CITIZEN REPORTER
Jelang Pemilu, Malaysia Tanpa Baliho
Laporan: Suardi Bakri, warga Makassar di Kuala Lumpur
Penulis: CitizenReporter | Editor: Ina Maharani
Laporan: Suardi Bakri, warga Makassar di Kuala Lumpur
TRIBUN-TIMUR.COM -- Tidak seperti di Indonesia, biasanya satu tahun sebelum Pemilu baik
pemilihan umum, pemilihan presiden maupun pemilihan kepala daerah,
kota-kota sudah dipenuhi atribut kampanye, billboard, spanduk, baliho
atau bendera dan bahkan foto-foto caleg atau calon presiden/kepala
daerah. Di Malaysia menjelang pemilihan umum yang akan diselenggarakan
April mendatang, kita tidak jumpai alat peraga pemilu seperti yang
disebutkan tadi. Memang di beberapa ruas jalan terlihat bendera-bendera
partai yang berkibar rapi yang didominasi partai berlambang timbangan
(mirip lambang kehakiman di Indonesia), katanya itu partai barisan
nasional (penguasa sekarang). Ada juga bendera yang hanya mirip bendera
Jepang dengan warna yg berbeda, ada bendera yang berlambangkan bulan
sabit saling berhadapan. Uniknya semua bendera tersebut hanya berisi
lambang tanpa nama Partai.
Ada juga didapati baliho kampanye, tapi dipasang rapi pada tiang-tiang
billboard, itupun dipasangnya di higway (tol), dan jumlahnya terbatas
seperti yang ditemui penulis sepanjang Higway Kuala Lumpur-hingga
Propinsi Kedah, maupun dari Kuala Lumpur ke Propinsi Johor. Pada
billboard yang dipasang di sisi jalan (bukan melintang di atas jalan
sebagaimana banyak kita jumpai di Indonesia) juga tidak memunculkan nama
Partai, tetapi pesan-pesan moral seperti inilah keseimbangan, inilah
keamanan, inilah kejayaan, serta produk-produk (kebijakan, penulis) yang
memihak rakyat tertuang dalam billboard yang dipasang oleh partai
penguasan (Barisan Nasional) yang mempunyai tagline Malaysia 1, Mari
Sokong Barisan Malaysia. Billboard yang tersebar tersebut hanya
berisikan satu pesan dengan gambar layaknya iklan produk yg sangat
profesional.
Selain itu sistem demokrasi kita memang berbeda, karena di Malaysia
hanya satu kali saja pemilihan umum. Parlemen yang akan dibubarkan
pertengahan April ini akan dimpin oleh perdana menteri dari partai
pemenang pemilu. Adapun gubernur dan kepala daerah tidak dipilih lagi
oleh rakyat, tapi diangkat oleh Perdana Menteri. Bandingkan di Indonesia
yang setiap tiga hari ada pemilihan dan jalan-jalan atau kota kota
tidak pernah sepi dengan atribut pemilihan. Dengan demikian apakah kita
harus belajar menjalankan pesta demokrsi pada saudara muda Malaysia?
Wallahu Allam...