Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Merekayasa Keuntungan Posisional Makassar

ANGKA dan derajat 8º - 0º 12' lintang selatan, 116º 48' - 122º 36' bujur timur, adalah vektor Kota Makassar di peta rupa bumi.

Tayang:
Penulis: Aldy |
ANGKA dan derajat 8º - 0º 12' lintang selatan, 116º 48' - 122º 36' bujur timur, adalah vektor Kota Makassar di peta rupa bumi.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa secara geografis, Kota Makassar melintang pada koordinat strategis, utamanya dari sisi ekonomi maupun geopolitik.
Dari sisi ekonomi, kota berjuluk Anging Mammiri ini menjadi simpul jasa distribusi yang akan lebih efisien dibandingkan daerah lain. Dari sisi geopolitik, bisa menjadi perekat willayah-wilayah periferal Indonesia di timur yang sedang bertumbuh sesuai karakternya.
Selama ini terkesan bahwa kebijakan pemerintah pusat seolah-olah menempatkan Kota Surabaya sebagai home base pengelolaan produk-produk draft Kawasan Timur Indonesia.  Kota Makassar belum didukung secara optimal.
Padahal, Kota Makassar yang dinamis dan responsif pada trendinamika bisnis kontemporer dunia akan sangat berpengaruh pada peningkatan kesejahteraan masyarakat di kawasan timur Indonesia serta mengakselerasi percepatan pembangunan nasional.
Kehadiran bandar udara internasional dan pelabuhan laut modern adalah manifestasi bahwa Kota Makassar adalah pusat kegiatan ekonomi untuk mendukung aktivitas masuk, transit, serta distribusi barang dan jasa.  
Faktanya, posisi strategis Kota Makassar telah dimanfaatkan dengan adanya indikasi hadirnya berbagai industri di Kota Makssar khususnya karena pertimbangan pasar dan sentra distribusi kawasan timur Indonesaia.
Salah satu contoh adalah masuknya beras impor melalui salah satu pintu pelabuhan di Sulawesi Selatan. Sesuatu yang kontradiktif atas kenyataan bahwa Sulawesi Selatan merupakan penopang ketahanan pangan nasional, namun sekali lagi, kegiatan distribusi beras tersebut ke wilayah Indonesia bagian tengah dan timur telah eksis dan berdampak pada pendapatan daerah.
Terkait posisi Kota Makassar, segala kemungkinan bisa terjadi, ragam bisnis bisa berkembang di sini, walaupun mungkin menjadi tantangan bagi pelaku bisnis lokaluntuk jeli melihat dan membuka peluang.
Rekayasa Aksi
Salah satu kegiatan alternatif investasi yang harusnya dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi regional adalah pariwisata.
Saat ini industri global yang dinilai pertumbuhannya tinggi dan tidak berdampak pada situasi krisis sebuah negara adalah industri parawisata (sesuai informasi dari Word Trade Organization/Organisasi Perdagangan Dunia, WTO) dan sebagaimana penyampaian Menteri Kebudayaan dan Parawisata, bahwa saat ini pemerintah pusat tak lagi fokus untuk mengembangkan pariwisata Pulau Jawa dan Pulau Bali, namun akan lebih berkonsentrasi mengembangkan daerah-daerah lain seperti di Pulau Sulawesi.
Poin dari pernyataan tersebut relevan dengan penetapan dua kawasan strategis yakni kawasan Taman Nasional Taka Bonerate di Kabupaten Selayar dan Kawasan Tana Toraja yang telah masuk ke dalam RIPNAS (Rencana Induk Parawisata Nasional).  
Dengan membaca kecenderungan ini maka kini terbuka peluang untuk menangkap peluang pasar wisata yang sudah mulai diarahkan oleh pemerintah pusat. Namun, sangat disayangkan bahwa peluang tersebut telah ditangkap lebih dini oleh daerah-daerah Indonesia Timur lainnya di antaranya: Sulawesi Utara (Sulut), Sulawesi Tenggara (Sultra), dan Papua Barat yang masing-masing mengandalkan kekuatan wisata baharinya.
