Airmata Arung Palakka
Betapa seorang Arung Palakka yang sudah kadung dikenal sebagai anti Gowa justru tiba-tiba berubah sikap ketika mendengar kematian Karaeng Galesong.
ADA yang tercecer dari kematian Karaeng Galesong 21 Oktober 1679 di Tanah Jawa. Yang tersisa itu bukan karena kematian yang dua versi. Antara gugur dalam perang melawan Belanda dan karena berhasil dibujuk Karaeng Naba, Panglima Lasykar Daeng di Jogja, yang menyebabkan dia berhenti membantu Trunojoyo, dan Trunojoyo pun memenggalnya. Bukan?
Beberapa hari silam, saya bertemu dengan Prof Dr H Aminuddin Salle SH MH salah seorang keturunan langsung Karaeng Galesong di kediamannya di Kompleks Perumahan Dosen Unhas Tamalanrea.
Dalam bincang-bincang seputar I Manindori Kareng Tojeng, Karaeng Galesong, terungkap satu informasi yang baru saya ketahui.
Ketika mendengar Karaeng Galesong gugur dalam pertempuran membantu Trunojoyo di Jawa, Arung Palakka, yang lahir di Mario Riwawo Soppeng, 15 September 1634, dan menjadi Raja Bone, antara tahun 1672-1696, mencucurkan airmata. Kerabat Karaeng Galesong yang menyaksikan perubahan situasi Arung Palakka yang meninggal 6 April 1696 di Bontoala Gowa dan dimakamkan di Bontobiraeng itu, bertanya. "Mengapa Arung Palakka mencucurkan airmata dengan kematian Karaeng Galesong?''
"Saya sebenarnya ingin menangkap dia hidup-hidup!'' sahut Arung Palakka.
"Apa yang ingin Arung lakukan dengan caranya itu? Apakah mau membalas dendam?''
"Tidak. Saya ingin mendudukkan dia sebagai `Sombayya ri Gowa'. Sebab, dia orang cerdas dan memiliki karakter kepemimpinan. Hanya dia yang dapat mempersatukan Gowa, Bone, dan Soppeng,'' Arung Palakka menjelaskan.
Peristiwa kematian Karaeng Galesong dan dimakamkan di Ngantang, tidak jauh dari Batu Malang dan air mata Arung Palakka tersebut kita coba `usung' ke kekinian. Betapa seorang Arung Palakka yang sudah kadung dikenal sebagai anti Gowa justru tiba-tiba berubah sikap ketika mendengar kematian Karaeng Galesong.
Arung Palakka terpaksa melawan Gowa, karena dihasut Belanda dengan politik devide et impera (membagi dan menguasai)-nya yang tersohor itu.
Dengan cara itulah Belanda dapat bertahan begitu lama, 350 tahun, menjajah Indonesia. Pertanyaan kemudian muncul, mengapa Belanda bisa bertahan se-lama itu. Jawabannya, karena bangsa yang kemudian bernama dan hidup di tanah air yang bernama Indonesia ini, sulit dan tidak mau bersatu. Daerah melawan penjajah sendiri-sendiri. Ketika penjajah merasa kewalahan, politik `'membagi dan menguasai' pun diterapkan. Kerajaan-kerajaan di Indonesia pun bercerai berai dan saling gasak. Begitulah Gowa dengan Bone saling gesek sebelum Perjanjian Bungaya diteken 18 November 1667.
Pascaperjanjian itu, Karaeng Galesong membuka lembaran baru petualangannya. Dia hengkang ke Jawa. Sebenarnya di kalangan keluarga, Karaeng Galesong tidak pernah menyebut akan ke Jawa. Dia memberitahu ke Marege, wilayah utara Australia, yang kerap disambangi para nelayan pencari teripang dari Sulawesi Selatan pada abad XVII. Juga, wilayah Dili di Timor Leste (sekarang) dan Marege masih termasuk wilayah kekuasaan Gowa pada masa itu. Alasan Karaeng Galesong, jika menyebut ke Marege, Australia, Belanda yang sudah bertempur melawan Gowa tidak perlu khawatir akan kekuatan Karaeng Galesong. Tokh dia mengungsi jauh dari daratan Celebes.
Taktik dan trik Karaeng Galesong itu merupakan salah satu wujud kecerdasannya sebagai pejuang ulung. Jika dia menyebut ke Jawa, jelas dalam pelayaran, perahu dan armada yang disertai ratusan pejuang Gowa itu akan dihadang di tengah laut oleh armada perang Belanda yang tentu saja persenjataannya lebih modern.
Untuk mengelabui Belanda, Karaeng Galesong selain mengumumkan akan ke Marege, juga dalam perjalanannya ke Jawa, tidak langsung menuju pulau itu. Dia bersama pendampingnya berlayar menuju Bima. Langit memerah ketika armada Karaeng Galesong melintas dan menjauhi kapal-kapal VOC yang meronda di Laut Flores.
Armada yang disertai Daeng Jallo dan Daeng Bambang sebagai pengawal juga melaju cepat terus ke selatan. Gunung Sangiang yang tegak di sebelah utara Pulau Sumbawa sebelum timur menjulang tinggi. Di antara gunung yang masih aktif ini dengan Pantai Wera di Pulau Sumbawa ada alur laut yang disebut Gili Banta. Di sini banyak nelayan pencari ikan menyinggahkan perahu mereka.
Tujuan mereka adalah hendak masuk ke Teluk Bima yang terlindung dari intaian kapal-kapal VOC. Tetapi bisa juga bakal terkepung, jika diketahui. Sebab, teluk itu memiliki satu pintu masuk yang bernama `'asa kota'' (mulut kota) yang antara kedua sisinya (timur dan barat) memiliki lebar 2 atau 3 mil.
Kisah petualangan Karaeng Galesong ini dapat disimak di dalam buku karangan Mappajarungi Manan berjudul Karaeng Galesong sang Penakluk Mataram (2014) yang diluncurkan di Balla Lompoa Galesong, 26 November 2014.(*)
Oleh;
M Dahlan Abubakar
Wartawan Senior