Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Dekan Fisip Unismuh: Selle KS Dalle Tokoh Kunci Redam Konflik Suwardi Haseng vs M Farid

Wakil Bupati Soppeng Selle KS Dalle memiliki posisi strategis dalam dinamika di lingkup pemerintahan Kota Kalong.

Tayang:
Penulis: Erlan Saputra | Editor: Muh Hasim Arfah
Tribun-timur.com/Erlan Saputra
KONFLIK SOPPENG - Pengamat Politik Unismuh Makassar, Andi Luhur Prianto nilai sosok Wakil Bupati Selle KS Dalle bisa damaikan konflik Ketua DPRD Muhammad Farid dan Bupati Soppeng Suwardi Haseng. Hal itu disampaikan di Ruang Redaksi Tribun Timur, Makassar, Selasa (10/2/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Dekan FISIP Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr Andi Luhur Prianto menegaskan konflik antara Suwardi vs Muhammad Farid tidak semata-mata bisa dijelaskan sebagai dampak langsung Pilkada. 
  • Andi Luhur menegaskan konflik antara Suwardi vs Muhammad Farid tidak semata-mata bisa dijelaskan sebagai dampak langsung Pilkada. 

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Wakil Bupati Soppeng Selle KS Dalle memiliki posisi strategis dalam dinamika di lingkup pemerintahan Kota Kalong, sebutan Kabupaten Soppeng.

Ia dianggap mampu menjadi tokoh kunci untuk meredam konflik antara Bupati Soppeng Suwardi Haseng dan Ketua DPRD Soppeng Muhammad Farid yang mencuat ke ruang publik.

Hal tersebut disampaikan Dekan FISIP Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr Andi Luhur Prianto dalam dialog publik Membaca Soppeng Kontemporer: Sebuah Refleksi Publik yang digelar di ruang redaksi Tribun Timur, Jalan Cendrawasih, Kota Makassar, Selasa (10/2/2026).

Menurut Andi Luhur, Soppeng selama ini dikenal sebagai ikon harmoni, daerah yang tenang, berwibawa, dan memiliki tatanan budaya yang kerap dijadikan teladan oleh daerah lain. 

Namun, dinamika politik kontemporer, khususnya pasca Pilkada, menempatkan Soppeng pada situasi yang disebutnya sebagai anomi sosial politik.

“Dalam perspektif sosiologis, kita sedang berada di simpang anomi. Nilai-nilai tradisi dianggap tidak relevan, tetapi nilai-nilai modern dan demokrasi liberal juga tidak diambil secara utuh,” ujar Andi Luhur.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat praktik politik lokal menjadi semakin pragmatis dan transaksional. 

Politik Pilkada, dianggap kerap menggeser relasi sosial yang sebelumnya berbasis etika dan budaya, menjadi relasi yang sarat kepentingan jangka pendek.

“Dukungan politik yang berlebihan, endorsement yang terlalu jauh, pada akhirnya bermuara pada konflik. Ini yang kita lihat dalam banyak pola konflik pasca Pilkada, baik antara DPRD dan kepala daerah maupun antara kepala daerah dan wakilnya,” katanya.

Baca juga: Mulawarman: Konflik Bupati dan Ketua DPRD Soppeng Cerminkan Rusaknya Tatanan Adat

Namun, Andi Luhur menegaskan konflik antara Suwardi vs Muhammad Farid tidak semata-mata bisa dijelaskan sebagai dampak langsung Pilkada. 

Ia menilai akar persoalan lebih dalam, yakni belum tertatanya sistem politik secara menyeluruh.

Mulai dari sistem pemilihan, sistem kepartaian, hingga sistem perwakilan politik.

“Ke depan, yang perlu didorong adalah penataan sistem politik sebagai satu kesatuan besar. Kita menunggu Omnibus Law politik yang bisa mengakomodasi semua subsistem ini agar lebih harmonis dan tidak berdampak ke tingkat lokal,” jelasnya.

Dalam konteks konflik Soppeng saat ini, Andi Luhur menyesalkan absennya Wakil Bupati Soppeng, Selle KS Dalle, dalam forum dialog publik tersebut. 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved