Kelompok Cipayung Sinjai Tolak Wacana Pilkada Lewat DPRD
Wacana itu merupakan bentuk kemunduran demokrasi serta pengkhianatan terhadap amanat reformasi yang telah diperjuangkan
Penulis: Muh Ainun Taqwa | Editor: Munawwarah Ahmad
TRIBUN-TIMUR.COM, SINJAI - Kelompok Cipayung Sinjai tolak wacana tolak sistem Pemilihan kepala daerah (Pilkada) kembali dipilih lewat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).
Cipayung Sinjai terdiri dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Ketua IMM Sinjai, Ardianti mengaku menolak wacana penyelenggaraan Pilkada melalui DPRD
“Dengan tegas saya sampaikan kami (IMM Sinjai) tolak sistem Pilkada melalui DPRD Sinjai,” katanya melalui WhatsApp pribadinya, Kamis (1/1/2026).
Menurutnya, wacana itu merupakan bentuk kemunduran demokrasi serta pengkhianatan terhadap amanat reformasi yang telah diperjuangkan dengan pengorbanan besar.
“Wacana ini bentuk kemunduran demokrasi kita,” ujarnya.
Ia menuturkan Pilkada langsung adalah hak konstitusional warga negara.
“Mengalihkan proses pemilihan kepada DPRD hanya akan membuka ruang transaksi politik dan mempersempit partisipasi publik,” katanya.
Bagi Ardianti, demokrasi tidak boleh disederhanakan atas nama efisiensi, apalagi dikorbankan demi stabilitas semu.
“Mengganti sistem tanpa membenahi moral dan etika politik hanya akan memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya,” ujarnya.
IMM Sinjai memandang bahwa persoalan Pilkada hari ini bukan terletak pada mekanisme langsungnya, melainkan pada lemahnya integritas elite politik dan buruknya penegakan hukum.
“Sebagai gerakan mahasiswa Islam yang menjunjung nilai keadilan dan kemaslahatan, kami menegaskan kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat, bukan di ruang-ruang tertutup kekuasaan,” katanya.
Ketua PMII Sinjai, Amar Amrullah Asikin mengatakan Pilkada langsung adalah manifestasi nyata dari prinsip demokrasi, sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 yang menyatakan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat.
“Mengalihkan hak memilih dari rakyat kepada segelintir elit di DPRD sama saja dengan merampas hak politik warga negara,” katanya.
Ia menegaskan pengembalian sistem Pilkada melalui DPRD atas efisiensi anggaran tidak boleh dijadikan dasar.
“Jangan kemudian karena efisiensi anggaran dijadikan pembenaran untuk mengorbankan demokrasi,” ujarnya.
Demokrasi lanjut Amar memang mahal, tetapi otoritarianisme jauh lebih mahal dampaknya bagi keadilan, kesejahteraan, dan masa depan bangsa.
Sementara itu Ketua Bidang PTKP HMI Sinjai, Israndi Musda menegaskan penolakan wacana terhadap.
“Kami (HMI Sinjai) menolak wacana sistem Pilkada lewat DPRD,” tegasnya.
Ia mengatakan wacana tersebut mematikan demokrasi yang selama ini sudah terbangun.
“Pemilihan langsung merupakan bentuk nyata keterlibatan rakyat untuk menentukan arah kepemimpinan daerah,” ujarnya.
Reformasi memandatkan kedaulatan mutlak berada di tangan rakyat, bukan diserahkan kembali kepada sekelompok elite politik di parlemen daerah.
“Sebagai entitas gerakan mahasiswa yang lahir dari rahim perjuangan bangsa HMI Sinjai menegaskan komitmennya untuk terus mengawal konstitusi dan nilai-nilai kebangsaan,” katanya.
| Longsor Bantaran Sungai di Bongki Sinjai Utara Ancam Dua Rumah Warga |
|
|---|
| Polisi Selidiki Kematian Bocah 8 Tahun di Bekas Galian Tambang di Sinjai Selatan |
|
|---|
| Polres Sinjai Olah TKP Bocah 8 Tahun Tewas di Bekas Galian Tambang C, Selidiki Dugaan Kelalaian |
|
|---|
| BPBD Sinjai Keluarkan Peringatan Dini Cuaca 10-12 Mei, Waspada Banjir dan Longsor |
|
|---|
| Berteduh saat Hujan, Guru di Sinjai Tak Sangka Menang Hadiah Umrah saat Hardiknas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Kolase-foto-Amar-Amrull.jpg)