Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Harga Aspal Naik

Harga Aspal di Sulsel Naik Lebih 50 Persen, Proyek Jalan Terancam Molor

Kondisi ini dinilai tidak hanya memicu kenaikan biaya proyek, tetapi juga memperlambat pengerjaan infrastruktur di berbagai wilayah.

Tayang:
Penulis: Rudi Salam | Editor: Ansar
Tribun-timur.com
HARGA ASPAL - Kolase aspal dan Direktur Teknik PT Passokorang, Hamsijar Ilham, dikirim ke Tribun-Timur.com, Rabu (6/5/2026). Hamsijar menilai lonjakan harga aspal telah melampaui 50 persen. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kenaikan harga aspal di Sulawesi Selatan (Sulsel) kian menekan sektor konstruksi.

Kondisi ini dinilai tidak hanya memicu kenaikan biaya proyek, tetapi juga memperlambat pengerjaan infrastruktur di berbagai wilayah.

PT Passokorang sebagai perusahaan penyedia jasa konstruksi di Sulsel telah merasakan dampak kenaikan harga itu.

Direktur Teknik PT Passokorang, Hamsijar Ilham, menjelaskan lonjakan harga aspal telah melampaui 50 persen.

Hal ini dipicu oleh kenaikan bahan bakar minyak (BBM) dan ketidakpastian kondisi global.

Menurut Hamsijar, aspal sebagai turunan minyak bumi sangat terdampak langsung oleh fluktuasi harga energi.

“Jangankan aspal yang memang dari minyak bumi, barang-barang lain saja sudah bergejolak semua,” kata Hamsijar, saat dihubungi Tribun-Timur.com, Rabu (6/5/2026).

Hamsijar menyebut, sebelum lonjakan terjadi, harga aspal masih berada di kisaran Rp13.000 hingga Rp15.000 per kilogram.

Namun saat ini, harga sudah melonjak ke level Rp24.000 hingga Rp33.000 per kilogram.

“Kalau di Sulsel kita lebih 50 persen, malah sampai 53 persen,” sebutnya.

Kenaikan tersebut bersifat fluktuatif, mengikuti dinamika global yang tidak stabil.

Kondisi ini diperparah dengan sikap para pemasok yang enggan memberikan kepastian harga maupun pasokan dalam jumlah besar.

Ketidakpastian membuat supplier cenderung menahan distribusi.

Hal ini pun membuat kontraktor kesulitan melakukan pembelian dalam skala besar untuk kebutuhan proyek.

Dampaknya mulai terasa pada pelaksanaan proyek infrastruktur.

Sejumlah pekerjaan konstruksi dilaporkan mengalami hambatan.

Bahkan ada yang tertunda karena kesulitan mendapatkan material dengan harga yang stabil.

“Jadi molor. Kadang-kadang pekerjaan dilelang tidak ada yang nawar karena gitu, takut juga dengan harga,” kata Hamsijar.

Selain itu, persoalan distribusi turut menjadi kendala serius.

Tinggi harga dan sulitnya mendapatkan solar menyebabkan waktu pengiriman aspal ke lokasi proyek menjadi jauh lebih lama.

Hamsijar mencontohkan, jika sebelumnya pengiriman dari Makassar ke Mamuju dapat ditempuh dalam waktu kurang dari satu hari, kini bisa memakan waktu hingga dua sampai tiga hari.

“Sekarang ini bisa sampai 2 sampai 3 hari baru nyampai, itu efek solar yang langka,” jelasnya.

Keterlambatan ini tidak hanya berdampak pada jadwal pekerjaan, tetapi juga meningkatkan biaya operasional.

Penggunaan bahan bakar non-subsidi dinilai terlalu mahal dan sulit dijangkau oleh perusahaan.

Sehingga menambah beban di tengah kondisi keuangan yang sudah tertekan.

Meski permintaan proyek infrastruktur di wilayah Sulsel dan Sulbar disebut masih tinggi, realisasi di lapangan tidak berjalan optimal.

Bahkan, sejumlah proyek lelang dilaporkan mengalami keterlambatan karena minimnya peserta yang berani mengambil risiko di tengah ketidakpastian harga.

Ia pun berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah tegas dengan menetapkan dan mengumumkan secara resmi standar harga terbaru.

Kepastian tersebut dinilai penting agar proses penganggaran dan lelang proyek yang menggunakan dana negara dapat berjalan tanpa keraguan. (*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved