Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Teror Kepala Babi ke Tempo dan Serangan ke Jurnalis di Negara Lain

Pembicaraan sejumlah jurnalis di Global Investigative Journalist Conference 2025 (GIJC25),

Penulis: RasniGani | Editor: Edi Sumardi
Tribunnews.com/TRIBUN TIMUR/RASNI GANI
JURNALIS INVESTIGASI - Salah satu sesi dalam Global Investigative Journalist Conference 2025 (GIJC25), Kamis-Senin, 20-24 November 2025, di Kuala Lumpur, Malaysia. Jurnalis investigasi dari berbagai negara menceritakan teror dan intimidasi dialami. 

Ringkasan Berita:Glenda Gloria, Executive Editor Rappler dari Filipina mengungkapkan pihaknya diancam pemerintah setelah membongkar kasus banjir di kotanya.
 
Pemberitaan tentang kesalahan penataan kota itu viral tersebar di social media TikTok.
 
Laiknya kisah drama, Yongjin Kim, Co-founder Newstapa dari Korsel juga mendapat serangkaian teror.
 
 

 

Laporan wartawan Tribun-Timur.com, Rasni Gani

KUALA LUMPUR, TRIBUN-TIMUR.COM - Mosi pemerintah antikritik ternyata bukan cuma jadi riak-riak jurnalis Indonesia. 

Hal ini jadi topik besar pembicaraan sejumlah jurnalis di program Global Investigative Journalist Conference 2025 (GIJC25), Kamis-Senin, 20-24 November 2025 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Misal di sesi keynote speaker Uncovering Asia sejumlah panelis konferensi mengaku mendapat intimidasi dari penguasa karena beberapa berita tak nyaman di telinga politisi.

Baik berita kebijakan tak tepat sasaran maupun pemberitaan investigasi korupsi. 

Glenda Gloria, Executive Editor Rappler dari Filipina mengungkapkan pihaknya diancam pemerintah setelah membongkar kasus banjir di kotanya.

Pemberitaan tentang kesalahan penataan kota itu viral tersebar di social media TikTok. 

Menjadi protes besar di kalangan masyarakat. 

Rappler dikenal sebagai media yang ketat mengawasi jalannya kebijakan pemerintah pimpinan Rodrigo Duterte.

Di tahun 2019, CEO sekaligus pimpinan redaksi Rappler Maria Ressa divonis hukuman penjara selama enam bulan satu hari hingga enam tahun, dalam kasus pencemaran nama baik melalui siber.

Meski dari laporan berita AFP, Ressa dapat tetap bebas dengan membayar uang jaminan.

Testimoni 'mencekam' juga datang dari Indonesia dimana CEO Tempo Digital Wahyu Dhyatmika menceritakan teror kepala babi ke audience.

Persoalan ini sempat membuat heboh publik tanah air dan jadi kontroversi, setelah pernyataan Hasan Nasbi yang kala itu menjadi Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan justru merespon, dengan mengatakan agar jurnalis Tempo Francisca Christy Rosana memasak kiriman kepala babi tersebut.

Baca juga: Jenderal Bintang Pimpin Langsung Penyelidikan Teror Kepala Babi ke Kantor Tempo

Pernyataan itu sempat disentil Presiden Prabowo, yang menilai jika itu keliru.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved