Zaman Jahiliyah yang Sesungguhnya
Sungguh hal yang sangat ironis bahwa di negeri yang penduduk Muslimnya terbanyak pertama di dunia ini manusia-manusianya menjadi penyembah kekayaan.
Penulis: Aldy | Editor: Aldy
Belasan abad silam, dalam perjalanan sejarah para nabi dan rasul, di jazirah Arab hidup bebagai golongan umat yang konon tak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk seputar perilaku manusiawi. Perangai mereka buruk, akhlak mereka ambruk.
Mereka enggan mengakui ketauhidan ilahi. Alih-alih menyembah Sang Maha Tunggal sebagai satu-satunya pemberi hidup. Mereka malah berkhidmat pada tuhan-tuhan buatan yang mereka peradakan dengan tangan mereka, yakni patung-patung berhala.
Kaum tersebut kemudian dijuluki kaum jahiliyah. Zaman mereka pun bernama zaman jahiliyah. Sebenarnya, zaman jahiliyah merujuk pada masa-masa kehidupan Nabi Muhammad. Namun kejahiliyahan umat terdahulu sudah terjadi jauh-jauh hari sebelum masa itu tiba.
Karena kerusakan horizontal yang mereka sebabkan, mahluk-makhluk mulia ditugaskan demi meluruskan akal dan hati mereka yang bengkok. Bukan malaikat, apalagi jin, tapi manusia-manusia yang serupa dengan mereka.
Kelak merekalah yang mencatatkan nama dalam sejarah perjuangan manusia melawan kebodohan masing-masing umatnya. Sebagai manusia pembawa pesan dari Yang Maha Gaib kepada mereka yang inkar, tentu saja mereka akan dicemooh dan diperlakukan tidak wajar. Tapi mereka tetap tegar dan tunduk menjalankan tugas risalah.
Negasi dari bodoh (jahil) adalah pintar. Maka sudah semestinya Nabi dan Rasul yang diutus tersebut pandai dan terbebas dari segala bentuk kebodohan. Sudah seharusnya jiwa mereka terawat oleh lisan-lisan Tuhan yang terepresentasi dalam kitab-kitab agama Samawi, kitab-kitab yang menjelaskan rel-rel tindak tanduk manusia beserta rambu-rambunya, di samping penjelasan tentang hakikat segala yang ada. Kebodohan yang sesungguhnya bukan berasal dari ketiadaan akal melainkan karena tidak berfungsinya hati.
Patung vs Uang
Saking bodohnya umat manusia ketika itu, mereka rela menumbalkan kodrat mereka demi pahatan-pahatan patung yang sanggup berucap pun tidak. Tentu saja kita masih ingat bagaimana Nabi Ibrahim menelanjangi ketololan Raja Namrud.
Saat Namrud bersama balatentaranya pergi berburu, Nabi Ibrahim diam-diam masuk ke rumah ibadah Namrud tempat patung-patung berhala berdiri kokoh. Berbekal sebuah kapak, Ibrahim menghancurkan semua patung kecuali tersisa satu yang paling besar.
Kapak itu lalu ia gantungkan di patung tersebut. Akal Ibrahim bakal memperlihatkan kebebalan akal dan ketumpulan hati Namrud. Ketika Namrud kembali dan hendak sembahyang bersama pengikutnya, betapa terperanjatnya Namrud.
Tuhan-tuhan mereka kini bersisa tebasan-tebasan kapak. Siapa lagi pelakunya jika bukan Ibrahim? Demikian kecurigaan Namrud. Hanya dialah yang selama ini berani menentang Namrud.
Singkat cerita, Ibrahim dihadapkan ke pengadilan disaksikan rakyat yang ia pimpin. Ia pun didesak mengakui perbuatannya. Beberapa kali ia membantah: ôbukan aku yang melakukannya tapi patung ituö Dalih Ibrahim sambil menunjuk patung yang ia sisakan.
"Apakah kau sudah gila Ibrahim? Mana mungkin patung yang tidak dapat bergerak sedikitpun itu bisa menghancurkan teman-temannya?" Dengan argumen yang cerdas, ia meyakinkan para pengikut Namrud; "Yang gila aku ataukah engkau? Sudah tahu patung itu tak dapat berbuat apa-apa, tapi mengapa masih engkau sembah?"
Seketika itu Namrud dan pengikutnya menyadari kebodohannya. Namun karena keangkuhannya, ia tetap menutup hati untuk menerima keberadaan dan kebenaran ilahi. Ia memerintahkan bala prajuritnya menyalakan api unggun. Ibrahim pun dilempar masuk ke dalam kobaran. Namun karena invisible hand Rabbani, ia tak terbakar sedikitpun.
Itulah salah satu contoh gambaran kejahiliyahan di zaman Nabi Ibrahim.
