Kolom Teropong Abdul Gafar
Musibah
Ini berarti kita menuju kehancuran besar-besaran. Semoga kekuatiran kita tidak terwujud dalam kenyataan. Intimidasi, saling gertak dilontarkan.
Oleh: Abdul Gafar
Pendidik di Departemen Ilmu Komunikasi Unhas Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - Peristiwa demi peristiwa berjalan terus tanpa pernah berhenti.
Kejadian di seluruh belahan bumi tampil di depan mata kita.
Perang terus terjadi menimbulkan korban yang tidak sedikit.
Ini berarti kita menuju kehancuran besar-besaran.
Semoga kekuatiran kita tidak terwujud dalam kenyataan.
Intimidasi, saling gertak dilontarkan.
Mereka yang berseteru diharapkan menuju perdamaian.
Karena perang tidak akan menguntungkan semua pihak.
Kerugian pasti terjadi di antara mereka.
Peribahasa lama mengatakan bahwa ‘Menang jadi Arang, Kalah jadi Abu”.
Artinya, tidak ada yang untung, sama-sama rugi.
Situasi dalam negeri kita tidak kalah serunya.
Aneka berita dan peristiwa sambung-menyambung tiada henti.
Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah Sumatera belum selesai ditangani.
Muncul lagi di belahan lain negeri ini.
Banjir dan longsor telah mengusik dan merusak suasana kehidupan masyarakat yang tenang.
Musibah secara umum dimaknai sebagai kejadian menyedihkan, tidak dikehendaki, atau malapetaka yang menimpa manusia, seperti bencana alam, sakit, kerugian, atau kematian.
Dalam pandangan Islam, musibah adalah ujian dari Allah SWT untuk meningkatkan derajat, menghapus dosa, atau peringatan.
Pengertian musibah di atas memberi pemahaman kepada kita bahwa ia muncul sudah begitulah adanya.
Bencana alam yang terjadi apakah memang karena alam mulai bosan dengan ulah manusia ?
Ataukah manusia yang telah merusak keseimbangan alam sehingga berontak marah ? Ketika alam ‘dilecehkan’ dengan semena-mena, maka tunggulah kerusakan.
Penggalan lagu Ebiet G. Ade mengatakan: “Barangkali di sana ada jawabnya. Mengapa di tanahku terjadi bencana.
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita.
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa.
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita.
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang”.
Betapa dahsyat musibah yang ditimpakan kepada manusia karena kerakusan dan kesombongannya.
Lalai dalam pengawasan, maka kerusakanlah yang akan terjadi.
Musibah yang terjadi berupa bencana menyisakan cerita sedih dan memilukan. Air selalu menjadi penyebab musibah.
Salahkah air yang kodratnya mengalir ke tempat rendah ? Biasanya pepohonan menjadi wadah menampung air hujan yang turun ke bumi.
Tetapi kini, pepohonan telah punah dan sirna ditelan oleh perusak lingkungan yang serakah.
Salah siapakah yang membiarkan pembalakan hutan secara liar ? Banyak dan derasnya air yang mengalir telah menjebol tanggul.
Rupanya pembuatan tanggul tidak kokoh menahan gerombolan air. Ini berarti salah perencanaan.
Tidak memperhitungkan kemungkinan yang terjadi.
Musibah lain yang terjadi di negeri ini adalah persoalan korupsi.
Sanksi memang tidak pernah membuat jera para koruptor.
Bupati dan walikota menjadi pelengkap tangkapan KPK.
Terduga koruptor masa ‘lalu’ belum tersentuh KPK.
Berdekatan waktunya, musibah pesawat jatuh di Sulawesi Selatan. Duka mendalam dunia penerbangan kita.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Abdul-Gafar-Unhas.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.