RILIS
Kementan Dorong Magelang Jadi Sentra Pembibitan Sawo Raksasa, Alpukat Kendil dan Klengkeng Kateki
Kementerian Pertanian ( Kementan) RI terus berupaya meningkatkan produksi buah-buahan lokal, yang tidak hanya dikonsumsi dalam negeri
TRIBUN-TIMUR.COM - Kementerian Pertanian ( Kementan) RI terus berupaya meningkatkan produksi buah-buahan lokal, yang tidak hanya dikonsumsi dalam negeri, namun hingga diekspor.
Salah satu upaya yang dilakukan yakni mendorong perkembangan sentra pembibitan di berbagai daerah.
Salah satu daerah sentra pembibitan yang menjadi perhatian Kementan yakni Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Di daerah ini tepatnya di Dusun Teki, Desa Kebonrejo, Kecamatan Salaman, terdapat sentra pembibitan sawo raksasa atau disebut Mamey Sapote asal Meksiko dan klengkeng keteki. Kemudian Dusun Brengkel 1, Desa Brengkel Kecamatan Salaman merupakan sentra pembibitan alpukat.
"Bibit buah di daerah ini merupakan bibit unggul. Bibitnya tersedia kapan saja dan jumlahnya banyak. Buah yang dihasilkan berkualitas sangat bagus," demikian dikatakan Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Suwandi saat meninjau sentra pembibitan di Magelang, Kamis (18/4/2019), dalam siaran pers Kementerian Pertanian.
Akan hal ini, Suwandi optimis dengan berkembangnya sentra pembibitan seperti ini, produksi buah lokal semakin meningkat dan kualitasnya pun semakin meningkat.
Dengan demikian, buah lokal semakin mendominasi pasar domestik dan ekspor.
Upaya pemerintah guna menekan impor melalui substitusi pun optimis bisa dilakukan lebih cepat.
"Bagi petani di seluruh Indonesia, bisa datang belajar ke Magelang belajar pembibitan. Bagi yang mau beli, silahkan datang juga ke Magelang. Kita majukan budidaya buah lokal. Kualitas buah kita jauh lebih bagus," ujarnya.
Saat mendampingi kunjungan Dirjen Hortikultura ini, pengelolaan pembibitan sawo, alpukat dan klengkeng, Mugiyanto menuturkan jenis sawo raksasa mamey sapote yang dikembangkan antara lain magana, loreta, havana, dan qiwes.
Berat sawo raksasa bisa di atas 2 kg per buah yang rasanya mirip ubi Cilembu.
"Sawo raksasa sudah dikembangkan 5 tahun. Sepanjang waktu berbuah terus, tidak mengenal musim. Buahnya dari kembang sampai bisa dipanen (konsumsi) kurang lebih 9 bulan," tuturnya.
Di Dusun Teki, Desa Kebonrejo ini Mugiyanto pun melakukan pembibitan klengkeng.
Klengkengnya mencapai 30 jenis, di antaranya klengkeng kateki, itoh, mata lada, dan merah yang produksinya setiap tahun mencapai 130 ribu batang.
Teknik persilangan atau perbanyakan bibit klengkeng yang dilakukan ada 4 teknik, yakni sambung sisip, tempel mata, sambung pucuk, dan sambung susu.