Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Makkunrai 2026

Patriarki Masih Mengakar, Cerita Cicu Hadapi Stigma di Balik Meja DPRD

Pandangan patriarki kerap memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap perempuan, termasuk di dunia politik

Penulis: Faqih Imtiyaaz | Editor: Ari Maryadi
Tribun-timur.com/Faqih Imtiyaaz
MAKKUNRAI 2026 - Ketua DPRD Sulsel Andi Rachmatika Dewi jadi pembicara acara Makkunrai Sulsel di Mall Phinisi Point Makassar Rabu (22/4/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Andi Rachmatika Dewi menyoroti secara kasat mata memang terlihat adanya kemajuan dengan semakin banyaknya perempuan yang menduduki jabatan strategis
  • Dalam praktik sehari-hari, pola pikir patriarkal belum sepenuhnya berubah
  • Pandangan patriarki kerap memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap perempuan, termasuk di dunia politik

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Budaya Patriarki masih sangat kuat di Indonesia, termasuk di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Meskipun kehadiran perempuan dalam posisi kepemimpinan terus meningkat.

Ketua DPRD Sulawesi Selatan, Andi Rachmatika Dewi menyoroti secara kasat mata memang terlihat adanya kemajuan dengan semakin banyaknya perempuan yang menduduki jabatan strategis. 

"Budaya Patriarki di Indonesia sangat tinggi walaupun kelihatannya sudah banyak pemimpin perempuan hadir. Tetap budaya patriarki masih tinggi," kata Cicu sapaannya, dalam talkshow di Makkunrai 2026, di Mall PiPo, Jalan Metro Tanjung Bunga, Makassar Rabu (22/4/2026)

Namun, dalam praktik sehari-hari, pola pikir patriarkal belum sepenuhnya berubah.

Pandangan patriarki kerap memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap perempuan, termasuk di dunia politik.

Ia mencontohkan kondisi di DPRD Sulsel,  dari total 85 anggota dewan, hanya 22 diantaranya perempuan. 

Ketimpangan jumlah tersebut, kata dia, turut memengaruhi dinamika dalam forum-forum resmi.

"Kadang-kadang kalau perempuan tidak nyalakan mic di beberapa rapat, persepsi orang akan bilang tidak tau psti mau bilang, karena perempuan," jelas Cicu.

"Padahal ada 50 sekian laki-laki tidak nyalakan mic dan tidak ada bilang bahwa dia tidak tau apa-apa. Itu salah satu diskriminasi kami hadapi," sambungnya.

Ia menilai, situasi tersebut merupakan salah satu bentuk diskriminasi yang masih dihadapi perempuan.

khususnya di ruang-ruang pengambilan keputusan. 

Persepsi yang bias ini dinilai dapat menghambat partisipasi aktif perempuan.

Di sisi lain memperkuat stereotip yang tidak adil.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved