Tribun Travel
PTB Maros, Tempat Nongkrong Murah Meriah yang Tak Pernah Sepi
Pantai Tak Berombak (PTB) Maros, Sulsel yang dibuka sejak 2010 tetap menjadi destinasi nongkrong favorit warga.
Penulis: Nurul Hidayah | Editor: Sukmawati Ibrahim
Ringkasan Berita:
- Pantai Tak Berombak (PTB) Maros, Sulsel tetap menjadi destinasi nongkrong favorit sejak dibuka pada 2010.
- Berlokasi di Jalan Topas, kawasan ini diramaikan sekitar 50 pelaku UMKM setiap sore hingga tengah malam.
- Pengunjung menikmati aneka minuman dan makanan dengan harga terjangkau sambil bersantai di tepi kolam yang menjadi ikon kawasan.
TRIBUNMAROS.COM, MAROS - Jika berkunjung ke Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel) sempatkan singgah di kawasan kuliner Pantai Tak Berombak (PTB).
Kawasan yang dibangun pada periode pertama pemerintahan Bupati Maros Hatta Rahman sekitar tahun 2010 ini tetap menjadi destinasi nongkrong favorit warga.
Lokasinya strategis, berada di Jalan Topas dan berdampingan dengan kompleks perkantoran Pemerintah Kabupaten Maros.
Di seberangnya berdiri Masjid Al-Markaz Al Islami Maros yang menjadi salah satu ikon religius daerah tersebut.
Menjelang senja, suasana PTB perlahan berubah.
Dari yang semula tenang, kawasan ini menjadi ramai oleh suara tawa pengunjung, denting sendok, hingga deru blender pedagang jus.
Keramaian biasanya mulai terasa sekitar pukul 17.00 Wita hingga tengah malam.
Satu per satu pedagang membuka lapak dan menyalakan lampu kecil di sekitar meja dagangan.
Salah satu keunikan PTB adalah kolam air yang membentang di tengah area kuliner.
Kolam ini menjadi pusat aktivitas kawasan.
Pada siang hari, sebelum pedagang berjualan, warga kerap memancing di tepi kolam.
Di bagian depannya terdapat taman kota lengkap dengan panggung dan gazebo kecil.
Saat akhir pekan, taman tersebut kerap digunakan untuk kegiatan senam pagi.
Sementara itu, sisi kiri dan kanan kolam dipenuhi sekitar 50 pelaku UMKM yang menjajakan aneka menu.
Mulai dari minuman segar, camilan ringan, hingga makanan berat seperti ayam geprek dan sate.
Harga yang ditawarkan pun ramah di kantong.
Pengunjung bisa menikmati makanan atau minuman mulai Rp10 ribuan.
Pedagang juga menyediakan kursi di tepi kolam lengkap dengan payung.
Pengunjung tetap nyaman meski hujan turun.
Saat malam semakin larut, lampu-lampu kecil memantul di permukaan kolam, menciptakan suasana sederhana namun menenangkan.
Di salah satu sudut, pedagang bernama Ansar tampak sibuk meracik pesanan.
Ia sudah berjualan sejak awal kawasan itu dibuka pada 2010.
“Dulu masih sepi sekali, belum seperti sekarang,” kenangnya.
Lapaknya menjual jus alpukat, jeruk, buah naga, kopi, hingga minuman tradisional sarabba.
Menurutnya, dua menu yang paling laris adalah sarabba dan es jeruk.
Setiap hari, ia membuka lapak sekitar pukul 16.00 Wita dan menutupnya menjelang tengah malam.
Gorengan dijual Rp5 ribu untuk empat potong.
Sedangkan aneka jus sekitar Rp25 ribu per gelas.
Dari hasil jualan itu, Ansar menopang kebutuhan keluarganya.
Saat ramai, ia bisa meraih omzet hingga Rp500 ribu per malam.
Namun saat sepi, pendapatannya berkisar Rp200 ribu.
“Paling ramai biasanya malam minggu, malam tahun baru, dan malam takbiran,” ujarnya.
Salah satu pengunjung, Asty Utami, mengaku sering datang ke PTB sepulang kerja.
“Biasanya kalau pulang kerja, singgah nongkrong di sini sama teman,” katanya.
Menurutnya, suasana PTB terasa hidup namun tetap santai.
Harga yang terjangkau juga menjadi daya tarik.
“Enak di sini, ramai tapi nyaman. Saya paling suka jus alpukat sama camilan seperti pisang goreng atau kentang,” sebutnya. (*)
| Lumi by Kaldi Hadir di Makassar, Minuman Sehat Tanpa Gula Buatan |
|
|---|
| Air Jernih dan Gratis, Sungai Lajjoro Bone Jadi Favorit Liburan |
|
|---|
| Pesona Pantai Nusa Indah Buntu Matabing, Wisata Alam Berhadapan Teluk Bone |
|
|---|
| Bubung Pere’e dan Permandian Alam Taretta, Wisata Gratis Favorit Warga Amali Bone |
|
|---|
| Harga Tiket Terjangkau, Grand Waterboom Mandai Ramai Dikunjungi Saat Nataru |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-19-feb-ptb.jpg)