Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Headline Koran Tribun Timur Hari Ini

Polisi Diminta Fokus Urus Geng Motor

Dalam sepekan terakhir, kasus geng motor dan begal marak lagi di Makassar. Aksi jalanan meresahkan. Teror busur bermunculan.

Tayang:
Tribun-timur.com
GENG MOTOR - Tangkapan layar unggahan aksi geng motor di sejumlah akun sosial media Instagram saat beraksi di Jl AP Pettarani dan Jl Urip Sumoharjo, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (21/4/2026). (Dok. Instagram) 

TRIBUN-TIMUR.COM - Beban polisi di Sulawesi Selatan makin berat.

Bukan tanpa alasan.

Dalam sepekan terakhir, kasus geng motor dan begal marak lagi di Makassar.

Aksi jalanan meresahkan.

Teror busur bermunculan.

Perampokan dan pencurian juga meningkat.

Bahkan pencurian hewan ternak mulai terjadi jelang Lebaran.

“Fokus saja bereskan kasus kejahatan geng motor, teror busur, dan begal, harus ada diproritaskan, tidak tertutup juga kemungkinan, polisi urus MBG,” kata Sekretaris Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Unhas, Syarif Saddam Rivanie Parawansa, Selasa (5/5/2026).

Situasi ini bukan hal sepele.

Ini ancaman nyata bagi masyarakat.

Di saat yang sama, polisi terlihat sibuk di banyak hal.

Pengamanan pertandingan sepak bola.

Pengawalan berbagai agenda.

Termasuk program MBG.

Di sinilah pertanyaan mulai muncul.

“Mengapa polisi harus ikut terlalu jauh mengurus program tersebut? Bukankah tugas utama polisi adalah melindungi masyarakat? Menjaga keamanan. Memberantas kejahatan,” kata Syarif Saddam.

Di Makassar, rasa aman mulai dipertanyakan.

Warga was-was keluar malam.

Orang tua khawatir melepas anaknya.

Jalanan tak lagi sepenuhnya nyaman.

“Geng motor dan begal bukan sekadar pelanggaran hukum. Mereka mengancam nyawa. Mengintai siapa saja. Tanpa pandang waktu dan tempat. Karena itu, prioritas menjadi penting,” jelasnya.

Tidak semua hal harus ditangani dengan porsi yang sama.

Ada yang lebih mendesak.

Dan saat ini, kejahatan jalanan jelas salah satunya.

“Polisi harus kembali ke fungsi utamanya. Sebagai pelindung. Sebagai pengayom. Sebagai penjaga rasa aman,” katanya.

Namun ini, kata Syarif bukan hanya tugas polisi.

Masyarakat juga punya peran.

Edukasi perlu dilakukan.

Pendekatan humanis harus dikedepankan.

Pencegahan harus dimulai dari lingkungan terdekat.

Jangan sampai pelaku justru lahir dari sekitar kita sendiri.

“Semua pihak harus terlibat. Karena keamanan bukan kerja satu institusi saja. Tetapi kerja bersama,” ujarnya.

Intinya sederhana, lanjut Syarif, kejahatan geng motor dan begal harus ditekan.

Rasa aman harus dikembalikan.

Dan polisi, tetap harus berada di garis depan untuk itu.

Aksi Kejahatan Jalanan

Kriminolog UNM, Prof Heri Tahir, meminta kepolisian serius menangani aksi kejahatan jalanan dengan mengintensifkan patroli.

Patroli harus menjadi kegiatan rutin, terutama di titik-titik rawan yang sudah dipetakan.

"Patroli itu mesti jadi rutinitas. Polrestabes ini kan sudah tahu titik rawan," katanya.

Ia menegaskan, patroli tidak hanya untuk mengantisipasi geng motor, tetapi juga berbagai bentuk kejahatan lainnya.

Sebagai ibu kota provinsi dengan wilayah penyangga seperti Gowa dan Maros, Makassar dinilai membutuhkan penanganan terpadu antarpolres.

Penanganan tersebut tidak cukup hanya saat pelaku tertangkap tangan, tetapi juga harus menyasar akar masalah.

"Bukan tidak mungkin pelaku berasal dari luar Makassar, seperti Gowa dan sekitarnya. Ini harus ditangani secara terpadu," jelasnya.

Selain itu, Prof Heri menekankan pentingnya komunikasi intens antara kepolisian dan pemerintah kota.

Koordinasi ini diperlukan untuk memberdayakan RT/RW di masing-masing wilayah.

RT/RW harus menjadi garda terdepan dalam melakukan deteksi dini di tingkat lingkungan.

"RT/RW harus bisa mendeteksi sejak awal. Koordinasi dengan Polrestabes harus berjalan terpadu," jelasnya.

Ia juga mendorong aparat tidak ragu memberi tindakan tegas terukur terhadap pelaku.

Terutama bagi mereka yang berulang kali melakukan aksi serupa.

"Kalau sudah dua kali ditangkap harus diproses. Kecuali pemula masih bisa dibina. Tapi kalau berulang, sebaiknya diproses hukum," tegasnya.

Curnak di Bulukumba

Pencurian ternak mulai meresahkan warga Kabupaten Bulukumba.

Sepekan terakhir, enam ekor sapi dilaporkan hilang di Kecamatan Bulukumpa.

Sementara pada bulan sebelumnya, lima ekor sapi asal Bulukumba juga dicuri dan dijual ke Kabupaten Bone.

Kasat Reskrim Polres Bulukumba, AKP Andi Imran Hamid, mengatakan kasus pencurian ternak kini menjadi atensi khusus pihak kepolisian.

Ia pun telah mengerahkan anggotanya untuk melakukan penyelidikan dan pencarian pelaku.

Personel Polres Bulukumba juga diperbantukan ke polsek jajaran yang wilayahnya rawan pencurian ternak.

Para peternak pun juga mulai meningkatkan kewaspadaan.

Sejumlah peternak di Kecamatan Kajang memasang kamera pengawas di area kandang.

"Kamera CCTV ini kami pasang untuk memantau kondisi sapi dan potensi pencurian," kata Miswar, salah seorang peternak.

Ia menyebut kamera tersebut terhubung langsung dengan ponselnya sehingga dapat memantau kondisi ternak meski berada di luar daerah.

Sementara itu, aksi pencurian ternak juga dilaporkan marak di wilayah perbatasan.

Di Kabupaten Sinjai, tepatnya di Kecamatan Tellulimpoe, kasus serupa turut meresahkan warga.

Polres Sinjai pun turun tangan membantu masyarakat untuk mengungkap pelaku pencurian.

Perampokan di Makassar

Sosiolog Universitas Negeri Makassar, Idham Irwansyah, menilai faktor ekonomi menjadi salah satu pemicu meningkatnya aksi kriminalitas.

Termasuk maraknya geng motor dalam beberapa waktu terakhir.

Tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat, terutama di lapisan bawah, berdampak langsung pada meningkatnya beban hidup.

“Tekanan ekonomi meningkatkan beban hidup masyarakat, terutama di lapisan bawah. Kondisi ini memicu frustrasi, keputusasaan, dan hilangnya harapan, yang pada akhirnya bisa mendorong sebagian orang melakukan tindakan kriminal,” ujar, Senin (4/5/2026).

Idham menjelaskan, dampak tekanan ekonomi tidak hanya terbatas pada kemampuan memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis individu.

Selain itu, relasi sosial dalam masyarakat ikut terdampak, terutama ketika kesenjangan antara harapan dan kenyataan semakin lebar.

“Ketika kebutuhan hidup tidak terpenuhi, sementara tuntutan sosial tetap tinggi, terjadi ketegangan sosial. Ini yang dalam kajian sosiologi sering memicu penyimpangan perilaku,” jelasnya.

Idham menambahkan, ketimpangan sosial dan kesenjangan ekonomi turut memperbesar potensi konflik serta kriminalitas di tengah masyarakat.

Kondisi tersebut memunculkan rasa ketidakadilan yang dirasakan oleh kelompok tertentu.

“Kesenjangan ekonomi membuat sebagian kelompok merasa tertinggal dan tidak memiliki akses yang sama. Ini bisa melahirkan rasa iri, marah, bahkan dorongan untuk mengambil jalan pintas,” katanya.

Dalam konteks geng motor, Idham melihat adanya irisan kuat antara tekanan ekonomi dan kebutuhan akan identitas sosial, khususnya di kalangan anak muda.

Kelompok geng motor kerap menjadi ruang pelarian bagi mereka yang mengalami tekanan, baik secara ekonomi maupun sosial.

“Geng motor sering menjadi ruang pelarian bagi mereka mengalami tekanan sosial dan ekonomi,” katanya.

“Di sana ada rasa memiliki, solidaritas, dan pengakuan, tetapi juga berpotensi mendorong perilaku menyimpang,” Idham menambahkan.

Ia juga menyoroti keterbatasan akses terhadap pendidikan dan lapangan kerja sebagai faktor yang memperbesar risiko keterlibatan anak muda dalam kelompok tersebut.

Minimnya peluang membuat sebagian anak muda kehilangan arah dalam menentukan masa depan.

“Ketika peluang kerja sempit dan pendidikan tidak menjangkau semua, sebagian anak muda kehilangan arah. Geng motor kemudian menjadi alternatif ruang sosial, meski dengan risiko tinggi,” ujarnya.

Selain faktor ekonomi, Idham menilai adanya krisis moral serta melemahnya kontrol sosial di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Padahal, ketiga elemen tersebut seharusnya menjadi benteng utama dalam mencegah perilaku menyimpang.

Menurutnya, ketika fungsi kontrol sosial melemah, individu menjadi lebih rentan terpengaruh oleh lingkungan negatif.

Kondisi ini membuka ruang lebih besar bagi munculnya tindakan kriminal.

Terkait langkah penanganan, Idham menilai pemerintah perlu memperkuat program sosial yang menyasar keluarga, sekolah, hingga komunitas.

Edukasi moral dan sosial dinilai penting untuk membangun ketahanan masyarakat dari dalam.

“Penguatan kontrol sosial penting. Program edukasi moral dan sosial harus menyasar keluarga, sekolah, dan komunitas,” ujarnya.

“Siskamling atau posko di tiap RW yang mulai berjalan bisa menjadi praktik baik yang perlu diperkuat,” Idham menjelaskan.

Di sisi lain, ia juga menekankan pentingnya peran aparat penegak hukum dalam menjaga stabilitas keamanan.

Langkah penindakan harus berjalan seiring dengan upaya pencegahan.

“Penegakan hukum harus diperkuat melalui peningkatan patroli, pengawasan, dan respons cepat. Selain itu, tindakan tegas dan konsisten terhadap pelaku kejahatan penting untuk memberikan efek jera,” kata Idham.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved