KH Ambo Dalle Manusia Multidimensi

Pengabdiannya yang total dan kepemimpinannya yang adil, lekat di jiwa para murid dan pencintanya.

Pengabdiannya yang total dan kepemimpinannya yang adil, lekat di jiwa para murid dan pencintanya. Akan sulit menemukan figur ulama seperti beliau dalam sepak terjang perjuangannya di dalam menegakkan syiar agama.

Perkembangan agama Islam di Indonesia pada umumnya dan Sulawesi Selatan pada khususnya tidak terlepas dari sepak terjang para tokoh dan ulama dalam menyebarkan nilai-nilai ajaran Islam. Salah satu di antaranya adalah KH Abdurrahman Ambo Dalle yang oleh murid-muridnya dan masyarakat Bugis umumnya, lebih akrab disapa dengan Gurutta Ambo Dalle.
Menurut Nurhayati Djamas (dalam Nasruddin Anshoriy: 2009: xxvii), Gurutta Ambo Dalle merupakan simbol anak zaman. Beliau hidup dalam empat zaman, mulai dari zaman feodal, zaman Belanda, zaman Jepang hingga zaman kemerdekaan yang berhasil mencerdaskan murid-muridnya dan masyarakat luas pada umumnya melalui jalur pendidikan, dakwah dengan kecerdasan intelektual dan kecerdasan sosial yang dimilikinya.
Gurutta, bukan saja ulama. Beliau juga merupakan seorang pendidik dengan kebesaran dan kecerdasan intelektual dan sosial yang luar biasa. Beliau berjuang keras di bidang pendidikan, dan mampu menebarkan kasih sayang kepada segenap umat dengan jalan silaturrahim, serta piawai berjihad dengan indah melalui jalan dakwah untuk mengajak masyarakat segala lapisan ke jalan lurus.
Dengan kebesaran serta kecerdasan intelektual dan sosial yang dimilikinya, Gurutta Ambo Dalle menapaki sejarah kehidupannya dan menyiasati setiap dinamika zaman agar tidak tertelan oleh arus kehidupan.
Pengabdiannya yang total dan kepemimpinannya yang adil, lekat di jiwa para murid dan pencintanya. Akan sulit menemukan figur ulama seperti beliau dalam sepak terjang perjuangannya di dalam menegakkan syiar agama dan meletakkan dasar pondasi yang kokoh untuk menegakkan berdirinya pendidikan pesantren yang kini memiliki jaringan cabang yang sangat luas di nusantara hingga keluar negeri.

Mantan Wapres
Sebagai ulama yang menyimpan kharisma yang dalam, Gurutta KH Abd Rahman Ambo Dalle dikenal dekat dengan semua kalangan, baik santrinya maupun dengan masyarakat dan pemerintah. Kedekatannya dengan semua golongan membuat beliau mempunyai "banyak anak" sebagai anak angkat yang tidak dibedakan dengan anak kandungnya sendiri. Seperti pengakuannya dalam sebuah media, "Bagi saya, semua orang seperti anak sendiri, semua harus diperlakukan secara adil tidak peduli dia anak kandung atau bukan".
Misalnya, Pak Try Sutrisno (mantan wapres) ketika menjabat sebagai Panglima ABRI datang menyerahkan diri sebagai anak kepada beliau. Gurutta pun menerimanya dan menyerahkan sehelai tasbih sebagai bukti dan mengajarkan beberapa doa sekaligus mendoakan. Sejak itu, bila Try Sutrisno ke Sulawesi Selatan, selalu meluangkan waktunya untuk bertemu dengan Gurutta.
Demikian pula beberapa santri yang pernah belajar di Pesantren DDI, khususnya di Mangkoso, Parepare, dan Kaballangan, diperlakukan sama, baik santri laki-laki maupun perempuan. Beliau selalu menaruh rasa cinta dan sayang kepada siapapun yang dianggap memiliki kemampuan belajar tanpa memandang latar belakang keluarga. Sebagai contoh, beliau pernah memberikan sebuah kitab Kifayah al-Akhyar yang ada di tangannya sebagai hadiah kepada santrinya, karena bisa menjawab pertanyaan yang diajukan Gurutta.
Dalam kegiatan kemasyarakatan, Gurutta sangat intens dalam memberikan perhatian dan meluangkan waktunya untuk membahas dan menyelesaikan persoalan-persoalan kemasyarakatan yang ditemui ataupun yang diajukan kepadanya. Namun, dengan segudang kesibukan yang mendera waktunya, Gurutta tak pernah melupakan tugas sehari-hari untuk mengajar di pesantren dan juga kegiatan dakwah yang diembannya hingga sampai ke pelosok-pelosok daerah.

Menciptakan Lagu
Di balik semua kharisma dan keseriusan beliau tersebut yang terpancar dari kegiatan rohani dengan pendalaman spiritual yang menjadi gairah hidupnya sehari-hari, kegiatan fisik juga tidak diabaikannya. Misalnya, Gurutta selalu aktif berolahraga. Olahraga yang paling digemarinya adalah sepak bola. Dalam bidang ini, Gurutta Ambo Dalle terkenal sebagai seorang pemain bola yang andal.
Karena keahliannya dalam menggiring dan mengolah si kulit bundar, rekan-rekannya menjuluki Gurutta sebagai "Si Rusa". Selain itu, sesungguhnya Gurutta juga adalah seorang yang menyimpan jiwa seni yang cukup kuat. Gurutta mampu menjadikan seni sebagai media dakwah dan pendidikan. Orang-orang terdekatnya paham betul akan kemampuan Gurutta dalam melukis, dekorasi, dan menciptakan lagu-lagu yang bernafaskan Islam.
Gurutta Ambo Dalle pernah melukis potret dirinya yang nyaris sama dengan yang asli. Sedangkan untuk lagu-lagu ciptaannya, baik yang berbahasa Arab, Indonesia maupun Bugis telah diciptakan oleh Gurutta. Bahkan, ada lagu yang yang diciptakan beliau yang berbahasa Bugis tetapi berirama mars Jepang, ini dimaksudkan untuk menyiasati penjajah Jepang di tahun 1942.
Saat ini masih tersimpan 15 judul lagi ciptaan gurutta di Pesantren DDI Mangkoso yang seninantiasa dilombakan oleh para santri dalam momen-momen tertentu. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan bila ada yang menilai Gurutta Ambo Dalle adalah manusia multidimensi penembus zaman.
Jalan kebudayaan kerap mewarnai strategi yang digunakan dalam dakwah keagamaan. Strategi ini seringkali membawa implikasi pada munculnya sinkretisme (paham/aliran baru yg merupakan perpaduan dari beberapa paham/aliran yang berbeda untuk mencari keserasian, keseimbangan) kultural-religius yang sekaligus difungsikan sebagai perekat sosial dalam upaya penanaman nilai-nilai agama dalam masyarakat.
Gurutta Ambo Dalle lahir dan dibesarkan di lingkungan masyarakat Bugis yang masih diliputi oleh kesuraman aqidah dan dangkalnya pemahaman tentang ajaran Islam. Sebagian dari mereka pada saat itu masih menganut adat istiadat dan tradisi lokal yang merupakan kepercayaan asli nenek moyang mereka (Nurhayati Djamas, 1998: 1). Kondisi demikian mengundang rasa prihatin dan memunculkan keinginan beliau untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat kembali ke jalan yang benar.
Maka, langkah pertama yang beliau lakukan adalah menempa batinnya dengan olah rohani untuk menjadi pribadi yang matang, mengkaji pelbagai ilmu pengetahuan agama (tasawuf, akidah, syariah, akhlak, balaghah, tafsir, teologi, ilmu hadits, mantik) dan ilmu pengetahuan umum (filsafat, pendidikan, dan psikologi).
Sebagai ulama yang hidup dalam kultur Bugis, Gurutta Ambo Dalle tidak serta merta menggantikan sistem nilai dan tatanan yang telah ada-selama norma adat tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam-akan tetapi mengakomodasikannya ke dalam Islam (proses sinkretisasi). Menurut H Jamaludin, beliau sangat peduli pada akar tradisi yang telah membesarkan Gurutta.
Melalui ceramah dan khutbah-khutbahnya, beliau senantiasa menyesuaikannya dengan konteks zaman dan tetap memelihara adat Bugis (Anshoriy, 2009: 162). Hal ini sesuai dengan moto yang sering diajarkan di pesantren, al-mukhafadhatu ala-alqadimisshalih wa-alakhdu bil jadidi al-aslah' (memelihara yang lama dan mengadopsi yang baru dan baik).
Menurut Prof KH Ali Yafie, salah seorang santri Gurutta Ambo Dalle, apa yang telah dilakukan oleh beliau selama berpuluh-puluh tahun di bumi Bugis pada khususnya dan bumi Sulawesi pada umumnya adalah sebuah gerakan pembaruan membangun benteng tauhid. Dengan kata lain, yang dikembangkan Gurutta Ambo Dalle melalui program dakwah, pendidikan, usaha sosial, dan kebudayaan tersebut sesungguhnya bagian dari jihad, ijtihad, dan mujahadah untuk membangun budaya tauhid.***


Oleh : Suherman
Aktivis Ikatan Mahasiswa Darud Da'wah wal-Irsyad


   
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved