PB Djarum Keliling Daerah Lagi, Audisi 2026 Fokus Jaring Talenta Muda Potensial
Ajang ini menjadi wadah pencarian bibit-bibit muda potensial yang diproyeksikan menjadi generasi penerus bulutangkis nasional.
Ia menilai Indonesia memiliki banyak talenta tersembunyi yang belum mendapatkan kesempatan tampil di panggung lebih besar.
“Tidak hanya di Pulau Jawa, tapi juga dari Sumatra dan Sulawesi. Kami berharap tahun ini menemukan mutiara-mutiara terpendam yang selama ini belum muncul ke permukaan,” katanya.
Ketua Tim Pencari Bakat Audisi Umum PB Djarum 2026, Sigit Budiarto menegaskan proses seleksi tahun ini tetap berlangsung ketat dan kompetitif.
Legenda bulutangkis Indonesia itu mengatakan, audisi tahunan menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan pembinaan atlet PB Djarum.
“Kami berharap melalui audisi ini dapat menemukan bibit-bibit unggul yang tidak hanya kuat secara teknik, tetapi juga memiliki karakter unik dalam bermain serta mental juara,” kata Sigit.
Menurut Juara Dunia 1997 ini, kombinasi kemampuan teknik dan karakter menjadi modal utama untuk menciptakan atlet dengan kualitas super yang mampu bersaing di level dunia.
Dalam proses seleksi nanti, Tim Pencari Bakat diperkuat jajaran pelatih dan legenda bulutangkis Indonesia.
Hendrawan dipercaya menjadi Koordinator Atlet Putri, sedangkan Leonard Holvy de Pauw bertugas sebagai Koordinator Atlet Putra.
Kehadiran Hendrawan dalam audisi tahun ini menjadi yang pertama sejak dirinya resmi bergabung dengan PB Djarum sebagai Technical Advisor Men's & Women's Singles pada tahun lalu.
Juara Dunia 2001 tersebut mengatakan antusias peran barunya dalam proses pencarian talenta muda.
“Audisi ini adalah salah satu cara menjemput bakat dan membuka peluang lebih luas bagi bibit-bibit baru. Apalagi tahun ini digelar di tiga kota, ini menjadi kesempatan besar bagi pemain di daerah yang mungkin sebelumnya kesulitan menjangkau Kudus,” ujar Hendrawan.
Ia menambahkan, perkembangan bulutangkis dunia yang semakin cepat membuat aspek teknik menjadi sangat penting, terutama bagi atlet putri.
Apalagi BWF akan menerapkan sistem skor baru 15 poin x 3 game mulai Januari 2027.
“Ke depan dengan format permainan yang cenderung lebih cepat, faktor teknik menjadi semakin penting. Untuk atlet putri, kami melihat penguasaan teknik, footwork, dan kontrol lapangan sebagai aspek utama,” jelasnya.
Selain teknik, mental dan fighting spirit juga menjadi perhatian utama tim pencari bakat saat proses seleksi berlangsung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/PB-DJARUM-08052026.jpg)