Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

IKAFE Unhas

IKAFE Unhas Serukan Bahaya Drifting Economy: Permukaan Stabil Tapi Arah Transformasi Hilang

Dalam Seruan Bulungan, IKAFE Unhas mengingatkan ekonomi Indonesia sudah memasuki fase morning call, alarm bahaya sudah berbunyi, daya dorong hilang

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: as kambie | Editor: AS Kambie
Tribun-timur.com/dok.tribun
SERUAN BULUNGAN - Pengurus Pusat Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (IKAFE Unhas) di sela diskusi dalam forum Seruan Bulungan di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Minggu (10/5/2026). Dalam dalam Seruan Bulungan ini, antara lain, Ketua Umum IKAFE Unhas Hendra Noor Saleh, Sekjen IKAFE Unhas Moh Suaib Mappasila, Prof Rahma Gafmi, Andi M Sadat, Ira Jusuf MBA, Supriadi Syarif SE SHMH,Titien Syukur SE MBA, Ryan Saputra Alam SE MM, dan Andhi Hasrul Hasanuddin SE Ak MSi. 

Sinyal Bahaya 

IKAFE Unhas juga menyoroti sejumlah indikator yang dinilai memperkuat kekhawatiran.

Indikator dimaksud, nilai tukar rupiah yang tertekan hingga kisaran Rp17.400 per dolar AS. Juga harga energi melonjak, dengan BBM nonsubsidi menembus Rp20.000 per liter. Termasuk PMI manufaktur yang masuk zona kontraksi (49,1 pada April 2026). Ditambah daya beli masyarakat yang stagnan di tengah tingginya bunga pinjaman. 

Indikator yang memperkuat kekhawatiran juga hadir karena pertumbuhan ekonomi yang masih bergantung pada belanja pemerintah. Program berbasis anggaran besar dinilai belum diimbangi disiplin fiskal. Hingga beban bunga utang meningkat signifikan.

Menurut IKAFE Unhas, kombinasi indikator ini berpotensi memicu krisis kepercayaan jika tidak segera direspons secara tepat.

IKAFE Unhas mengingatkan bahwa sejarah Indonesia, terutama saat Krisis moneter Asia 1997–1998, menunjukkan bahwa tekanan ekonomi yang bertemu dengan melemahnya legitimasi publik dapat berujung pada instabilitas besar.

Karena itu, mereka menilai penting adanya kejujuran dalam membaca kondisi ekonomi, bukan sekadar membangun narasi optimisme.

Reformasi dan Kepemimpinan
IKAFE Unhas menyerukan perubahan pendekatan dalam tata kelola ekonomi nasional. Mereka menekankan pentingnya meritokrasi, kompetensi, integritas, serta keterbukaan terhadap kritik.

Budaya Asal Bapak Senang (ABS), menurut mereka, harus dihentikan karena hanya akan memperburuk keadaan.

“Indonesia memiliki banyak SDM unggul. Yang dibutuhkan adalah ruang yang objektif dan inklusif untuk berkontribusi,” demikian isi seruan tersebut.

Sebagai penutup, IKAFE Unhas menegaskan bahwa tantangan terbesar Indonesia bukan lagi menjaga stabilitas, melainkan mengubah stabilitas menjadi energi transformasi.

Langkah yang disarankan meliputi beberapa hal.

Pertama, kepemimpinan yang inklusif dan independen.

Keduaq, sinergi lintas sektor.

Ketiga, kalibrasi ulang anggaran.

Keempat, pelaksanaan program strategis secara transparan.

Kelima, penguatan pelayanan publik.

“Tanpa transformasi produktif, stabilitas hanya akan menjadi angka indah di atas kertas—namun rapuh menghadapi perubahan zaman,” demikian penegasan akhir Seruan Bulungan.(*)
 
 
 
 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved