Museum Maros Ramai Diserbu Pelajar, Replika Manusia Purba Jadi Daya Tarik Utama
Namun, saat ada kunjungan sekolah, jumlah pengunjung bisa mencapai ratusan orang dalam sehari.
Penulis: Nurul Hidayah | Editor: Saldy Irawan
TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS - Museum Daerah Kabupaten Maros masih menjadi tujuan belajar favorit bagi pelajar di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, di tengah gempuran teknologi dan hiburan digital.
Museum yang berada di Jalan Lanto Daeng Pasewang, Kecamatan Turikale, itu ramai dikunjungi saat rombongan sekolah datang belajar sejarah dan budaya lokal.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Maros, A Kurniawan mengatakan, kunjungan museum memang tidak selalu ramai setiap hari.
Namun, saat ada kunjungan sekolah, jumlah pengunjung bisa mencapai ratusan orang dalam sehari.
“Kalau ada kunjungan anak sekolah, biasanya bisa sampai 100-an orang. Mereka biasanya bersurat dulu sebelum datang,” kata Kurniawan kepada Tribun Timur, Senin (18/5/2026).
Ia mengatakan, seluruh kunjungan ke museum tersebut tidak dipungut biaya.
Hal itu dilakukan agar masyarakat, khususnya pelajar, lebih mudah mengenal sejarah dan warisan budaya Maros.
Tak hanya menunggu pengunjung datang, pihak museum juga aktif turun langsung ke sekolah-sekolah melalui program “Museum Keliling”.
Program itu saat ini menyasar sekolah dasar dan SMP di 14 kecamatan di Kabupaten Maros.
“Namanya Museum Keliling, tapi bentuknya sosialisasi untuk mengenalkan museum kepada generasi muda,” ujarnya.
Ia menyebut, salah satu daya tarik utama museum tersebut adalah koleksi benda-benda prasejarah peninggalan ribuan tahun lalu.
Salah satu yang paling menarik perhatian pengunjung ialah replika rangka manusia purba yang ditemukan di kawasan Leang-Leang.
“Replika manusia yang ditemukan di Leang-Leang itu usianya sekitar 2.700 tahun. Anak-anak sekolah biasanya sangat tertarik melihat itu,” katanya.
Selain itu, museum juga menyimpan koleksi tertua berupa Maros Point atau mata panah batu bergerigi yang diperkirakan berusia 8.000 tahun.
“Kalau koleksi tertua itu Maros Point, usianya sekitar 8.000 tahun,” jelasnya.
Saat ini, Museum Daerah Kabupaten Maros memiliki sekitar 171 item koleksi benda bersejarah dan purbakala.
Koleksi tersebut terdiri atas berbagai jenis, mulai dari yaitu koleksi etnografika, koleksi arkeologika, koleksi numismatika, koleksi historika, koleksi keramologika, dan koleksi teknologika.
Museum Daerah Kabupaten Maros sendiri menempati bangunan peninggalan kolonial Belanda yang dibangun pada 1835.
Bangunan itu awalnya difungsikan sebagai kantor kontroleur pada masa Hindia Belanda sebelum akhirnya dijadikan rumah jabatan asisten residen.
Kemudian, melalui Peraturan Bupati Maros Nomor 83 Tahun 2016, bangunan tersebut resmi difungsikan sebagai museum daerah.
Pada 19 Maret 2019, bangunan itu ditetapkan sebagai cagar budaya Kabupaten Maros.
Museum Daerah Kabupaten Maros buka pada hari kerja dan tutup saat hari libur karena pengelola museum merupakan ASN.
Pintu museum akan dibuka pukul 08.00 hingga 16.00 Wita bagi pengunjung.
Kepala SDN 1 Pakalu, Sarwinah, mengaku kunjungan museum memberi pengalaman belajar berbeda bagi para siswa.
“Anak-anak bisa belajar budaya dan sejarah yang ada di Kabupaten Maros secara langsung. Semoga museum ini ke depan bisa lebih berkembang dan semakin menarik minat sekolah-sekolah lain untuk berkunjung,” katanya.
| Lapangan Pallantikang Jadi Lokasi Salat Iduladha Maros, OPD Wajib Sumbang 25 Kg Daging Kurban |
|
|---|
| ASN Maros Wajib Donasi Buku, Chaidir Syam Target 1.000 Judul Terkumpul |
|
|---|
| Bachtiar Adnan Kusuma dan Chaidir Syam Gerakkan Donasi Buku di Maros, Warga CFD Antusias |
|
|---|
| Kisah Haru Nenek Jumaria dari Maros, Hidup Sendiri dan Bertani Demi Bisa Berhaji |
|
|---|
| Damkar Maros Ungkap Penyebab Kebakaran saat Kemarau, Korsleting hingga Bakar Sampah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Kunjungan-siswa-SDN-Pakalu-1-Senin-1842026-2026-66.jpg)