Memang, ke tujuan-tujuan favorit tersebut pada akhirnya harus transit di Kota Makassar mengingat letak strategisnya. Pertanyaannya, sudahkah kita manfaatkan keunggulan strategis tersebut untuk mempersuasi pasar agar mau menghabiskan waktunya beberapa saat di Kota Makassar untuk target wisata yang lain?
Bukankah kita punya daerah unggulan wisata yang tidak kalah dengan provinsi yang lain tersebut? Kita punya Pulau Kapoposang yang elok, Taka Bonerate yang memikat? Tana Toraja yang eksotik? Bira yang menawan?  
Sudahkah kita menyiapkan pusat informasi wisata yang mudah diakses oleh tamu yang transit tersebut? Adakah website yang membuat tamu berdecak kagum dan rela berlama-lama di Kota Makassar termasuk pada destinasi unggulan tersebut di atas karena mereka memperoleh informasi yang akurat?
Kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) yang selama ini menjadi identitas Kota Makassar pun sudah cukup menstimulasi pelaku usaha untuk memanfaatkan peluang.
Di antaranya tumbuhnya industri perhotelan dalam rangka memenuhi kebutuhan yang dimaksud. Rasio antara ketersediaan dan permintaan telah berada pada tahap ideal.
Dari dimensi ini, pemanfaatan posisi strategis yang dimaksud telah memberi dampak seperti pada uraian tersebut di atas.
Poin yang ingin ditekankan di sini adalah pentingnyakolaborasi aksi para pemangku bisnis (utamanya industripariwisata) untuk melakukan "rekayasa" agar para tamu mau melakukan perpanjangan kunjungan.
Paling tidak, satu atau dua hari, sebab dengan ini implikasi ekonominya pasti akan sangat kuat. Untuk bisa mewujudkan hal tersebut maka dibutuhkan kebijakan promosi dan pemasaran oleh pemerintah. Sajian informasi tersebut harus dikemas sesuai selera pasar bukan pada selera "birokrasi" semata yang cenderung temporer/sementara.
Sebenarnya, untuk lingkup Sulawesi Selatan (Sulsel), banyak pemangku kepentingan pariwisata yang ingin berkontribusi untuk daerah ini namun ruang itu nyaris tertutup.
Salah satu indikatornya karena hingga saat ini BPPD (Badan Promosi Parawisata Daerah) yang sesuai dengan amanah Undang-Undang No.10 tahun 2007 tentang kepariwisataan belum didirikan. Padahal, forum itu mengisyaratkan untuk disisi oleh profesional pada bidang wisata.
Melihat tren perkembangan wilayah Sulawesi Selatan dan posisi strategi Kota Makassar sebagai hub interaksi ekonomi Indonesia, maka kita tidak boleh lagi berpangku tangan atau sekadar melaksanakan kegiatan rutin tahunan yang menghabiskan anggaran tanpa dampak yang berarti. Pasar tentu harus dipersuasi, harus diyakinkan oleh data dan informasi yang aktual. Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, tidak boleh hanya sekadar tempat transit tapi menjadi pusat penyediaan informasi titik-titik potensial untuk pembangunan daerah.
Jika selama ini, kita hanya melihat elite pemerintahan bercokol di ruang etalase promosi, mengapa tidak mencoba memajang pernik Taka Bonerate (Selayar), Pantai Bira (Bulukumba), Pulau Kapoposang (Kabupaten Pangkajene Kepulauan), Tanjung Pallette (Kabupaten Bone), Permandian Lejja (Kabupaten Soppeng) atau Eremerasa (Kabupaten Bantaeng) hingga Tana Toraja atau destinasi wisata unggulan Sulawesi Selatan lainnya?
Jika ada bahan promosi seperti flyer, brosur atau bahkan monitor sentuh yang bisa diakses oleh tetamu transit tentang informasi destinasi wisata favorit maka bisa jadi mereka mengubah tujuan destinasinya.
Berani coba?

Oleh;
Andi Januar Jaury Dhawis
Ketua Gabungan Pengusaha Wisata Bahari Sulsel

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
Live
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved