Stop Maki Komandan
Banyak orang yang menyangka bahwa fisik dan stamina yang dibutuhkan seorang gubernur tidak perlu sebesar para pesepakbola.
Penulis: Aldy | Editor: Aldy
Bagi sebagian orang judul opini ini tentu memerahkan mata dan telinga. Sementara bagi sebagian orang yang lain, judul opini di atas mungkin justru membuatnya tersenyum.
Saya sendiri berusaha untuk mencoba memposisikan diri di antara kedua kubu, baik yang mata dan telinganya merah maupun kubu yang tersenyum. Atau biar lebih fair, saya mencoba membuat judul kecil yang lain, yakni Tidak perlu semangat baru untuk Sulsel.
Nah, kubu yang tadinya mata dan telinganya memerah, kini mungkin akan berbalik tersenyum. Sementara, kubu yang awalnya tersenyum, kini justru menjadi bingung dan bertanya dengan ketus, maksudnya?
Masyarakat Sulawesi Selatan memang sedang menghitung mundur sampai tanggal 22 Januari 2013 nanti yang telah diputuskan oleh KPU sebagai tanggal pelaksanaan pemilihan gubernur di daerah ini. Masih setahun lebih, namun genderang perang dari para bakal calon yang akan maju telah mulai ditabuh.
Genderangnya tentu masih berupa tetabuhan kecil. Maklum saja, para bakal calon sejatinya belum memiliki bakal calon pendampingnya masing-masing. Jadi, genderang yang sedang ditabuh sebetulnya baru sebatas check sound saja.
Tak heran pula, wajah-wajah incumbent maupun yang semi-incumbent sangat mendominasi berbagai media promosi, mulai dari iklan TV dan radio, iklan media cetak, reklame bando, wallpaper kendaraan sampai pohon yang dipaku sana-sini, hanya menampilkan wajah yang itu-itu saja.
Dengan jumlah penduduk yang telah mencapai angka 8 juta lebih, daerah ini sebetulnya sedang mengalami krisis kepemimpinan. Salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah sistem pemilihan melalui jalur kendaraan partai yang hampir tidak mungkin untuk mengakomodir calon independen, atau mungkin juga daerah ini memang sudah kehabisan calon pemimpin.
Beberapa hari terkahir mulai muncul beberapa nama bakal calon gubernur yang lain. Namun tetap saja kemunculannya masih terkesan malu-malu, kurang pede atau bahkan hanya sebatas test modulation semata.
Tokoh Muda
Parahnya lagi, beberapa orang yang sebetulnya punya kapabilitas untuk ikut bersaing memperebutkan kursi 01 di Sulsel justru menjadi ballorang (penakut) dan lebih memilih bermain aman dengan cara segera bergabung ke tim sukses salah satu bakal calon.
Selain mengalami krisis kepemimpinan, sampai hari ini, Sulsel kini juga sebetulnya sedang mengalami krisis kepemudaan. Hampir tak ada tokoh muda yang muncul dan tampil di pentas nasional, atau minimal di tingkat lokal daerah ini.
Kalau pun ada yang menyebut dirinya sebagai orang muda, biasanya hal tersebut berbanding terbalik dengan data yang tertulis di KTP-nya, atau sebut saja dengan tokoh tua yang mengaku masih muda. Memang tidak ada kesepakatan tentang batas usia seseorang untuk disebut muda, namun setidaknya salah satu indikator usia muda adalah faktor daya tahan fisik dan stamina.
Paling mudah untuk mengidentifikasi tua atau mudanya seseorang dari kerja atau profesi yang berhubungan dengan kedua faktor (fisik dan stamina) tersebut. Seorang pemain bola pasca 30 tahun tentu sudah disebut sebagai pemain tua.
Umumnya mereka pensiun di usia 35 tahun, sebab fisik dan stamina mereka di usia tersebut memang sudah tidak mampu bersaing dengan para pemain muda. Pengalaman dan jam terbang yang tinggi menyebabkan visi bermain para pemain tua tersebut tentu lebih bagus dibanding dengan visi pemain muda.
Namun untuk urusan mengaplikasikan visi dalam bentuk tindakan dalam lapangan, para pemain tua tersebut pasti akan kepayahan. Mereka kemudian secara otomatis akan memilih untuk pensiun lalu mencoba jalur lain seperti wasit, asisten atau pelatih dengan harapan cukuplah visinya diaplikasikan oleh para pemain yang lebih muda.
Lalu bagaimana dengan gubernur? Banyak orang yang menyangka bahwa fisik dan stamina yang dibutuhkan seorang gubernur tidak perlu sebesar para pesepakbola. Padahal dengan basis tanggung jawab 8 juta jiwa lebih dan dengan luas area pemerintahannya 62.482,54 km² yang terdiri dari 24 kota dan kabupaten, seharusnya fisik dan stamina gubernur tak boleh kalah dengan para pesepakbola.
Fisik Kuat
Jika fisik para calon gubernur nanti tidak sebaik para pesepakbola, maka tidak usah heran jika pembangunan di daerah ini nantinya juga akan bergerak selambat gerakan orang-orang yang sudah tua.
Sejak era AA Rivai (1960) hingga era Syahrul Yasin Limpo (saat ini), Sulawesi Selatan telah memiliki 7 orang gubernur dan mantan gubernur, plus 1 orang pejabat gubernur sementara (carateker), yakni Ahmad Tanribali Lamo. Sejak periode awal sampai hari ini, rasanya tak sekalipun daerah ini pernah dipimpin oleh orang yang betul-betul berusia muda.
Silakan mencoba membuka kembali data usia para mantan pemimpin daerah ini. AA Rivai menjabat gubernur di usia menjelang 50 tahun, Ahmad Lamo dilantik menjadi gubernur ketika berusia 45 tahun, Ahmad Amiruddin 51 tahun, Zainal Basri Palaguna 54 tahun, Andi Oddang 50 tahun, Amin Syam 58 tahun, Syahrul Yasin Limpo 53 tahun.
Tak sekalipun daerah ini memiliki pemimpin di bawah usia 40 tahun. Jika dianalogikan sebagai pesepakbola, gubernur-gubernur Sulsel dari dulu hingga saat ini sebetulnya merupakan para jago-jago tua.
Tanpa mengecilkan hasil kinerja para gubernur yang pernah maupun yang masih menjabat saat ini, di usianya yang ke-342 tahun, Sulsel masih termasuk kategori daerah yang lambat dalam urusan akselerasi dan kemajuannya (setidaknya menurut analisa saya). Mungkin ada baiknya mencoba untuk mendorong figur-figur alternatif yang betul-betul berusia muda untuk maju sebagai calon gubernur.
Sudah capek rasanya menyaksikan segala bentuk keruwetan dan kesemrawutan berpemerintahan yang kita alami saat ini. Seharusnya para tetua di daerah ini punya keberanian untuk bersikap bijak lalu berkata Stop Maki Komandan atau biarmi yang semangatnya betul-betul baru, bukan yang seakan-akan semangat baru, agar gubernur kita nantinya betul-betul merupakan figur muda yang fisik dan staminanya memang mampu mengurus daerah dan kita semua. Semoga menjadi renungan bagi kita semua.***
Oleh;
Muh Quraisy Mathar
Dosen UIN Alauddin