Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Multiplier Effect, Politisi MBG dan Kapitalisme Lokal

Bagi para pengamat, ilmuwan, peneliti dan seterusnya sudah semestinya mengkaji dan mengevaluasi MBG ini.

Tayang:
Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/Ist
OPINI - Andi Yahyatullah Muzakkir Founder Anak Makassar Voice 

Oleh: Andi Yahyatullah Muzakkir

Founder Anak Makassar Voice

TRIBUN-TIMUR.COM - Setahun lebih Makan Bergizi Gratis atau MBG berjalan. Lantas apakah memberikan dampak yang signifikan?

Bagi para pengamat, ilmuwan, peneliti dan seterusnya sudah semestinya mengkaji dan mengevaluasi MBG ini.

Rasa-rasanya memang benar rezim hari ini terkesan sangat memaksakan program Makanan Bergizi Gratis ini. Di tengah terjadinya devisit APBN.

Ini juga menjadi sebuah penanda bahwa MBG sejak berjalan, pemerintah belum mampu menemukan letak kekurangan dari program ini. Dan nampaknya akan terus berjalan.

Kekhawatiran yang muncul, jangan sampai pemerintah tidak mampu mengevaluasi MBG ini. Hal tersebut makin mengukuhkan bahwa rezim hari ini memang sangat terkesan bebal.

Saya pikir Prabowo Subianto sebagai seorang kepala negara dan kepala pemerintahan belum cukup kompeten dalam memimpin bangsa yang sangat besar ini.

Tentang Makan Bergizi Gratis

Saya membakar sebatang rokok dan menyesap kopi susu. Kopinya sangat terasa, susu kental manisnya juga dengan takaran yang sangat pas.

Melengkapi keindahan senja di suatu warkop tempatku bersantai. Sambil membaca buku bacaan yang belum kutamatkan berjudul “Galat Di Ujung Galaksi” karya Etgar Keret seorang cerpenis Israel.

Buku cerpen ini amat renyah dibaca, berisi kumpulan-kumpulan cerpen yang banyak memotret kehidupan masa kini tentang manusia, fenomena sosial, perang dan seterusnya.

Buku cerita yang cukup briliant, temuan-temuan idenya cukup membuat saya kadang geleng-geleng kepala.

Dia mampu menemukan cerita-cerita di luar pikiran kita pada umumnya. Bukan menyanjung, melainkan banyak cerpenis yang belum mampu membuat saya penasaran dengan isinya.

Saya tertegun, mencoba mendalami lebih jauh ceritanya tapi kebisingan percakapan seorang anak muda dan mahasiswa di sampingku cukup mengganggu.

Hingga, hanya satu halaman yang kubaca lalu kucukupkan. Saya putuskan melanjutkannya di rumah.

Saya membakar rokok lalu ikut bergabung di meja tempat anak muda dan mahasiwa ini berdebat, tak lupa kuambil kopiku yang belum sampai setengah gelas kuteguk, agar menambah kesempurnaan diskusi kita.

Kitapun berdiskusi banyak hal, keadaan bangsa yang dianggap salah urus, kondisi pemerintahan yang kian merosot, termasuk program pemerintah yang sangat dipaksakan dan tidak berdampak pada masyarakat menengah ke bawah.

Kita banyak mengulik secara dalam dampak dari kehadiran program unggulan pemerintah seperti Sekolah Rakyat, Koperasi Merah Putih hingga Makan Bergizi Gratis.

Dalam tulisan ini kita mencoba mengulas Makan Bergizi Gratis lebih jauh.

Semua mengarah pada rezim pemerintahan dengan perasaan dongkol dan penuh amarah.

Ternyata keresahan itu makin memuncak terkait MBG saat mereka mendengar banyak keluhan dari segala tingkatan dan semua kalangan. Mulai dari tingkat SD, SMP, SMA hingga kehadiran MBG di kampus.

Hal itu dinilainya bahwa MBG yang hadir di kampus juga membuat kampus disorientasi. Sebab, pada dasarnya kampus fokus dan konsen pada pengembangan keilmuan, riset dan pengabdian pada masyarakat.

Bukan malah mengurusi teknis dan terjun langsung pada pelayanan MBG yang sebenarnya bisa dialihkan dalam bentuk kerja sama dan pembinaan di kantin-kantin sekolah.

Kalau hanya untuk inovasi dan memberi standar gizi pada MBG, kantin-kantin di sekolah pun mampu dengan catatan adanya pembinaan dan pelatihan oleh kampus terkait yang mau berkontribusi pada program ini.

Kita memang tahu, mendengar informasi atau bahkan merasakan langsung di lapangan bahwa kehadiran MBG tidak sepenuhnya menyelesaikan persoalan kita.

Mulai dari banyak SPPG kita yang telah beroperasi tidak menyediakan makanan dengan standar gizi yang memadai.

