Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Investasi

Lutim Persilakan Perusahaan Asing Kelola Nikel di Inco

Lutim Persilakan Perusahaan Asing Kelola Nikel di Inco

Editor: Muh. Irham
MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Pemerintah Kabupaten Luwu Timur mempersilakan perusahaan asing mengelola sumber daya mineral berupa nikel di kawasan PT Inco.
     
"Kita membuka luas kesempatan pengelolaan itu kepada investor lain, sebab PT Inco baru mengelola sekitar 7.000 hektare lahannya, dari luas potensi nikel Luwu sekitar 118 ribu hektare," kata Bupati Luwu Hatta Marakarma, di Makassar, Kamis.
     
Ia mengatakan hingga saat ini sudah ada dua perusahaan asing asal China, selain PT Inco yang telah melakukan penambangan dan mengeksplorasi hasil sumber daya mineral nikel tersebut.
     
Menurut dia, kemajuan dua investor asal China yang melakukan eksplorasi cukup baik jika dibandingkan dengan hanya menunggu kontribusi dari PT Inco.
     
Sebab, kata dia, hampir tiap bulan eksplorasi tambang kedua perusahaan ini rutin mengirim hasil tambangnya ke Cina.
     
Ia memproyeksikan kegiatan kedua perusahaan tersebut akan lebih berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat Luwu, karena mempekerjakan warga lokal.
     
Hanya saja, menurut dia, kedua investor tersebut belum memiliki pabrik seperti PT Inco dan keduanya hanya melakukan aktivitas penggalian saja. Karena itu pemkab mendorong kedua investor ini segera membangun pabrik.
     
"Hasil negosiasi pabrik mereka akan terbangun sekitar 2014 mendatang. Luas daerah tambang dua perusahaan ini sekitar 5.000 hektare dan kedepan akan bertambah setelah mereka membangun pubrik," katanya.
     
Ia menambahkan, kedepannya, pemkab akan terus menerima investasi baru dari perusahaan mana saja. Monopoli pengelolaan sumber tambang di Luwu dinilai kurang baik bagi pertumbuhan ekonomi daerah.
     
Sebab pemerintah seolah-olah sangat bergantung pada satu perusahaan saja. Jika jumlah perusahaan yang masuk lebih besar maka daerah ini akan tumbuh lebih pesat dari kondisi sekarang.
     
Menanggapi masalah konservasi dan rehabilitasi kawasan pasca penambangan, dirinya menuturkan tengah diteliti oleh pemda.
     
Kawasan ini tidak dapat dikelolah lagi setelah dieksploitasi. Biaya produksi pertanian bisa meningkat sekitar 200 persen jika kawasan itu ditanami tanaman komoditas.(*)
Sumber:
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved