Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Senja di Pematang Sawah Saat Petani Mulai Tersenyum Naiknya Harga Gabah

Di kejauhan, siluet pegunungan dan menara pemancar berdiri samar, mengapit hamparan petak sawah yang tampak tenang. 

Tayang:
Tribun Timur/ Renaldi Cahyadi/Renaldi Cahyadi
PETANI - Petani pulang dari membajak sawah di Kabupaten Sidrap, Kamis (14/5/2026). 

TRIBUN-TIMUR.COM, SIDRAP - Langit perlahan berubah jingga ketika langkah seorang petani membelah pematang sawah yang tergenang air. 

Di bahunya, cangkul tergantung sederhana, menjadi saksi rutinitas yang nyaris tak pernah berhenti sejak matahari terbit hingga tenggelam.

Pantulan cahaya senja di permukaan sawah menciptakan garis-garis keemasan. 

Di kejauhan, siluet pegunungan dan menara pemancar berdiri samar, mengapit hamparan petak sawah yang tampak tenang. 

Namun di balik ketenangan itu, ada kerja panjang yang jarang terlihat.

Petani itu berjalan perlahan menyusuri pematang sempit. 

Air setinggi mata kaki memantulkan bayang tubuhnya yang memanjang diterpa cahaya sore. 

Tidak ada keramaian, tidak ada suara kendaraan. 

Hanya desir angin dan senyum lebar serta langkah yang terdengar pelan di antara lumpur sawah.

Senyum lebar itu bukan tanpa alasan.

Bagaimana tidak, pada tahun ini Pemerintah telah menetapkan harga minimal Gabah Kering Panen (GKP) sebesar Rp6.500 untuk segala kualitas.

Kebijakan tersebut, mengacu pada Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2026. 

Hal itu dilakukan untuk melindungi kesejahteraan petani dan menjaga stok Cadangan Beras Pemerintah.

Sehingga, Perum Bulog yang bertindak sebagai operator atau pelaksana, menyerap hasil panen petani sesuai dengan ketentuan harga yang telah ditetapkan.

Seperti yang dirasakan oleh salah seorang petani asal Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan (Sulsel), Kamaluddin.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved