke khalayak tanpa dibatasi ruang dan waktu yang dalam bahasa Al-Qur’an diistilahkan mi kulli fajjin amiq karena era ini.
Dari segi ini, maka aktualiasi dakwah melalui HP memiliki manfaat untuk kepentingan dakwah. Namun tentu juga memiliki mudharat bila HP dengan berbagai viturnya disalahgunakan. HP masuk surga sementara pemilik HP atau penggunanya masuk neraka. Vitur azan di HP mengajak salat namun si pemilik HP tidak salat. Demikian pula nada dering HP mengaji atau berzikir, namun pemilik HP enggan mengaji dan berzikir. HPnya masuk surga, pemiliknya masuk neraka. (*)

Oleh;
Mahmud Suyuti
Sekretaris Jenderal (Sekjend) Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassariy

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved