Sulsel Deflasi 0,03 Persen, Pengamat Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Jelang Iduladha
Angka ini dinilai masih aman dan bahkan cenderung positif karena mencerminkan kondisi ekonomi yang stabil setalah Idulfitri.
Penulis: Rudi Salam | Editor: Saldy Irawan
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Sulawesi Selatan (Sulsel) mengalami deflasi sebesar 0,03 persen secara month to month (mtm) pada April 2026.
Angka ini dinilai masih aman dan bahkan cenderung positif karena mencerminkan kondisi ekonomi yang stabil setalah Idulfitri.
Pengamat Ekonomi Universitas Bosowa (Unibos), Dr Lukman Setiawan, menilai deflasi tersebut sangat tipis dan tidak mengindikasikan tekanan ekonomi yang serius.
Menurutnya, penurunan harga tersebut nyaris tidak terasa dalam aktivitas masyarakat sehari-hari.
“Deflasi 0,03 persen itu hampir datar. Jadi ini bukan deflasi tajam,” kata Lukman, kepada Tribun-Timur.com, Senin (4/5/2026).
Lukman menjelaskan, deflasi pada April merupakan fenomena yang wajar karena terjadi satu bulan setelah Idulfitri Maret 2026.
Pada periode tersebut, konsumsi masyarakat cenderung menurun setelah sebelumnya melonjak saat Ramadan dan Lebaran.
Komoditas seperti beras, cabai, tarif angkutan, hingga tiket pesawat umumnya mengalami penurunan harga sebagai bagian dari pola musiman yang juga dicatat BPS.
Lukman menekankan bahwa indikator yang lebih penting adalah inflasi tahunan.
Selama inflasi year-on-year masih berada di kisaran 2,5 hingga 3 persen, maka kondisi ekonomi masih berada di jalur yang sehat sesuai target Bank Indonesia sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.
Meski demikian, Lukman mengingatkan dua hal yang tetap perlu dicermati, yakni kemungkinan deflasi akibat melemahnya daya beli serta tekanan pada komoditas pangan yang dapat merugikan petani jika harga turun terlalu dalam.
Menurutnya, perhatian utama saat ini justru harus diarahkan pada periode menjelang Iduladha 2026 yang diperkirakan jatuh pada 27 Mei 2026.
Dalam rentang waktu sekitar satu bulan sebelum hari raya, harga biasanya mulai meningkat seiring lonjakan permintaan.
“Pola harga biasanya naik dari H-30 sampai H-7. Permintaan hewan kurban meningkat 20 sampai 30 persen. Kalau pasokan kurang atau ada spekulan yang menahan stok, harga bisa terdorong naik,” kata Lukman.
Selain daging sapi dan kambing, komoditas bumbu dapur seperti cabai, bawang, dan tomat juga dinilai berpotensi mengalami kenaikan harga akibat meningkatnya permintaan serta faktor cuaca ekstrem pada Mei.
| BPS Catat Sulsel Deflasi 0,03 Persen April 2026, Inflasi Tahunan Tembus 2,68 Persen |
|
|---|
| Unibos Mengabdi Lintas Negara, Sentuh Komunitas Anak Pekerja Migran di Malaysia |
|
|---|
| Proyek Geothermal Rp1,5 Triliun di Rongkong Ditolak Warga Luwu Utara |
|
|---|
| Wisuda Unibos Berlangsung Tiga Hari, Total 728 Wisudawan |
|
|---|
| Unibos Cetak 728 Lulusan Baru, Prof Batara Surya Ingatkan Kontribusi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Pengamat-Ekonomi-dari-Universitas-Bosowa-Unibos-Dr-Lukman-Setiawan.jpg)