Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Khusus Sulsel, Badan Gizi Nasional Kucurkan Rp836 Miliar Per Bulan

Sebanyak 836 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kini aktif beroperasi di 24 kabupaten/kota di Sulsel. 

Penulis: Faqih Imtiyaaz | Editor: Ansar
Tribun-timur.com/Faqih Imtiyaaz
ANGGARAN MBG - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) RI Dadan Hindayana saat berada di Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) pada Selasa (28/4/2026). Jumlah SPPG di Sulsel mencapai 836 unit, setiap bulan BGN mengirim Rp 1 Miliar ke tiap SPPG untuk operasional 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Perputaran uang ratusan miliar kini mengalir rutin setiap bulan di Sulawesi Selatan (Sulsel). 

Bukan dari sektor tambang atau industri besar, justri dapur-dapur pelayanan gizi.

Sebanyak 836 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kini aktif beroperasi di 24 kabupaten/kota di Sulsel. 

Di balik angka itu, ratusan miliar rupiah berputar setiap bulan dikucurkan Badan Gizi Nasional (BGN).

"Itu artinya Rp836 Miliar tiap bulan uang dari BGN berputar di Sulsel," kata Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) RI Dadan Hindayana saat diwawancarai di Universitas Hasanuddin (Unhas) pada Selasa (28/4/2026).

Setiap unit SPPG menerima dana operasional sebesar Rp 1 miliar per bulan. Dana tersebut digunakan menopang aktivitas dapur.

Mulai dari pengadaan bahan baku pangan hingga operasional produksi.

"Beli apa? 70 persen sekitar 600 miliar untuk beli produk pertanian, peternakan dan perikanan," katanya.

Sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai bergulir, jumlah SPPG di Sulsel terus bertambah secara bertahap. 

Dadan Hindayana menyebutkan, total anggaran yang telah dikucurkan sejauh ini mencapai angka fantastis.

"Sampai bulan ini uang Badan Gizi di Sulsel Sudah 1,9 Triliun, ini uang besar beredar di Masyarakat," kata Kepala BGN.

Penerima MBG di Sulsel mencapai 1.962.917 orang.

Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Prof Brian Yuliarto sendiri meminta keterlibatan aktif perguruan tinggi di Sulsel dalam program ini.

Khususnya dalam aspek riset dan pengembangan.

"Siapa yang mengambil data kalau bukan dari dosen dan mahasiswa. Dari MBG sudah sibuk urus manajemen dan tata kelola. Yang riset kita," jelas Prof Brian Yuliarto.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved