Dugaan Korupsi APBD Sulbar

Mantan Ketua DPRD Sulbar Jalani Sidang Kedua, JPU Hadirkan 2 Saksi

Persidangan kedua ini dengan agenda pemeriksaan saksi ini digelar setelah terdakwa tidak mengajukan eksepsi

Mantan Ketua DPRD Sulbar Jalani Sidang Kedua, JPU Hadirkan 2 Saksi
TRIBUN TIMUR/NURHADI
Persidangan Mantan Ketua DPRD Sulbar, Andi Mappangara, terdakwa dugaan korupsi penyalagunaan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Sulbar 2016, telah memasuki tahap pemeriksaan saksi, di Pengadilan Tipikor Mamuju, Jl AP Pettarani, Kelurahan Binanga, Rabu (2/4/2018). 

Laporan Wartawan TribunSulbar.com, Nurhadi

TRIBUNSULBAR.COM, MAMUJU - Persidangan Mantan Ketua DPRD Sulbar, Andi Mappangara, terdakwa dugaan korupsi penyalagunaan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Sulbar 2016, telah memasuki tahap pemeriksaan saksi, di Pengadilan Tipikor Mamuju, Jl AP Pettarani, Kelurahan Binanga, Rabu (2/4/2018).

Persidangan kedua ini dengan agenda pemeriksaan saksi ini digelar setelah terdakwa tidak mengajukan eksepsi atau jawaban atas dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada sidang pertama, pekan lalu.

Pada persidangan ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan dua orang saksi. Pertama Ikhsan Ashar selaku Pejabata Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) atau Kepala Seksi (Kasi) Pantai, Sungai dan Muara, Bidang PSDA, Dinas PUPR Pemprov Sulbar.

Saksi kedua adalah Nur Asiah selaku Direksi CV Karya Jaya Eletrik yang telah meminjamkan perusahaan kepada seorang bernama Yusuf untuk melaksanakan perkerjaan pembangunan TPO di Desa Kulasi tersebut.

Dalam persidangan, saksi Iksan Ashar mengaku hanya melakukan pengawasan terhadap dua peket pekerjaan, masing-masing Tanggul Penahan Ombak (TPO) di Desa Kulasi, Kecamatan Tubo Sendana, Majene dengan nilai pengerjaan Rp 165 Juta yang dikerjakan CV Karya Jaya Eletrik.

Kemudian Talud di Dusun Saleppa, Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, dengan nilai pengerjaan Rp 166,3 Juta yang dikerjakan CV Armada Jaya.

"Khusus dalam perkara ini saya hanya mengawasi dua paket pekerjaan, karena memang ini yang masuk dalam bidang saya,"kata Ikhsan di depan hakim.

Dalam proses pemeriksaan, saksi Ikhsan mengaku banyak lupa mengenai paket pekerjaan yang telah diawasi, ia mengaku siapa yang melakukan pengerjaan proyek tersebut.

Namun, diakui bahwa pekerjaan yang diawasi itu merupakan aspirasi atau pokok pikiran dari pimpinan DPDR bersadarkan yang disampaikan kepala Bidang PSDA Rahmat Barawaja kepadanya.

Saksi kedua Nur Asiah mengaku, hanya meminjamkan perusahaanya kepada seseorang yang juga bernama Yusuf untuk melaksanakan pekerjaan TPO di Kulasi. Ia juga mengaku tidak banyak tahu soal pekerjaan tersebut.

Nur Asiah baru mengetahui bahwa pekerjaan tersebut merupakan aspirasi Andi Mappangara, setelah memenuhi panggilan pemeriksaan di Kejati Sulselbar beberapa waktu lalu.

"Baru saya tahu kalau ini aspirasi Andi Mappangara setelah ada panggilan dari Kejati karena disampaikan saudara Yusuf kepada saya, tapi sebelumnya saya tidak tahu,"ujarnya di depan hakim.

Sementara terdakwa Andi Mappangara, mengaku tidak pernah kenal dengan Yusuf yang yang disebutkan saksi sebagai penghubung pelaksanaan pekerjaan dalam persidangan itu.

"Saya tidak tahu menahu yang mulia mengenai keterangan saksi, dan saya juga tidak pernah kenal dengan orang bernama Yusuf,"singkat Mappangara sebelum hakim menutup sidang.  (*)

Penulis: Nurhadi
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help