Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tradisi Pamali Masih Kuat, Pernikahan di Takalar Sepi Usai Lebaran Idulfitri

Kondisi minimnya pernikahan di bulan Syawal sudah menjadi kebiasaan masyarakat di Takalar khususnya wilayah Mangarabombang.

Penulis: Abdul Qayyum | Editor: Alfian
Tribun-timur.com/Abdul Qayyum
KUA TAKALAR - Kepala KUA Mangarabombang Achmad Najamuddin S.Ag dan KH Muh Tahir S.Ag Kepala KUA Pattallassang), saat ditemui di Kantor KUA Mangarabombang, Kelurahan Mangadu, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, Sulsel, Jumat (27/03/2026). Keduanya menyampaikan jumlah pendaftar pernikahan di bulan Syawal 1447 H masih minim. 

TRIBUN-TIMUR.COM, TAKALAR - Minat masyarakat untuk melangsungkan pernikahan pada bulan Syawal 1447 Hijriah di Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan terpantau masih rendah.

Hal tersebut diungkapkan langsung Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Mangarabombang, Achmad Najamuddin, saat ditemui Tribun-Timur.com di kantornya, Lingkungan Tamalate, Kelurahan Mangadu, Jumat (27/03/2026) siang.

Achmad Najamuddin mengatakan, hingga saat ini baru terdapat dua pasangan calon pengantin yang mendaftarkan berkas pernikahan di KUA Mangarabombang.

“Untuk di bulan Syawal ini, di KUA Mangarabombang baru ada dua orang yang mendaftarkan berkasnya untuk menikah. Satu dari Desa Banggae dan satu lagi dari Pattopakang,” ujarnya.

Ia menyebutkan, dua berkas tersebut telah masuk dan kemungkinan pelaksanaan pernikahan akan digelar dalam waktu dekat.

“Jadi totalnya baru dua untuk saat ini yang berkasnya sudah masuk, dan kemungkinan eksekusi atau pernikahannya akan dilaksanakan minggu depan,” jelasnya.

Menurut Achmad Najamuddin, kondisi minimnya pernikahan di bulan Syawal sudah menjadi kebiasaan masyarakat di wilayah Mangarabombang.

Baca juga: KUA Tanete Riattang Barat Bone Kebanjiran Pendaftar Nikah Usai Idulfitri

Ia menyebutkan, masyarakat setempat masih memegang teguh tradisi lama yang melarang atau dianggap pamali untuk menikah di antara dua hari besar Islam.

“Memang kebiasaan di sini, kalau di antara bulan antara Hari Raya Idulfitri dan Iduladha, itu paling kurang yang menikah,” katanya.

Bahkan, lanjutnya, pada bulan Ramadan sebelumnya pun jumlah pernikahan juga tergolong rendah.

“Bahkan kemarin di bulan Ramadan saja hanya sekitar tiga pernikahan yang terlaksana,” tambahnya.

Ia menjelaskan, kepercayaan tersebut berasal dari adat yang diwariskan oleh orang tua terdahulu.

“Kita di Mangarabombang masih memegang adat, katanya orang tua dulu itu pamali menikah di antara dua khutbah perayaan Idulfitri dan Iduladha,” jelasnya.

Meski demikian, tren pernikahan biasanya akan meningkat setelah perayaan Iduladha.

“Yang ramai menikah itu biasanya setelah perayaan Iduladha,” ujarnya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved