Home »

Opini

OPINI: Pertarungan di Arena Tak Sehat

Sudah resmi maju lewat perseorangan, masih juga ada parpol merengek dan menempel ke pasangan jalur perseorangan

OPINI: Pertarungan di Arena Tak Sehat
TRIBUN TIMUR/ABDUL AZIS
Guru Besar Universitas Ismam Negeri (UIN) Alauddin Makassar Prof Dr Qasim Mathar 

M Qasim Mathar
Guru Besar UIN Alauddin Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Ssebagai ilmu, seperti semua ilmu pengetahuan lainnya, politik adalah sesuatu yang baik. Politik mengajarkan, misalnya, bagaimana kekuasaan diperoleh dan dikelola dengan baik dan benar. Lalu mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan bagi segenap manusia yang bernaung di bawah dan sekitar kekuasaan itu.

Sayangnya, apa yang baik dan benar menurut ilmu politik, mengalami hal kebalikannya ketika politik dipraktikkan melalui partai politik dan agenda politik, seperti pilkada dan pemilu.

Praktik politik yang tidak selalu bersejalan dengan kebaikan politik dalam ilmu politik, melahirkan kosakata seperti money politics, mahar politik, dan sebagainya yang mengundang rasa muak melihat politik dipraktikkan.

Pilkada tahun ini sudah terasa panasnya jauh sebelum masa pendaftaran para kandidat pada hari-hari ini. Marwah (martabat) partai politik tampak merosot oleh perilaku petinggi dan pengurusnya yang membiarkan partainya persis kue onde-onde murahan yang dijual di kedai kotor di sudut pasar yang kumuh.

Begitu rendahnya kepercayaan kepada parpol, tentu maksudnya ialah petinggi dan pengurusnya, ada calon memutuskan maju lewat jalur perseorangan (independen).

Sudah resmi maju lewat perseorangan, masih juga ada parpol merengek dan menempel ke pasangan jalur perseorangan yang sebelumnya tidak dipercaya oleh pasangan tersebut. Tak malu!

Ada apa pula mengganggu calon yang sudah jadi, dengan isu dan berita yang mematikan langkah calon? Kenapa harus mundur dari serangan isu dan berita yang mematikan, kalau isu dan berita itu adalah bohong?

Atau, benarkah isu dan berita itu? Lalu, kalau benar, kenapa petinggi parpol menangis ramai-ramai. Lha, kebohongan dan kejahatan politik dilawan dengan menangis! Parpol dan tokohnya kehilangan jati diri. Atau, menangis karena malu tak kuasa ditutup?

Politik itu dinamis, kata politisi. Yang dimaksud dinamis ialah: kesetiaan selama ini dibalas dengan kepahitan (ketegaan). Pemimpin yang baik diganggu kebaikannya. Mata terang rakyat pemilih tentang siapa para calon, dikaburkan dengan macam-macam kata-kata kampanye yang menyesatkan.

Halaman
12
Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help