Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Cuaca Ekstrem Terjang Pesisir Barat Selayar, Pondasi 30 Rumah Terkikis

Namun dalam beberapa hari terakhir, gelombang tinggi disertai angin kencang terus menerjang wilayah pesisir tersebut. 

Tayang:
Penulis: Samsul Bahri | Editor: Saldy Irawan
Istimewa
PASCA BENCANA - Bibir Pantai Bonea yang telah dikikis gelombang tinggi dinihari tadi, Kamis (22/1/2026). Permukiman warga terancam gelombang tinggi/dok.Salahuddin. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Cuaca ekstrem melanda wilayah pesisir barat Kabupaten Kepulauan Selayar, Kamis (22/1/2029).

Dampaknya, sekitar 30 unit rumah warga di Dusun Bonea, Desa Barat Lambongan, Kecamatan Bontomatenne, mengalami kerusakan pada bagian pondasi akibat dihantam gelombang tinggi.

Kepala Dusun Bonea, Salahuddin, mengatakan gelombang laut setinggi sekitar 2,5 meter menerjang kawasan tersebut sejak Rabu malam hingga Kamis dini hari.

“Ada sekitar 30 rumah yang pondasinya dihantam gelombang sejak semalam hingga dini hari,” kata Salahuddin kepada TribunSelayar.com.

Sebelumnya, air laut masih berada cukup jauh dari tanggul penahan ombak.

Namun dalam beberapa hari terakhir, gelombang tinggi disertai angin kencang terus menerjang wilayah pesisir tersebut. 

Akibatnya, tanggul penahan jebol dan air laut mengikis pondasi rumah warga.

Salahuddin mengkhawatirkan kerusakan akan bertambah jika gelombang tinggi dan angin kencang kembali terjadi pada malam hari.

Ia menyebut, sejumlah rumah berpotensi mengalami kerusakan lebih parah.

“Kalau gelombang dan angin kencang kembali terjadi malam ini, ada kemungkinan bagian rumah warga akan hancur,” ujarnya.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

Namun warga yang bermukim di sepanjang pantai meningkatkan kewaspadaan dan berjaga hingga dini hari karena khawatir air laut kembali menerjang rumah mereka.

Pada Kamis pagi, warga bergotong royong membuat tanggul darurat dari kayu untuk menahan hempasan ombak.

Meski demikian, Salahuddin menilai tanggul sementara tersebut tidak akan bertahan lama karena kuatnya gelombang laut.

Ia menjelaskan bahwa abrasi pantai di wilayah tersebut terus terjadi setiap tahun.

Rata-rata dua batang pohon kelapa tumbang setiap tahun akibat terjangan gelombang tinggi. 

Jika tidak segera dibangun tanggul permanen, permukiman warga terancam hilang.

Menurut Salahuddin, pihaknya telah berulang kali mengusulkan pembangunan tanggul kepada pemerintah, baik melalui musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) maupun usulan langsung.

Namun hingga kini belum ada realisasi pembangunan, khususnya dari pemerintah pusat.

Sementara itu, Kapolres Kepulauan Selayar AKBP Didit Immawan mengimbau masyarakat untuk menjauhi bibir pantai dan area rawan bencana selama cuaca ekstrem masih berlangsung.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved