Tiga Mahasiswa Unhas Ubah Alga Laut Takalar Jadi Penghemat BBM

Ketiganya menemukan bahwa saat ini Indonesia menghadapi masalah penting bagi perkembangan dunia industri

Tiga Mahasiswa Unhas Ubah Alga Laut Takalar Jadi Penghemat BBM
HANDOVER
Nurfadillah, Winda Lestari Taufan dan Muhammad Syahdan Aska 

Laporan Wartawan Tribun Timur Munawwarah Ahmad

TRIBUN-TIMUR.COM,MAKASSAR- Tiga mahasiswa departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) berhasil menemukan solusi untuk mengatasi masalah krisis energi di Indonesia.

Mereka adalah Nurfadillah, Winda Lestari Taufan dan Muhammad Syahdan Aska. Ketiganya berhasil membuat alat pro bandel alat curi untuk memproduksi Biotanol dari Alga Laut Kappaphycus Alvarezii untuk mengatasi krisis energi di Indonesia.

Dalam penelitiannya, ketiga menemukan bahwa saat ini Indonesia menghadapi masalah penting bagi perkembangan dunia industri. Salah satunya adalah krisis energi yang harus diselesaikan.

"Hal ini disebabkan karena kebutuhan bahan bakar di Indonesia terus meningkat dan eksploitasi berkelanjutan atas bahas bakar fosil yang merupakan energy yang tidak dapat diperbaharui. Sehingga, perlu untuk menghasilkan bahan baku minyak yang dapat diperbaharui,"kata Nurfadilah, Jumat (22/6/2018).

Ia menjelaskan, berdasarkan sumber SKK MIGAS tahun 2005, kebutuhan bahan bakar minyak mencapai 1.5 juta barrel. Sementara, produksinya hanya mencapai 800 ribu barrel. Hal ini berate Indonesia hanya menghasilkan 54 persen dan 46 persen harus diimpor dari luar negeri. Berbagai pihak telah mencari solusi alternatif dari bahan pangan seperti jagung, singkong dan gandum.

"Jika hal tersebut dilakukan secara terus-menerus maka akan terjadi persaingan antara bahan pangan dan kebutuhan energy. Oleh karena itu alternative tersebut tidak efektif untuk menghasilkan bioetanol dan biodiesel,"tambah Nurfadilah.

Oleh karena keprihatinan tersebut, ketiganya melakukan penelitian yang bahan bakunya merupakan Alga Laut Kappaphycus alvarezii Pantai Punaga, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar

Alga tersebut digunakan karena kandungan karbohidratnya mencapai 65.8% setara dengan dua kali lipat dari kandungan karbohidrat bahan pangan yang sering digunakan seperti jagung dan singkong.

"Selain itu, Sulawesi selatan juga merupakan penghasil alga laut terbesar di Indonesia dan produksi K. alvarezii sebesar 2.17 juta ton/tahun yang merupakan jumah produksi terbesar dibanding jenis alga laut lainnya seperti Gracillria sp. Dan Euchema spinosum,"tambah Nurfadilah.

Untuk metode penelitian ini adalah hidrolisis ezimatik dan fermentasi. Enzim yang digunakan adalah enzim alfa-amilase. Enzim ini sangat mudah didaptkan dengan biaya yang cukup murah yakni seharga Rp. 50.000/100 mL.

Sedangangkan yeast yang digunakan dalam proses fermentasi adalah Pichia kudriavzevii yang didapatkan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) seharga Rp. 100.000/isolate dengan penambahan nutris anorganik berupa pupuk Gandasil D® seharga Rp. 5.000/bks.

Kedua metode ini juga ramah lingkungan karena tidak mengakibatkan korosif pada alat2 lainnya seperti hidrolisis asam.

"Bioetanol dan biodiesel merupakan hasil yang diharapkan mampu mengatasi permasalahan krisis bahan bakar minyak akibat meningkatnya kebutuhan masyarakat sementara bahan bakunya terbatas,"katanya.(*)

Penulis: Munawwarah Ahmad
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved