Senin, 24 November 2014
Tribun Timur
Home » Opini

Paradigma Kecerdasan dan Relevansi Tes Formal

Sabtu, 14 April 2012 21:09 WITA

Paradigma Kecerdasan dan Relevansi Tes Formal
Kecerdasan merupakan salah satu faktor utama yang menentukan sukses gagalnya peserta didik belajar di sekolah. Peserta didik yang mempunyai taraf kecerdasan rendah atau di bawah normal sukar diharapkan berprestasi tinggi. Tetapi tidak ada jaminan bahwa dengan taraf kecerdasan tinggi seseorang secara otomatis akan sukses belajar di sekolah.
    
"Kalian bodoh! Atau dia anak yang bodoh!" Juga ungkapan sejenisnya, masih sering terdengar di telinga kita. Tidak jarang, ungkapan tersebut terlontar dari mulut para pendidik (guru dan orang tua) sebagai bentuk kekecewaan terhadap hasil belajar anak.
Banyak anak yang semasa sekolahnya, dianggap bodoh oleh gurunya. Namun, yang mengherankan ketika anak tersebut telah beranjak dewasa, dan secara kebetulan bertemu kembali dengan gurunya, dia telah menjelma menjadi sosok yang sukses. Sang guru pun berkata, "Wah, saya tidak menyangka dia bisa menjadi seperti itu!"
Lain lagi halnya, dengan orangtua yang kebingungan menghadapi prestasi belajar anaknya karena menurutnya kurang memuaskan, tapi di sisi lain tanpa mereka sangka, anak tersebut mampu menyabet penghargaan pada lomba-lomba yang tidak ada kaitannya dengan prestasi akademiknya. Contohnya saja dalam bidang musik atau olahraga.
Anak yang tidak menonjol dari segi intelektual semakin disepelehkan, fenomena itulah yang terjadi hingga sekarang. Pendidikan selalu dinilai dan dievaluasi hanya pada rana kognitif saja. Anak yang dianggap bodoh, semakin disugesti sebagai orang yang tak bisa apa-apa, gagal dan tak bisa diharapkan. Inilah salah satu pemicu menurunnya motivasi belajar anak.
Padahal keberhasilan prestasi belajar anak merupakan keberhasilan para pendidiknya. Hal tersebut semakin mempertegas, bahwa sebenarnya bukan mereka yang bermasalah, melainkan pendidik yang tidak memahami bagaimana cara mengoptimalkan potensi yang telah ada dalam diri tiap-tiap anak.
Berangkat dari kekeliruan-kekeliruan tersebut, MI (multiple intelligences) hadir dan memberi warna baru dalam dunia kependidikan. Munif Chatib berani melakukan terobosan dalam dunia pendidikan dengan penerapan MIR (Multiple Intelligences Research) dan MIS (Multiple Intelligences System) di Indonesia, dalam karyanya (Sekolahnya Manusia), beliau memaparkan secara jelas mengenai redefenisi kecerdasan.
MI menerapkan sistem the best proses (sekolah manusia) bukan the best input yang selama ini diterapkan sekolah-sekolah pada umumnya. Teori MI atau kecerdasan majemuk yang dicetuskan oleh Howard Gardner ini, mampu mengatasi berbagai persoalan pendidikan termasuk masalah bagaimana mencuatkan potensi yang dimiliki anak. Sehingga, tidak ada lagi anak yang bodoh karena tiap siswa memiliki potensi kecerdasan.
               
Multiple Intelligences

Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa pada dasarnya belajar merupakan proses memanusiakan manusia. Karena itu, hadirnya multiple intelligences sangat tepat, untuk mengubah paradigma kecerdasan dan meluruskan proses belajar yang selama ini telah melenceng dari pemaknaannya.
Multiple intelligences dalam sistemnya, mengarah pada proses yang manusiawi karena ada beberapa paradigma kecerdasan yang diubah oleh Gardner melalui multiple intelligences. Antara lain bahwa kecerdasan tidak dibatasi oleh tes formal, kecerdasan itu multidimensi dan kecerdasan melalui proses Discovering Ability, yakni proses menemukan kemampuan seseorang dengan meyakini.
Setiap orang memiliki kecenderungan jenis kecerdasan tertentu. Ada delapan jenis kecerdasan menurut DR Howard Gardner berdasarkan teori multiple intelligences yakni kecerdasan linguistik, kecerdasan matematis-logis, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan musikal, kecerdasan kinestetis, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal dan kecerdasan naturalis.
Melalui multiple intelligences, para guru dituntut untuk menjadi kreatif dan membuat guru menemui berbagai kejutan-kejutan yang menyenangkan saat mengajar. Begitupun dengan siswa, mereka akan selalu merasakan proses pembelajaran yang menyenangkan, dan terhindar dari rasa jenuh.
Dengan MIR (Multiple Intelligences Research), potensi kecerdasan siswa akan dideteksi, kemudian berusaha untuk dioptimalkan melalui cara-cara kreatif yang disajikan oleh guru. MIR yang merupakan instrument riset yang dapat memberikan deskripsi tentang kecenderungan kecerdasan seseorang.
Gaya belajar siswa dapat dibaca melalui MIR, sehingga guru dapat menyesuaikan gaya mengajarnya dengan gaya belajar siswa, berdasarkan kecenderungan kecerdasan yang dimiliki oleh siswa. MIR juga membantu orang tua dalam menemukan bakat terpendam anaknya.
                                 
Tes Formal
The best process, bukan the best input. Itulah yang selalu ditekankan dalam multiple intelligences. Artinya, sekolah yang menerapkan sistem multiple intelligences, tidak harus melakukan proses seleksi, dengan kata lain tidak menggunakan tes-tes formal untuk menerima siswa. Sekolah yang benar-benar unggul harus menerima berbagai kondisi kognitif siswa (tidak harus menerima siswa yang pandai-pandai).
Banyak sekolah favorit yang menerima siswa melalui proses seleksi, sehingga siswa yang tidak lulus sepertinya tidak memiliki harapan lagi untuk memperoleh pendidikan yang layak, disinilah peran MI kembali terlihat dalam mewujudkan proses memanusiakan manusia sebagaimana hakikat belajar yang sesungguhnya.
Kecerdasan merupakan salah satu faktor utama yang menentukan sukses gagalnya peserta didik belajar di sekolah. Peserta didik yang mempunyai taraf kecerdasan rendah atau di bawah normal sukar diharapkan berprestasi tinggi. Tetapi tidak ada jaminan bahwa dengan taraf kecerdasan tinggi seseorang secara otomatis akan sukses belajar di sekolah.
Berbagi ilmu dari Profesor Gardner yang telah menemukan teori kecerdasan majemuk atau Multiple Intelligences, bahwa ada banyak kecerdasan yang dimiliki setiap orang. Teori ini juga menekankan pentingnya "model" atau teladan yang sudah berhasil mengembangkan salah satu kecerdasan hingga puncak.
Dalam buku konsep dan makna pembelajaran (Sagala, 2005 : 84) memaparkan 8 kecerdasan yaitu kecerdasan verbal/bahasa, kecerdasan logika/matematika, kecerdasan spasial/visual, kecerdasan tubuh/kinestetik, kecerdasan musical/ritmik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan spiritual.
Multiple intelligences juga memberikan gambaran sesuai dengan paradigma kecerdasan yang dibawanya, yakni kecerdasan tidak mungkin dibatasi oleh indikator-indikator pada tes formal. Berdasarkan penelitian, menunjukkan bahwa kecerdasan seseorang itu selalu berkembang (dinamis), tidak statis.
Contohnya saja pada pemaparan awal, seorang guru yang heran melihat siswa yang dulunya memiliki hasil tes formal yang terbilang rendah dan dianggap bodoh, mampu menjadi orang yang sukses. Hal ini membuktikan bahwa tes yang telah dilakukan untuk menilai kecerdasan seseorang tersebut.
Sebenarnya hanya menilai kecerdasan pada saat itu, tidak untuk seterusnya, baik dalam hitungan bulan maupun tahun. Karena itu, multiple intelligences system diharapkan mampu membawa dampak yang lebih merata, khususnya dalam dunia pendidikan di Indonesia.***
 
Oleh;
Nur Alfyfadhilah Rusydi
Mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Makassar
Penulis: Aldy
Editor: Aldy
Sumber: Tribun Timur

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas