Jawaban PT SUS Terkait Penolakan Warga Tamalanrea Atas Proyek PSEL
Pihak PT SUS menjelaskan proyek PSEL dirancang menggunakan teknologi tertutup sehingga diklaim aman bagi lingkungan sekitar.
Penulis: Siti Aminah | Editor: Alfian
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Penolakan sebagian warga terhadap proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) di Kecamatan Tamalanrea masih terus bergulir.
Warga bukan menolak program pengolahan sampah menjadi energi listrik tersebut, namun mempertanyakan alasan lokasi proyek dibangun dekat dengan permukiman.
Ada dua wilayah yang berpotensi terdampak, Kampung Tamala'lang Kelurahan Parang Loe dan Mula Baru, Kelurahan Bira.
Menanggapi penolakan itu, pihak konsorsium, diwakili Electrical Engineering PT Sarana Utama Synergi (SUS) Richard, menjelaskan proyek PSEL dirancang menggunakan teknologi tertutup sehingga diklaim aman bagi lingkungan sekitar.
Penjelasan itu disampaikan Richard dalam Dialog yang digelar bersama warga sekitar lokasi proyek, di Grand Eterno, Jl Ir Sutami, Kecamatan Tamalanrea, Jumat (29/5/2026).
Agenda tersebut dihadiri beberapa warga Tamalalang, RT/RW, lurah setempat, aparat TNI Pori, dan jajaran PT SUS.
Diskusi dipimpin influencer Makassar, Rijal Djamal.
Baca juga: Warga Tamalanrea soal PSEL: Kami Tidak Tolak Proyeknya, Tapi Lokasinya
Pada dialog tersebut, Rijal menanyakan beberapa aspirasi masyarakat yang dikeluhkan.
Mulai dari pemilihan lokasi, potensi dampak lingkungan, hingga teknologi perusahaan asal Cina tersebut dalam menjalankan proyek sampah di Makassar.
Richard menyampaikan, seluruh sampah yang masuk ke fasilitas pengolahan akan ditempatkan di bunker atau ruang tertutup dengan lapisan beton dan sistem pengamanan khusus.
Ia menyebut sistem tersebut dirancang agar bau sampah tidak menyebar keluar dan air lindi tidak meresap ke tanah di sekitar lokasi proyek.
Selain itu, bunker menggunakan teknologi tekanan udara negatif sehingga udara dari luar masuk ke dalam ruangan, bukan sebaliknya.
Udara yang berada di dalam bunker kemudian dialirkan ke ruang pembakaran untuk membantu proses pembakaran sampah menjadi lebih efisien.
"Sampah dibawa masuk ke ruangan tertutup atau bunker. Ruangan ini memiliki atap tertutup dan lantai beton, sehingga bau tidak keluar dan air lindi tidak meresap ke tanah,” ujarnya.
Baca juga: Dibanding Tamalanrea, Antang Disebut Lebih Siap untuk PSEL
Richard menjelaskan gas metana yang dihasilkan sampah juga ikut diarahkan ke ruang pembakaran sehingga tidak terlepas ke lingkungan.
Proses pembakaran sampah dalam proyek PSEL itu disebut dilakukan pada suhu di atas 1.000 derajat Celsius.
PT SUS mengklaim suhu tinggi tersebut mampu menekan terbentuknya senyawa berbahaya seperti dioksin dan furan yang selama ini menjadi kekhawatiran masyarakat.
Sementara sisa pembakaran berupa bottom ash disebut masih dapat dimanfaatkan kembali, salah satunya sebagai material penambalan jalan.
"Bottom ash bisa digunakan sebagai bahan penambalan jalan. Jadi konsepnya sustainability, semua bisa dimanfaatkan kembali,” jelasnya.
Untuk pengendalian emisi, perusahaan mengaku menggunakan sistem filtrasi berlapis seperti SCR, bag filter, dan karbon aktif.
Richard menyebut, standar pengolahan emisi yang digunakan mengacu pada standar Uni Eropa yang lebih ketat dibanding regulasi di Indonesia.
Kekhawatiran warga terkait penggunaan air tanah juga dibantah oleh PT SUS.
Perusahaan memastikan operasional pendinginan mesin tidak menggunakan air tanah milik warga sekitar, melainkan memanfaatkan air dari Sungai Tallo.
Menurut Richard, penggunaan air Sungai Tallo telah melalui penelitian serta memperoleh izin dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
Ia juga memastikan ketersediaan debit air dinilai cukup untuk kebutuhan operasional sepanjang tahun, termasuk saat musim kemarau.
"Kami tidak menggunakan air tanah. Sistem pendinginan mesin menggunakan air Sungai Tallo,” paparnya.
Selain menjelaskan aspek teknis, Richard turut menanggapi keraguan warga terkait pengalaman perusahaan menjalankan proyek serupa.
Richard mengatakan, PT SUS merupakan bagian dari SUS Environment, perusahaan asal Tiongkok yang telah mengembangkan berbagai proyek waste to energy di sejumlah negara.
Selain di China, proyek serupa disebut telah dijalankan di Vietnam, Thailand, hingga Bangkok.
PT SUS juga mencontohkan keberadaan fasilitas waste to energy di kawasan perkotaan Jepang yang berada dekat dengan permukiman warga.
Menurut Richard, keberadaan fasilitas tersebut membuktikan proyek pengolahan sampah modern dapat berdampingan dengan kawasan hunian selama sistem pengendalian emisi dijalankan secara ketat.
Sorotan lain yang disampaikan warga adalah minimnya pelibatan masyarakat sejak awal proyek bergulir.
Menjawab hal itu, Richard mengatakan masyarakat sebenarnya telah dilibatkan dalam proses penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).
Ia menyebut sekitar 100 warga ikut dalam proses dukungan administrasi penyusunan Amdal proyek tersebut.
PT SUS juga mengajak sejumlah perwakilan masyarakat untuk melihat langsung fasilitas pengolahan sampah di Ningbo, China.
Salah satu warga yang ikut dalam kunjungan itu, Amran, mengaku tidak menemukan gangguan bau maupun suara di lokasi fasilitas yang dikunjungi.
"Apa yang dikhawatirkan masyarakat di sana sama sekali tidak ada, antara lain bau dan suara,” kata Amran.
Meski demikian, Amran mengakui kondisi di China berbeda karena lokasi fasilitas di sana tidak berada dekat permukiman seperti di Tamalanrea.
Ia mengaku telah menyampaikan kondisi tersebut kepada pihak PT SUS maupun pemerintah saat kunjungan berlangsung.
Namun menurutnya, pihak perusahaan dan pemerintah tetap memastikan proyek PSEL Makassar aman dibangun meski berada dekat kawasan warga.
"Saya berkesimpulan proyek ini sangat layak dibawa ke Makassar karena tidak ada bau dan suara yang kami khawatirkan,” katanya.
Diketahui, pada kesempatan tersebut, PT SUS juga membagikan hewan kurban kepada masyarakat sekitar.
Termasuk penyerahan CSR berupa sembako dan alat tulis kepada warga dan anak sekolah sekitar wilayah proyek. (*)
| Pengakuan Kevin, Penemu Mayat Bocah SD Korban Pembunuhan di Makassar |
|
|---|
| 250 Fans Arsenal di Makassar Nobar Final Liga Champions, Optimistis The Gunners Juara |
|
|---|
| BookCabin Travel Fair 2026 di MaRI Makassar Diserbu Pengunjung |
|
|---|
| Nonton Bareng Piala Dunia 2026 di Mercure Makassar Mulai Rp75 Ribu |
|
|---|
| Kallafriends Meriahkan MHM 2026, Ada Polaroid Keliling Hanya Rp5 Ribu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260529-Dialog-terkait-proyek-PSEL.jpg)