Tentu sangat kontras dengan nama programnya sendiri. Mirisnya lagi ada sekolah yang pernah mengalami keracunan. Mulai dari keluhan siswa yang tidak menghendaki MBG ini.

Dan keluhan guru yang sebaiknya anggaran ini bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas guru, menghidupkan kantin-kantin sekolah hingga keluhan orang tua siswa yang juga merasakan sebaiknya anggaran makan ini diberi dalam bentuk materi untuk mencukupi kehidupan sehari-hari mereka.

Memang benar, faktanya di lapangan tidak seperti pidato Prabowo Subianto yang banyak memuji kehadiran programnya ini.

Bahkan dengan bangga mengklaim keberhasilannya dan termasuk ikut bangga karena akan jadi program yang mengatasi stunting. Tetapi, yang terjadi di lapangan malah sebaliknya.

Apakah, informasi ini sampai pada Prabowo?

Kita bisa mengira-ngira selain rezim ini bebal, para menteri di kabinet dan pemuja-pemujanya hanya menyampaikan sisi baiknya saja.

Sambil kunikmati kembali rokok dan kunikmati kopi yang sudah lewat setengah gelas ini saya kembali mendengar rupanya para anak muda dan mahasiswa ini juga pembenci dan anti pada ideologi kapitalisme dan politisi yang sibuk mengurusi MBG

Bayangkan para politisi dan anggota dewan yang memiliki fungsi pengawasan tidak optimal memperjuangkan nasib rakyat, dikarenakan mereka sibuk mengurusi dapur MBG, melipatgandakan modalnya, memperkaya diri demi kepentingannya dan keluarganya. Situasi ini sangat miris. 

Politisi yang mengurusi MBG adalah politisi yang tak tahu diri, tak tahu fungsi, tak tahu kewajiban, tak tahu subtansi dan seterusnya.

Mereka hanyalah sekelompok orang yang banyak mengambil, menguras dan mengeruk negara. 

Jauh pada konsep umum bahwa seharusnya mereka hadir menghidupi dan menyejahterakan kita semua.

Sambil mendengar perdebatan di meja ini. Saya makin tahu bahwa mereka rupanya banyak mengkaji Marxis secara mendalam dan menjadikan pahaman ini sebagai sebuah pisau analisis melihat fenomena sosial dan keadaan bangsa ini.

Tentu sebagai cara pandang kritis mengkaji dan mengevaluasi program MBG yang dinilainya sangat tumpang tindih dan tidak banyak memberi dampak.

Kita tiba pada pembahasan bahwa program ini tidak tepat dikatakan program, karena secara dasar suatu program itu hadir membawa dampak dan kehidupan kita secara positif, ini malah sebaliknya.

MBG bukanlah program melainkan proyek.

Dan ketika berbicara proyek maka ada modal besar, ada perputaran uang dan tentu ada penguasa dan pengusaha besar.

Hari ini SPPG hanya didominasi oleh elit-elit penguasa, termasuk di Sul-Sel sendiri banyak terlibat kalangan-kalangan yang memiliki modal banyak, termasuk keterlibatan para politisi, pengusaha hingga pada anggota dewan.

Hal ini bukanlah sebuah solusi karena lebih memperdalam jurang ketimpangan, hal mana sangat jauh dari niat awal program ini lahir yakni menghidupkan UMKM kecil dan para pengusaha-pengusaha kecil.

MBG sendiri jauh dari multiplayer effect.

Secara dasar harusnya program ini bisa membantu dan menghidupi rumah tangga pengusaha kecil. Harusnya melahirkan kesejahteraan bersama.

Tapi karena keterlibatan para politisi dan anggota dewan membuat mereka harus tersingkirkan.

Tentu, modal kecil akan kalah dihadapan modal yang besar.

Dari situasi ini juga, makin tumbuh dan kuat adalah para pengusaha-pengusaha lokal yang memiliki modal besar dan usaha besar seperti pengusaha telur, minyak, beras dan seterusnya.

Yang juga MBG akhirnya melahirkan kelangkaan dan kenaikan bahan-bahan pokok karena adanya situasi penimbunan banyak bahan-bahan pokok di SPPG setempat.

Pedagang kaki lima, penjual eceran makin tersisihkan dan tak mendapat ruang untuk menghidupi dirinya.

MBG menjadi momok bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.

Dari situasi ini kita belajar segara logis bahwa MBG rupanya hanyalah sebuah proyek yang sedikit banyaknya hanya dinikmati keuntungannya oleh pengusaha lokal yang bermodalkan besar dan politisi MBG yang juga ingin menumpuk keuntungan demi kepentingan kursi dan jabatannya selalu.

Cerita kita berakhir sementara, kopi dan rokok saya habis.

Kita berencana akan berdiskusi lagi lain waktu di warkop lain.

Mungkin saja di salah satu warung kopi legend di Papua Selatan.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved