Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Indonesia Tangguh di Krisis Energi, Nurdin Halid Puji Program B50-E20 Gagasan Bahlil

Indonesia menempati posisi kedua dunia sebagai negara paling tahan terhadap krisis energi

Tayang:
Editor: Ari Maryadi
Tribun-timur.com
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Fraksi Golkar Nurdin Halid (NH) bersama Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Presiden Prabowo Subianto. 

TRIBUN-TIMUR.COM -- Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Fraksi Golkar Nurdin Halid (NH) mengapresiasi kinerja Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di tengah gejolak perang Timur Tengah.

Energi global bergejolak di tengah penutupan Selat Hormuz oleh Iran sejak awal Maret 2026.

Dalam laporan terbaru JP Morgan bertajuk Pandora's Bog: The Global Energy Shock of 2026, Indonesia menempati posisi kedua dunia sebagai negara paling tahan terhadap krisis energi, khususnya di sektor minyak dan gas.

Nurdin menilai capaian tersebut tidak terlepas dari kebijakan strategis pemerintah, terutama di bawah kepemimpinan Bahlil di sektor energi.

Menurutnya, langkah-langkah yang diambil pemerintah telah memperkuat fondasi kemandirian energi nasional.

“Ini bukan capaian yang datang tiba-tiba. Ada kerja sistematis dari hulu ke hilir yang dilakukan pemerintah. Saya melihat Menteri ESDM berhasil membaca situasi global dan menyiapkan Indonesia lebih tahan terhadap guncangan,” kata Nurdin Halid kepada wartawan Jumat (1/5/2026).

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menggunakan tiga strategi utama yang didorong pemerintah.

Pertama peningkatan produksi minyak dan gas domestik.

Kedua, diversifikasi energi melalui program biodiesel.

Ketiga pengembangan bahan bakar alternatif seperti bioetanol mer.

Menurut Nurdin, kebijakan seperti B50 dan E20 merupakan langkah konkret untuk menekan ketergantungan impor energi, yang selama ini menjadi titik lemah banyak negara.

“Negara-negara maju justru terpukul karena terlalu bergantung pada impor. Indonesia sekarang menunjukkan arah berbeda—memanfaatkan sumber daya sendiri sebagai kekuatan utama,” katanya.

Lebih lanjut, Nurdin Halid juga menilai langkah diversifikasi energi seperti pengembangan dimethyl ether (DME) dan compressed natural gas (CNG) sebagai substitusi LPG impor merupakan keputusan strategis di tengah ketidakpastian rantai pasok global.

Dalam laporan JP Morgan, ketahanan energi Indonesia ditopang oleh tingginya produksi batu bara domestik serta kapasitas sebagai eksportir utama batu bara termal dunia.

Selain itu, Indonesia juga tercatat sebagai salah satu produsen gas alam penting secara global.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved