Hari Kesaktian Pancasila
Takbir Abadi: Pancasila Kompas Moral Anak Muda di Era Digital
Takbir Abadi sebut Hari Kesaktian Pancasila momentum memperkuat pemahaman ideologi bangsa bagi generasi muda di era digital.
Penulis: Nurul Hidayah | Editor: Sukmawati Ibrahim
TRIBUNMAROS.COM, MAROS – Hari Kesaktian Pancasila diperingati setiap 1 Oktober menjadi momentum refleksi nasional bagi masyarakat Indonesia.
Peringatan ini mengingatkan besarnya peran Pancasila dalam menjaga keutuhan bangsa dari ancaman perpecahan.
Sejarah mencatat, Hari Kesaktian Pancasila lahir dari peristiwa kelam G30S/PKI.
Ideologi bangsa saat itu sempat diguncang.
Namun berkat keteguhan seluruh elemen, Pancasila tetap tegak sebagai dasar negara.
Ketua Satuan Siswa Pelajar dan Mahasiswa Pemuda Pancasila (Sapma PP) Kabupaten Maros, Takbir Abadi, menyebut Hari Kesaktian Pancasila bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momentum memperkuat pemahaman generasi muda terhadap ideologi bangsa.
Menurutnya, Kesaktian Pancasila bermakna sebagai bukti keteguhan bangsa Indonesia dalam mempertahankan ideologi dan jati diri.
“Pancasila bukan hanya dasar negara, tetapi juga pedoman hidup yang menuntun kita untuk menjunjung nilai kemanusiaan, persatuan, dan keadilan,” ungkap pemuda 24 tahun itu kepada Tribun Timur, Rabu (1/10/2025).
Ia menegaskan, relevansi Pancasila tidak pernah luntur meski zaman berubah.
Generasi muda di era digital justru sangat membutuhkan Pancasila sebagai kompas moral.
“Banyak orang bertanya, apakah Pancasila masih relevan dengan anak muda saat ini? Jawabannya sangat relevan. Justru di era globalisasi ini, Pancasila dibutuhkan sebagai kompas moral agar anak muda tidak kehilangan arah dan tetap berpegang pada identitas bangsa,” jelasnya.
Alumni Sospol Universitas Muhammadiyah Makassar ini menekankan, nilai utama Pancasila yang harus terus diamalkan adalah persatuan.
“Persatuan itu sederhana tapi mendasar. Bisa diwujudkan dengan saling menghargai, terbuka, menerima perbedaan pendapat. Jangan anggap perbedaan sebagai kelemahan, tapi sebagai kekuatan Indonesia,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tantangan anak muda di tengah derasnya perkembangan teknologi dan arus informasi.
“Tantangan kita sekarang berbeda dengan masa lalu. Generasi muda lebih banyak dihadapkan dengan tantangan digital, budaya global, dan derasnya arus informasi. Di sini peran Pancasila sangat penting agar kita tidak larut atau kehilangan jati diri,” tambah Takbir.
Ia menyebut, meski tidak semua generasi muda memahami detail sejarah G30S/PKI, mereka tetap mengenalnya melalui pendidikan di sekolah.
Karena itu, penting bagi sekolah dan kampus untuk terus menanamkan nilai Pancasila.
“Tidak cukup hanya dipahami, Pancasila harus diamalkan dalam keseharian. Itu tugas kita semua, termasuk di dunia pendidikan, organisasi kepemudaan, dan lingkungan sosial,” kata Takbir.
Ia menyampaikan pesan kepada generasi muda Indonesia agar menjadikan Pancasila sebagai pegangan hidup.
“Untuk seluruh anak muda Indonesia, Pancasila adalah perjalanan panjang sejarah yang harus kita jaga. Jangan biarkan nilai luhur ini luntur oleh zaman. Pancasila bukan hanya warisan, tetapi pegangan hidup,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, ia merangkum makna Hari Kesaktian Pancasila dalam satu kata.
“Satu kata untuk Hari Kesaktian Pancasila: Abadi,” tutupnya, mantan Ketua Osis SMAN 1 Maros. (*)
| Aliyah IAS: Hari Kesaktian Pancasila Momentum Perkokoh Persatuan Bangsa |
|
|---|
| Hari Kesaktian Pancasila, Munafri Ajak Masyarakat Jadikan Pancasila Fondasi Persatuan dan Kedamaian |
|
|---|
| Tradisi Naik Pangkat di Hari Kesaktian Pancasila, Prajurit Kodim 1407/Bone Belanja di Pasar Rakyat |
|
|---|
| Gubernur Sulsel Andi Sudirman: Pancasila Dasar Negara dan Perekat Bangsa |
|
|---|
| Dandim 1407 Bone: Pancasila Pedoman Moral Bermasyarakat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-10-1-Takbir-Abadi.jpg)