Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Headline Tribun Timur

Kapal Kapten Miswar Meledak di Selat Hormuz

Tugboat Musaffah 2 yang dinakhodai Kapten Miswar Maturusi dilaporkan meledak di Selat Hormuz. Rumah keluarganya di Luwu dipadati warga.

Tribun-timur.com
HL TRIBUN TIMUR - Tangkapan layar HL Tribun Timur hari ini, Selasa (10/3/2026) soal Tugboat Musaffah 2 yang dinakhodai Kapten Miswar Maturusi dilaporkan meledak di Selat Hormuz. Rumah keluarganya di Luwu dipadati warga. 
Ringkasan Berita:
  • Tugboat Musaffah 2 yang dinakhodai Kapten Miswar Maturusi dilaporkan meledak di Selat Hormuz, Kamis (6/3/2026). 
  • Rumah keluarga Miswar di Luwu dipadati kerabat dan tetangga yang datang memberi dukungan. 
  • Kementerian Luar Negeri mendorong penyelidikan menyeluruh atas insiden tersebut. 
  • Hingga kini tiga WNI awak kapal masih dalam pencarian oleh otoritas setempat.

Kapal Kapten Miswar Meledak di Selat Hormuz

•⁠  ⁠Rumah Keluarga di Luwu Dipadati Tetangga
•⁠  ⁠Kemlu Dorong Penyelidikan Menyeluruh

LUWU, TRIBUN - Tugboat Musaffah 2 yang dinakhodai Kapten Miswar Maturusi (50) dilaporkan meledak di perairan Selat Hormuz, Kamis (6/3/2026) sekira pukul 02.00 waktu setempat.

Insiden itu membuat keluarga Miswar di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, diliputi kecemasan.

Senin (9/3/2026), rumah keluarga mereka di Kelurahan Pattedong, Kecamatan Ponrang, dipadati kerabat dan tetangga yang datang memberi dukungan.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mendorong penyelidikan menyeluruh atas insiden ledakan tugboat berbendera Uni Emirat Arab tersebut.

Selat Hormuz jalur pelayaran strategis dunia.

Perairan dengan lebar sekira 33 kilometer itu menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.

Kapten Miswar bekerja di perusahaan Abu Dhabi Ports. Ia alumni Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Makassar angkatan ke-15.

Pengalamannya sebagai pelaut terbilang panjang. Ia telah melaut sejak 1999 atau lebih dari dua dekade.

Adik ipar Miswar, Sumarlin Ahmad (41), mengatakan iparnya telah meniti karier di dunia pelayaran sejak usia muda.

“Kemudian menikah dengan kakak saya, Marliani Ahmad, sekira 16 September 2002,” ujarnya, Senin (9/3/2026).

Kapal Musaffah 2 dilaporkan membawa tujuh kru saat peristiwa ledakan terjadi.

Kemenlu mengaku telah menerima laporan mengenai insiden tersebut melalui perwakilan Indonesia di kawasan Teluk.

Juru Bicara Kemlu, Yvonne Mewengkang, mendorong penyelidikan menyeluruh atas peristiwa tersebut.

“Kementerian Luar Negeri juga mendorong penyelidikan menyeluruh atas insiden ini dan perwakilan RI sedang berkoordinasi dengan otoritas Uni Emirat Arab dan Oman serta pihak perusahaan kapal,” ujarnya melalui rekaman video di Jakarta, Senin (9/3/2026).

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Abu Dhabi dan KBRI Muscat juga terus memantau perkembangan kasus ini serta berkoordinasi dengan otoritas setempat.

Saat kejadian, empat anak buah kapal (ABK) WNI berada di atas Musaffah 2.

Sementara satu WNI teknisi berada di kapal kontainer Safeen Prestige yang sedang diperiksa.

Berdasarkan keterangan saksi mata, Musaffah 2 mengalami ledakan yang menyebabkan kapal terbakar.

Harap Keluarga

Rumah Kapten Miswar berlokasi di Kelurahan Pattedong, Kecamatan Ponrang, Kabupaten Luwu.

Kediamannya persis berada di bahu Jalan Trans Sulawesi (Makassar-Palopo).

Dari ibu kota Kabupaten Luwu, Belopa, jaraknya sekira 25 menit perjalanan menuju rumah Kapten Miswar. Rumah tersebut dibangun dengan model ruko dengan warna dominan abu-abu dan putih.

Lantai satu bangunan dimanfaatkan sebagai toko bangunan. Di tempat itu dijual berbagai kebutuhan material seperti semen, pipa, kayu, hingga cat tembok.

Kapten Miswar menamai usahanya Toko Bangunan Qirat. Nama tersebut diambil dari sapaan anak pertamanya dengan sang istri, Marliani Ahmad.

Dari pernikahannya, Miswar dan Marliani dikaruniai dua anak laki-laki, yakni Muhammad Qiratul Miswar dan Muhammad Hayatullah Miswar.

Sejak kabar ledakan tugboat Musaffah 2 beredar, rumah keluarga Kapten Miswar terus didatangi warga.

Terhitung sudah tiga hari terakhir kolega, kerabat, dan tetangga berdatangan memberi dukungan kepada keluarga.

Satu petak tenda bahkan didirikan di depan rumah karena banyaknya masyarakat datang menjenguk keluarga.

Suasana duka masih menyelimuti rumah pelaut alumni Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Makassar tersebut.

Di lantai dua rumahnya, sesekali terdengar suara tangisan sang istri, Marliani Ahmad, yang masih berduka atas kabar insiden yang menimpa kapal yang dinakhodai suaminya.

Sekira pukul 11.30 Wita, tiga mobil terlihat datang silih berganti untuk menjenguk kondisi keluarga Kapten Miswar.

Adik Marliani Ahmad, Sumarlin Ahmad, mengatakan keluarga terus memanjatkan doa agar Kapten Miswar ditemukan dalam kondisi selamat.

“Sudah tiga malam ibu-ibu dan bapak-bapak tetangga di sini datang. Mereka ingin mengetahui kondisi terbaru sekaligus ikut berdoa untuk kejelasan kondisi ayahnya Qirat,” ujarnya.

Ia menambahkan, keluarga masih menunggu kabar resmi dari pihak perusahaan Abu Dhabi Ports maupun KBRI.

Menurutnya, pada Minggu (8/3/2026) otoritas KBRI di Oman sempat menghubungi keluarga untuk menanyakan alamat resmi Kapten Miswar.

“Kami masih menunggu kabar resmi dari perusahaan maupun kedutaan Indonesia. Keluarga menerima kondisi apa pun yang terjadi, meskipun kami berharap ada keajaiban dan ayahnya Qirat ditemukan dalam keadaan selamat,” katanya.

Sumarlin menyebut pihak keluarga dijadwalkan mengikuti pertemuan melalui Zoom dengan pihak KBRI untuk mendapatkan perkembangan terbaru. “Rencananya nanti malam habis Magrib,” ujarnya.
Kontak Terakhir

Sumarlin Ahmad menceritakan detail peristiwa sebelum kapal Musaffah 2 hilang kontak pada Jumat (6/3/2026).

Keterangan tersebut berdasarkan percakapan terakhir Kapten Miswar dengan istrinya dua hari sebelumnya, Rabu (4/3).

Dalam percakapan tersebut, Kapten Miswar mengabari istrinya bahwa ada kapal rusak yang akan dievakuasi. Selama ini Kapten Miswar memang bekerja menakhodai kapal tugboat.

Tugboat merupakan kapal berukuran relatif kecil yang biasa bermanuver di sekitar pelabuhan. Kapal ini bertugas menderek atau mengarahkan kapal berukuran besar sebelum bersandar di pelabuhan.

“Selama ini memang ayahnya Qirat kerjanya di sekitar pelabuhan Abu Dhabi saja. Kapalnya biasanya mengarahkan kapal-kapal besar masuk ke pelabuhan,” ujar Sumarlin.

Karena itu, menurut Sumarlin, baru kali ini Kapten Miswar berlayar cukup jauh dari area pelabuhan.

Perjalanan menuju lokasi kejadian diperkirakan memakan waktu sekira satu hari. “Sekitar satu hari perjalanan sampai ke lokasi kejadian,” jelasnya.

Sumarlin mengatakan hingga kini belum ada informasi resmi dari perusahaan Abu Dhabi Ports tempat Kapten Miswar bekerja.

Sejumlah informasi diterima keluarga justru banyak berasal dari rekan-rekan pelaut Kapten Miswar yang berasal dari Kabupaten Luwu dan Kota Palopo.

Menurutnya, ada dua versi informasi beredar terkait misi kapal Musaffah 2 saat itu.

Versi pertama menyebut kapal tersebut melakukan evakuasi terhadap kapal yang lambungnya bocor diduga akibat terkena rudal.

Sementara versi lain menyebut Musaffah 2 membawa kru teknisi untuk melakukan pengelasan pada lambung kapal yang rusak.

Informasi awal diterima keluarga menyebut operasi tersebut berkaitan dengan kapal kargo Safeen Prestige.

Sumarlin juga mengungkapkan bahwa Kapten Miswar sempat menyampaikan firasat tidak biasa sebelum insiden terjadi.

Kapten Miswar sempat melaporkan adanya gangguan pada sistem navigasi kapal.

“Beliau bilang GPS kapal error. Katanya seperti melihat sesuatu di sekitar kapal dan sempat meminta panduan,” kata Sumarlin.

Pencarian Berlanjut

Tiga warga negara Indonesia (WNI) anak buah kapal (ABK) tugboat Mussafah 2 yang meledak di Selat Hormuz, hingga kini masih belum ditemukan.

Proses pencarian masih terus dilakukan oleh otoritas setempat usai ketiganya dilaporkan hilang di perairan yang berada di antara

Persatuan Emirat Arab dan Oman, pada Jumat (6/3/2026) dini hari waktu setempat.

“Status para WNI yaitu 1 WNI ABK mendapat perawatan luka bakar dan sedang berada di Rumah Sakit Kota Khasab Oman, dan 1 WNI teknisi yang selamat telah berada di Kota Abu Dhabi. Sementara 3 WNI ABK masih terus diupayakan pencarian oleh otoritas setempat,” Juru Bicara Kemlu Yvonne Mewengkang dalam keterangan resminya, Minggu (8/3/2026).

Yvonne menjelaskan laporan insiden Kapal Mussafah 2 berbendera Persatuan Emirat Arab itu diterima Kemlu melalui KBRI di Abu Dhabi dan KBRI di Muscat pada 6 Maret 2026.

Menurut Yvonne, insiden terjadi sekitar pukul 02.00 waktu setempat di Selat Hormuz.

“Berdasarkan saksi mata, Mussafah 2 mengalami ledakan yang menyebabkan kapal terbakar. Pada saat kejadian, 4 WNI ABK berada di kapal Mussafah 2 dan 1 WNI teknisi sedang berada di kapal kontainer Safin Prestige,” kata Yvonne.

Ia menekankan, perwakilan RI di Persatuan Emirat Arab dan Oman masih terus berkoordinasi secara intensif dengan otoritas setempat serta perusahaan kapal terkait untuk mempercepat proses pencarian.

Selain itu, lanjut Yvonne, perwakilan RI juga memastikan penanganan medis terhadap WNI yang selamat, dan akan terus menyampaikan perkembangan penanganan kepada keluarga korban di Indonesia.

“Kementerian Luar Negeri juga mendorong penyelidikan menyeluruh atas insiden ini dan perwakilan RI sedang berkoordinasi dengan otoritas Persatuan Emirat Arab dan Oman serta pihak perusahaan kapal,” jelas Yvonne.

Yvonne menambahkan, hingga saat ini otoritas di Persatuan Emirat Arab dan Oman masih menyelidiki peristiwa tersebut untuk mengetahui penyebab ledakan kapal tersebut.

Kemlu mengimbau seluruh WNI yang berada di kawasan Timur Tengah, termasuk awak kapal yang bekerja di perairan internasional, untuk meningkatkan kewaspadaan dan memantau perkembangan situasi melalui sumber informasi resmi.

“Dalam keadaan darurat, WNI diharapkan segera menghubungi hotline perwakilan RI terdekat,” kata Yvonne.(uki/kompas.com)

 

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved