Jembatan Sura Tana Toraja Mangkrak, Warga Lewat Tangga Bambu
Akibatnya, jembatan yang sudah berdiri kokoh tersebut kini hanya menjadi pajangan karena belum bisa
Penulis: Anastasya Saidong Ridwan | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKALE - Proyek pembangunan Jembatan Sura di Lembang (Desa) Kambisa, Kecamatan Sangalla Selatan, Tana Toraja, Sulsel, hingga kini belum dapat difungsikan meski struktur utamanya hampir rampung.
Ironisnya, proyek yang menjadi salah satu aspirasi reses anggota DPRD Tana Toraja, Randan Sampe Toding dari Fraksi Golkar itu dipastikan belum mendapat kelanjutan anggaran pada tahun 2026.
Akibatnya, jembatan yang sudah berdiri kokoh tersebut kini hanya menjadi pajangan karena belum bisa difungsikan akibat akses jalan penghubung menuju badan jembatan belum tersambung.
Saat dikonfirmasi, Randan Sampe Toding mengakui pembangunan jembatan belum selesai sepenuhnya.
“Jembatannya sudah selesai, tapi jalannya belum, jadi mesti berkelanjutan terus sampai rampung akses tersebut,” ujarnya.
Ia juga memastikan tahun ini belum ada lagi anggaran lanjutan untuk pengerjaan proyek tersebut.
“Belum, apalagi tahun ini tidak ada lanjutan anggarannya,” tambahnya.
Sementara itu, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Proyek Jembatan Sura, Marselinus Pagiri, belum memberikan keterangan terkait kelanjutan proyek tersebut.
Panggilan telepon dan pesan konfirmasi dari Tribun Toraja belum mendapat respons.
Sebelumnya, proyek pembangunan Jembatan Sura dikerjakan secara bertahap.
Pada tahun 2024, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp200 juta untuk tahap awal pekerjaan.
Kemudian pada tahun 2025 kembali dianggarkan melalui dana perubahan sebesar Rp150 juta.
Namun setelah dilakukan peninjauan oleh konsultan, anggaran tersebut dinilai tidak mencukupi sehingga kembali ditambah Rp50 juta menjadi total Rp200 juta.
Meski demikian, pembangunan jembatan belum juga dapat difungsikan.
Salah seorang warga setempat mengaku masyarakat sempat menggunakan jembatan tersebut untuk menyebrangkan jenazah meski kondisi pembangunan masih setengah jadi.
Ia mengatakan jembatan tersebut menjadi akses penting bagi sejumlah wilayah seperti Dena Kambisa dan Kondoran.
Namun saat malam hari, warga memilih tidak melintas karena khawatir terjatuh akibat kondisi akses yang belum aman.
“Kalau malam orang takut menyebrang karena rawan jatuh,” ujarnya.
Warga itu juga mengenang keberadaan jembatan lama peninggalan Belanda yang dulu berdiri di lokasi tersebut.
“Melo liu tonda dolo jembatan Belanda inde te,” katanya dalam bahasa Toraja yang berarti jembatan Belanda zaman dulu sangat indah.
Menurutnya, meski terbuat dari kayu papan, jembatan lama kala itu bahkan memiliki atap pelindung dan lebih nyaman digunakan masyarakat.
Meski demikian, ia tetap bersyukur pembangunan jembatan baru akhirnya mulai dilakukan setelah berganti beberapa kali kepemimpinan daerah.
“Sudah beberapa kali ganti bupati, baru sekarang mulai dibangun,” katanya.
Dari pantauan di lokasi pada Selasa (12/5/2026), struktur utama jembatan memang tampak hampir selesai.
Lantai jembatan sudah dicor menggunakan beton bertulang dengan penyangga balok baja berwarna hitam.
Pada sisi kiri dan kanan juga telah dipasang pagar pengaman berwarna kuning dan biru.
Namun pagar tersebut baru terpasang di bagian tengah jembatan dan belum mencapai pangkal jembatan.
Bagian paling krusial yang belum selesai adalah abutment atau kepala jembatan, yakni penyambung antara badan jembatan dengan jalan.
Terlihat celah besar antara lantai jembatan dan dinding penahan tanah sehingga kendaraan belum bisa melintas.
Di sisi lain, masyarakat tampak memasang tangga bambu dan tiang bambu darurat agar tetap dapat mengakses jembatan meski sangat berbahaya.
Kondisi itu menunjukkan proyek belum benar-benar layak digunakan.
Dana lanjutan diperkirakan masih dibutuhkan untuk pembangunan oprit atau jalan pendekat serta penyambung beton yang menjadi bagian penting agar jembatan bisa difungsikan sepenuhnya.
Penundaan proyek tersebut juga dinilai berisiko secara ekonomi karena anggaran yang telah digelontorkan sebelumnya belum memberikan manfaat nyata bagi mobilitas masyarakat di wilayah Sangalla Selatan.(*)
| Kader Tana Toraja Yakin Bahlil Akomodir Aspirasi Daerah Demi Menang Pemilu 2029 |
|
|---|
| Melihat Proses Pembuatan Papiong di Acara Rambu Solo Warga Enrekang |
|
|---|
| Pemkot Makassar Waspadai Salah Bayar dalam Pengadaan Lahan Jembatan Barombong |
|
|---|
| Pemkot Makassar Kucurkan Rp9 Miliar Lanjutkan Pembangunan Puskesmas Jumpandang Baru |
|
|---|
| Warga Dusun Taka Bone Akhirnya Merdeka dari Jembatan Bambu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/jembatan-sura-tator.jpg)