TribunTimur/
Home »

Opini

Waspadalah: Perselisihan Membawa Bencana

Bahkan tak jarang pendirian atau munculnya rumah-rumah ibadah berbandung lurus atau akibat dari perselihan dan perpecahan di antara umat beragama.

Waspadalah: Perselisihan Membawa Bencana

Dalam situasi darurat bencana di negara kita, kita menyaksikan bencana terjadi di mana-mana seperti di Sumatera Utara, di Sulawesi Utara, di Ibu Kota Negara kita, di Jawa Barat, di Jawa Tengah dll, Kiranya dalam diri kita muncul perasaan simpati dan empaty yang menjadikan kita semakin MENJADI SATU bangsa. Lewat Aksi Peduli kita ikut merasakan dan menanggung penderitaan saudara/I kita se-bangsa dan se-tanah air yang mengalami bencana Namun harus diakui pula bahwa pada saat yang sama terjadi ‘bencana’ lain yang membuat keretakan dan perpecahan di anatara kita akibat perbedaan faham dan pandangan dalam berbagai aspek kehidupan kita, khususnya yang terkait dengan faham keagamaan.Fakta Sejarah Adalah suatu fakta yang tidak dapat disembunyikan bahwa hampir semua Umat beragama terlah terpolarisasi dalam berbagai faham keagamaan. Bahkan dalam sejarah setiap Agama Besar kita mengetahui dan menyaksikan terjadinya perpecahan yang tak jarang berakhir dengan kekerasan. Tak jarang kekerasan ini memicu terjadinya peperangan, yang sering disebut perang agama atau perang suci, misalnya ‘perang salib’ atau perang ‘ sahid’. Sebagai sebuah istilah, semestinya tidak perlu ada istilah ‘perang agama’, apalagi perang suci, karena dalam istilah perang agama terkandung dua hal yang sangat kontradiktif. Dalam berperang orang membenarkan kekerasan untuk mencapai tujuan, sedang dalam beragama orang mestinya menghidari kekerasan untuk mencapai tujuan. Istilah agama berasal dari dari bahasa Sansekerta, a artinya tidak, gama artinya kacau. Jadi secara singkat dapat disimpulkan bahwa agama adalah cara dan pandangan hidup yang menolak kekacauan. Menolak kekacauan berarti menolak kekerasan yang menjadi sumber kekacauan. Menolak kekerasan berarti menolak perang, apapun istilahnya. Doa Se-dunia Dengan latar belakang fakta dan pemahaman seperti tersebut di atas ajakan untuk menggalang PERSATUAN dan PERSAUDARAN menjadi sangat relevan dan urgen dalam dunia kita, khususnya sepanjang dan sejauh orang menyebut dirinya beragama. Sebagai orang Kristen kita perlu menyadari bahwa sejak awal Yesus telah mengungkapkan KEPRIHATINAN dan KERINDUAANNYA tentang para pengikutNya. Dalan Yohanes 17 Yesus mengungkapkan dalam doanya betapa pentingnya PERSATUAN di antara para pengikut-pengikutNya, sebagaimana Yesus bersatu dengan BapaNya: Yesus ADA di dalam Bapa dan Bapa ADA di dalam Yesus. Dalan kesadaran dan keyakinan seperti itulah selama tujuh hari berturut-turut, dimulai pada tgl 18 Januaari yang lalu dan berakhir pada tgl 25 Januari diadakanlah Pekan Doa Sedunia untuk menggalang Persatuan di antara seluruh umat Kristiani. Tanggal 18 Januari dipilih untuk menutup Pekan Doa Sedunia untuk memperingati Pertobatan Rasul Paulus yang dikenal sebagai Rasul Segala Bangsa . Sebab berkat karya Pewartaan Rasul Paulus bangsa-bangsa non-Yahudi dengan mudah menerima Inji. Ajaran Baru Terkait dengan ketiga Bacaan pada hari Minggu Biasa III dalam Liturgi Gereja Katoilik kiranya Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen menjadi suatu ‘keharusan’ bagi semua umat Kristen, karena baik nabi Yesaya, Rasul Paulus dan lebih-lebih Tuhan Yesus sudah menegaskan dan memperlihatkan dalam pewartaan mereka, SIKAP dan AJARAN HIDUP BARU yang sangat inklusif dan bersifat universal. Nabi Yesaya yang hidup sekitar abad ke-6 sebelum Kristus menubuatkan bahwa sesungguhnya Keselamatan tidak menjadi milik eksklusif bangsa Yahudi, tetapi semua bangsa manusia yang senantiasa merindukan Tuhan dalam hidupnya. “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar, mereka yang diam di negri kekelaman, atasnya terang telah bersinar” (Yesaya 9,1). Nubuat Yesaya ini terwujud , ketika Yesus meninggalkan Nasaret, lalu menetap di Kaparnaun, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali (bdk Mat 4,13). Yesus meruntuhkan tembok pemisah yaitu faham yang sempit dan kerdil dari bangsaNya, yang menganggap bangsa-bangsa non Yahusi tidak dikasihi Tuhan. Yesus merangkul bangsa-bangsa non-Yahudi untuk menjadi satu ‘keluarga baru’ Allah, yang kemudian disebut sebagai Gereja. Nasihat Pastoral Dalam mengelola/menggembalakan ‘Keluarga Baru’ Allah (Gereja yang benar) Rasul Paulus memberikan nasehat-nasehat Pastoral yang selalu relevan dengan kehidupan Umat Kristiani, yang cenderung terpolarisasi dalam faham-faham keagaman dan pengkultusan figur-figur tertentu. Ia berkata: “Saudara-saudara, aku menasehati kamu, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir. Sebab ……………………………….. bahwa ada perselisihan di antara kamu. Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus. Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus? (Bdk 1Kor 1:10-17). Situasi perpecahan yang mengancam umat Kristen di Korintus pada abad pertama kekristenan masih sering terjadi di tengah-tengah umat Kristen, juga sering menimpa penganut agama lain Contoh konkrit dapat kita lihat di kota Makassar dengan bermunculannya papan reklame yang mempromosikan sejumlah Ibadah dan figur-figur tertentu yang diidolakan rupa-rupanya merupakan buntut dari perselihan dan perpecahan. Bahkan tak jarang pendirian atau munculnya rumah-rumah ibadah berbandung lurus atau akibat dari perselihan dan perpecahan di antara umat beragama. Kiranya fenomena yang tidak sehat dan tidak benar ini dapat dihindari jika semua penganut agama mengedapankan persatuan serbagai komitmen dasar yang tidak bisa ditawar-tawar dalm hidup beragama. Karena itulah tujuan agama (baca Gereja) hadir di atas muka bumi. Kepada saudara-saudaraku yang beragama Kristen marilah kita membangun/mengakui akan adanya Gereja yang benar, sebagai tindak lanjut dari Pekan Doa Sedunia tahun ini sehingga kita semakin bersatu dan bersaudara, bukan berselisih, berseteru yang mengakibatkan terjadinya ‘bencana perpecahan’. Gereja yang benar adalah Gereja yang dirumuskan dan ditetapkan oleh Konsili Nicea-Konstantinopel pada abad IV yang kita temukan dalam Syahadat Para Rasul (baca: Puji Syukur no.2).(*) Oleh; P Wilhelmus Tulak Pr P Paroki Katedral Makassar.

Editor: Aldy
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help