Uang Segalanya
Apakah cara ber-Tuhan seperti itu masih ada di tengah-tengah kita? Di Indonesia kita? Jawabannya ya. Bahkan karena sangat dekatnya, keberadaannya sampai-sampai tak terasa merasuk ke dan hidup di dalam bawah sadar kita.
Rasulullah SAW jauh-jauh hari telah meramalkan cara keber-Tuhan-an kita hari ini. Nabi menggambarkan kekafiran umatnya dengan suatu sabda indah: "Akan datang suatu zaman atas manusia. Perut-perut mereka menjadi Tuhan-Tuhan mereka. Perempuan mereka menjadi kiblat mereka. Uang menjadi agama mereka. Kehormatan mereka terletak pada kekayan mereka. Waktu itu, tidak tersisa sedikitpun iman kecuali namanya saja. Tidak tersisa Islam sedikitpun kecuali upacara-upacaranya saja. Masjid mereka makmur dan damai. Tetapi hati mereka kosong dari petunjukNya".
Para sahabat takjub mendengar pembicaraan Nabi itu. Lalu mereka bertanya "Ya Rasulullah, apakah mereka menyembah berhala? Nabi menjawab ya, setiap serpihan dan kepingan uang menjadi berhala mereka".
Dalam konteks mentalitas berbangsa hari ini, setiap lembaran rupiah adalah sembahan. Mereka yang berkuasa menari-nari di atas panggung penderitan rakyatnya. Keringat rakyat dipakai pelesiran ke luar negeri dengan berlindung di balik istilah studi banding.
Uang yang sewajibnya dimanfaatkan untuk kepentingan penyejahteraan rakyat malah diselipkan ke kantong pribadi. DPR lebih memilih merenovasi ruaang Banggar senilai 20,3 triliun, belum lagi perbaikan toilet dan pembuatan lahan parker yang sejatinya tidaklah penting. Tak salah jika sila pertama dari lima dasar negara diplesetkan menjadi "Keuangan yang Maha Esa".
Kebodohan sebagian umat di zaman Nabi lebih disebabkan karena tiadanya petunjuk yang jelas tentang siapa yang paling pantas disembah. Namun usai petunjuk-petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka berramai-ramai bereksodus meninggalkan kebodohan.
Sungguh hal yang sangat ironis bahwa di negeri yang penduduk Muslimnya terbanyak pertama di dunia ini manusia-manusianya menjadi penyembah-penyembah kekayaan. Tengoklah sekitar kita. Kehormatan seseorang didapatkan melalui kekayaan yang mereka tumpuk.
Wibawa diukur dari rumah mewah mereka. Para elit penguasa negeri berlomba memperkaya diri tak peduli rakyat semakin melarat. Semboyan mereka, semakin kaya semakin terhormatlah kita.
Nafsu kekuasaan elit politik belepotan di media massa. Kasus suap Wisma Atlet Palembang telah menyeret beberapa petinggi-petinggi negeri. Mereka berakal bahkan cerdas, namun herannya, mereka justru lebih bodoh dari kaum jahiliyah di zaman nabi, tak peka melihat jerit derita rakyat.
Tak sampai di situ, Rasulullah juga menjelaskan bagaimana situasi alim ulama pada saat itu. "Ulama-ulama mereka menjadi makhluk Allah yang paling buruk di permukaan bumi". Ulama-ulama yang membimbing mereka hanya dihormati pakaiannya saja. Dalam riwayat yang lain, Nabi berkata orang tidak mengenal ulama kecuali karena pakaiannya yang khas. Jika sudah demikian, kata salah seorang cendekiawan Muslim Indonesia, Jalluddin Rakhmat, mereka akan diberi penguasa yang tidak memiliki ilmu, tidak memaafkan rakyatnya, dan tidak mempunyai kasih sayang kepada mereka.
Perilaku penguasa negeri yang digambarkan Kang Jalal ini bisa kita lihat pada perlakuan tidak adil yang diterima wong cilik. Contoh yang masih segar diingatan adalah siswa SMA berinisial AAL yang dipidanakan hanya karena mencuri sandal jepit. Contoh lain, betapa rakyat pemilik lahan di Bima direpresi oleh kekuatan militer yang semestinya melindungi warga setempat.
Para elit penguasa yang menyetir nasib dua alat negara: polisi dan tentara membuat mereka tak punya pilihan lain selain menembaki warga sipil demi lancarnya kongkalikong dengan korporat-korporat asing. Penguasa modal harus dilindungi sampai pun harus mengorbankan warga sipil. Bilamana jatuh korban, tak ada yang berani mengakui kesalahan. Hukum subur untuk penguasa namun impoten bagi orang lemah. Jika disimak baik-baik, keserakahan tersebut implisit pada kata Nabi "Perut-perut mereka menjadi Tuhan-Tuhan mereka". Perut di situ adalah metafora nafsu.***
Oleh;
Andi Syurganda
Mahasiswa Universitas Negeri Makassar