Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun RT RW

Sufirman Haji Conggeng, Ketua RW yang Satukan Kebijakan dan Jaga Kerukunan Warga Puri Mutiara

Haji Upi menjadi penghubung utama antara warga dan berbagai kebutuhan yang muncul, mulai dari pelayanan administrasi

Tayang:
Penulis: Makmur | Editor: Saldy Irawan
Tribun-timur.com/Makmur
PROFIL RW - Ketua RW 006 Kelurahan Rappocini Sufirman Haji Conggeng atau biasa dipanggil Haji Upi berfoto di depan gerbang masuk Perumahan Puri Mutiara, Kelurahan Rappocini, Kota Makassar, Selasa (4/5/2026). Haji Upi rawat kerukunan warga Puri Mutiara melalui mufakat kekeluargaan dalam ikatan paguyuban.  

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Bagi Sufirman Haji Conggeng, menjaga kerukunan warga bukan hanya tanggung jawab formal sebagai Ketua RW, tetapi juga komitmen yang dijalankan dalam praktik sehari-hari. 

‎Di lingkungan RW 006 Kelurahan Rappocini, Kota Makassar, ia berupaya memastikan setiap kebijakan berjalan selaras dan menyentuh kebutuhan warga.

‎Pria yang akrab disapa Haji Upi ini memegang dua peran sekaligus, yakni sebagai Ketua RW dan Ketua Paguyuban Warga Perumahan Puri Mutiara. 

‎Alih-alih menjadi beban, peran ganda tersebut justru memudahkannya menyatukan arah kebijakan, baik dalam aspek administratif maupun pengelolaan lingkungan.

‎“Supaya tidak ada dualisme, saya pegang dua peran itu. Jadi semua bisa satu arah,” ujarnya, Selasa (5/5/2026). 

‎Di Kompleks Puri Mutiara, terdapat tiga RT dengan jumlah sekitar 200 kepala keluarga. 

‎Dengan cakupan tersebut, Haji Upi menjadi penghubung utama antara warga dan berbagai kebutuhan yang muncul, mulai dari pelayanan administrasi hingga penyelesaian persoalan sosial.

‎Dalam mengelola lingkungan, ia menempatkan keamanan dan kebersihan sebagai prioritas utama. 

‎Menurutnya, dua hal ini merupakan fondasi dasar yang menentukan kualitas hidup warga di dalam kawasan perumahan.

‎Sistem keamanan di lingkungan tersebut didukung oleh sembilan petugas satuan pengamanan (satpam) yang bekerja secara bergiliran dalam tiga shift, memastikan pengawasan berlangsung selama 24 jam. 

‎Sementara itu, kebersihan ditangani oleh sepuluh tenaga kebersihan khusus yang bertugas setiap hari, termasuk dalam pengelolaan sampah rumah tangga.

‎Meski sistem telah berjalan, Haji Upi menilai pendekatan sosial tetap menjadi kunci dalam menjaga kondusivitas lingkungan. 

‎Ia menyebut, sebagian besar persoalan yang muncul di tengah warga masih bisa diselesaikan secara kekeluargaan.

‎“Kalau ada masalah, kita selesaikan secara musyawarah mufakat,” katanya.

‎Salah satu persoalan yang kerap muncul adalah aktivitas renovasi rumah yang mengganggu kenyamanan warga lain. 

‎Dalam situasi seperti itu, Haji Upi mengambil peran sebagai mediator untuk mencari solusi bersama, seperti pengaturan waktu kerja agar tidak menimbulkan konflik.

‎Selain itu, komunikasi terus diperkuat, terutama dengan keberadaan warga baru yang belum sepenuhnya memahami aturan lingkungan. 

‎Untuk mempermudah koordinasi, seluruh warga tergabung dalam grup WhatsApp.

‎"Di grub itu disampaikan jika ada keluhan atau aspirasi dari warga," ucapnya. 

‎Melalui platform tersebut, berbagai informasi dapat disampaikan secara cepat, termasuk laporan gangguan layanan publik seperti listrik dan air.

‎“Kalau ada listrik padam atau air bermasalah, langsung kita koordinasikan ke pihak terkait,” ujarnya.

‎Namun demikian, interaksi langsung tetap menjadi bagian penting dalam pengelolaan kerukunan warga. 

‎Aktivitas seperti olahraga bersama di pagi atau sore hari menjadi ruang informal yang mempererat hubungan antarwarga.

‎Di sisi lain, paguyuban warga yang dibentuk pada 2025 memiliki peran strategis dalam menopang operasional lingkungan. 

‎Paguyuban bertugas mengelola iuran warga serta membiayai kebutuhan keamanan dan kebersihan, sementara RT dan RW tetap menjalankan fungsi administratif pemerintahan.

‎Pembagian peran ini menurut Haji Upi membuat sistem pengelolaan lingkungan menjadi lebih terstruktur dan efektif. 

‎Haji Upi juga melihatnya sebagai langkah menuju kemandirian warga dalam mengelola lingkungannya sendiri.

‎Meski begitu, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah masih adanya warga yang belum disiplin dalam membayar iuran lingkungan.

‎“Kita tidak punya dasar hukum kuat, jadi masih mengandalkan kesadaran warga,” ujarnya.

‎Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya terjadi di lingkungannya, tetapi juga di banyak kawasan perumahan lain. 

‎Ia pun berharap pemerintah dapat menghadirkan regulasi yang lebih jelas sebagai acuan pengelolaan lingkungan perumahan.

‎Dengan adanya aturan yang kuat, pengelola dinilai akan lebih mudah dalam mengambil kebijakan, terutama terkait kewajiban warga.

‎Kendati demikian, Haji Upi tetap mengedepankan pendekatan persuasif dalam menjalankan tugasnya. 

‎Ia percaya bahwa kesadaran kolektif jauh lebih efektif dibandingkan penerapan aturan yang bersifat memaksa.

‎Pada akhirnya, ia meyakini bahwa komunikasi yang baik dan rasa kebersamaan adalah kunci utama menjaga lingkungan tetap kondusif.

‎“Yang penting tetap rukun,” ucapnya.

‎Profil 

‎Nama: Sufirman Haji Conggeng
‎Jabatan: Ketua RW 006 Kelurahan Rappocini
‎Tempat Tanggal Lahir: Soppeng, 18 Agustus 1968
‎Alamat: Mutiara 3 No.16 Komplek Puri Mutiara
‎Pekerjaan: Ketua RW dan Wiraswasta
‎Hobi: Olahraga
‎Jumlah penduduk: 200 KK

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved