Budayawan Sulsel ini Ingin Malu 365 Hari
Hingga Selasa (4/9/2012), mantan jurnalis TEMPO biro Makassar ini, sudah mempublish seri ke-120 essai Malu.
Penulis: Thamzil Thahir | Editor: Ridwan Putra
MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM -- Budayawan dan essais Asdar Muis RMS, sejak empat bulan terakhir, tengah diburu deadline harian, menyelesaikan essai Malu.
Hingga Selasa (4/9/2012), mantan jurnalis TEMPO biro Makassar ini, sudah mempublish seri ke-120 essai Malu.
"Saya tambah tertantang mencukupkan 365 Malu, setahun sekalian," kata pendiri kelompok seniman Komunitas Sapi Berbunyi ini, kepada Tribun.
Sejak Mei 2012 lalu, memanfaatkan jejaring sosial Facebook, Asdar setiap hari, menulis dan mempublish essai 5-7 paragrap pengalaman ringan nan kontemplatif kesehariannya.
Temanya terbilang subyektif, familiar, dan amat dekat dengan keseharian pria tambun yang juga mantan wapimred harian Pedoman Rakyat ini.
Ditulis dengan bahasa tutur khas jurnalis, tulisan ini mengalir, dan kerap memaksa pembacanya menghabiskan essai ini.
Ciri pembeda serial Malu, adalah essai ini tak berjudul. To the point, bergaya bahasa lugas, dan faktual.
Asdar mengaku, karena "Malu" dia tetap memelihara dirinya berada dalam suasana dan jurnalistik. "Sebelum salat subuh, saya sudah harus mempostingnya di wall, dan komunitas yang saya follow," katanya.
Seperti yang dipublis di group Facebook, Ruang Apresiasi Seni Budaya, kemarin, Asdar menulis serial Malu (120);
"Malu (120): Makassar menggigil. Subuh baru saja merangkak ke pagi. Bulan hampir penuh bertengger di ufuk barat. Tanpa jaket, kuterjang jalan yang sepi.
Tujuan: menjemput istri yang piket malam di rumah sakit, tempatnya bekerja. Sungguh dingin. Pelukan istri sedikit menghangatkan saat kami menuju pulang.
Pun, aku memilih singgah di perjalanan, membeli makanan untuk sarapan. Tiba di rumah, listrik tiba-tiba padam. Aku mengajak istri dan anak-anak mengasup makan di pintu pagar seraya menyongsong matahari yang terasa melambat terbit. Istri kemudian tergopoh-gopoh ke dapur, menyiapkan makanan untuk
Ibu yang masih dirawat di ruang ICU.
Aku memilih tugas baru, membakar sampah keringku di tanah kosong depan rumah. Ada tumpukan koran. Ada berjilid-jilid laporan. Tugas-tugas mahasiswaku.
Sisa arsip dari bahan penulisan beberapa buku yang sudah rampung. Semua kukumpul, lalu kubakar. Api pun membubung ke angkasa. Dan beberapa saat berlalu, aku tiba-tiba tercekat melihat beberapa arang kertas terbang dan mendarat di atap rumah-rumah tetangga.
Aku panik. Aku takut bila sisa pembakaran itu masih membawa bara. Dan ... aku makin takut karena teringat masa masih duduk di bangku sekolah dasar, pertengahan tahun 70-an. Di sawah dekat pemukiman, aku membakar jerami kering yang masih berdiri.
Kala itu, aku kerap melihat petani membakar jerami sebelum menanam kacang hijau. Tak kusangka, api menjilati jerami secara cepat hingga menyebar. Warga yang panik dan marah, beramai-ramai menyirami api.
Aku yang bingung, memilih lari dan bersembunyi di tepi sungai. Duh, semuanya tiba-tiba membayang secara cepat. Dan seorang tetangga yang melihatku tertegun di dekat kobaran api, segera mendekat lalu mengajariku cara membakar sampah yang baik dan benar. Sungguh, aku hanya tersipu lalu memilih diam di dalam rumah. (Makassar, 4 September 2012)
Sent from BlackBerryr on 3