Diskusi Tribun Timur
Kasus Sapi Hidupkan Jargon Cak Nur
Kasus Sapi Hidupkan Jargon Cak Nur
Penulis: Jumadi Mappanganro | Editor: Imam Wahyudi
Kasus penetapan sebagai tersangka kasus korupsi impor sapi dialami mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq baru-baru ini mencuatkan kembali pernyataan kontroversi Cak Nur tersebut.
Ini karena keberadaan partai politik Islam masa kini
dinilai hanya menjadikan Islam sebagai aksesoris. Namun gagal
menginternalisasikan nilai-nilai Islam ke dalam perilaku kader dan sikap
partai politik.
Hal inilah antara lain yang mengemuka pada Diskusi Kebangsaan:
Partai Islam dan Korupsi yang digelar Badko HMI Sulselbar di kantor
Tribun Timur, Jl Cenderawasih No 430, Makassar, Senin (11/2/2013). Diskusi
ini dihadiri sekitar 20-an peserta. Di antaranya akademisi UIN Alauddin
Dr Sabri AR, aktivis NGO Asmin Amin, Ketua KNPI Sulsel Jamaluddin M
Syamsir, akademisi Universitas Muhammadiyah Makassar Arqam Azikin, Bahtiar Maddatuang, dan Ketua Badko HMI Sulselbar Surahman.
“Yang menjadi problem adalah ketika ada oknum kader partai Islam
yang korupsi ini menjadi beban umat Islam. Saat ini sulit untuk tidak
mengatakan bahwa banyak partai yang dikesankan sebagai partai Islam
gagal mentransformasi teologis ke ideologi partai. Dogma terhadap
nilai-nilai Islam yang tidak tertanam di partai Islam,” ulas Sabri.
Terkait kasus yang menimpa mantan Lutfhi, Arqam memprediksi akan
makin banyak orang yang bakal anti dengan partai-partai yang dikesankan
dengan agama, termasuk partai yang diidentikan dengan Islam.
“Ini pekerjaan berat bagi partai-partai yang diidentikkan dengan Islam pada Pemilu Legislatif 2014 mendatang,” ujar Arqam.
Pada diskusi ini, Jamaluddin yang juga mantan aktivis HMI ini memaparkan bahwa untuk memberantas
korupsi seharusnya dilakukan secara sistematis termasuk mendesak aktivis
Islam untuk mengadakan pembuktian terbalik dalam hukum positif yang
berlaku di Indonesia.