Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun RT RW

Lewat Medsos, Ketua RT Parangloe Idawati Edukasi Warga Soal Sampah

‎Kesadaran inilah yang terus didorong Idawati, Ketua RT 001 RW 001 Kelurahan Parangloe, Kecamatan Tamalanrea.

Penulis: Makmur | Editor: Saldy Irawan
Tribun-timur.com/Makmur
KELOLA SAMPAH - Ketua RT 001 RW 001 Parangloe, Idawati, saat berada di fasilitas Teba modern sebagai pengolahan sampah di wilayahnya, Jumat (27/3/2026). Tanpa lelah Idawati mengedukasi warga untuk mengelola sampahnya dengan baik.  

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Persoalan sampah menjadi tanggung jawab bersama yang membutuhkan kesadaran kolektif masyarakat. 

‎Kesadaran inilah yang terus didorong Idawati, Ketua RT 001 RW 001 Kelurahan Parangloe, Kecamatan Tamalanrea.

‎Ia aktif mengedukasi warga agar mulai memilah sampah sejak dari rumah, dengan memisahkan antara sampah organik dan non-organik. 

‎"Saya sosialisasi kan terus baik kalau ketemu langsung atau lewat Facebook, WhatsApp, dan Instagram, agar warga semakin sadar," ucapnya, Jumat (27/3/2026). 

‎Menurut Idawati, perlahan kesadaran warga mulai terbentuk. 

‎Meski belum sepenuhnya merata, ia melihat adanya perubahan perilaku seiring intensitas sosialisasi yang terus dilakukan.

‎“Semakin sering kita edukasi, semakin ada kemajuan. Target kita semua rumah bisa buang sampah sesau jenisnya,” ujarnya.

‎Di wilayahnya, pengelolaan sampah dilakukan melalui dua pendekatan, yakni pemanfaatan Teba modern untuk sampah organik dan bank sampah untuk sampah non-organik. 

‎Teba modern merupakan tempat khusus untuk mengurai sampah organik. 

‎Fasilitas ini dibuat dari gorong-gorong beton yang ditanam sedalam sekitar satu meter dengan diameter 80 sentimeter, sehingga mampu menampung sampah dalam jumlah cukup besar.

‎Di Kelurahan Parangloe, setiap RW telah memiliki Teba. Itu memang inisiatif langsung dari lurah. 

‎Di RT 001 sendiri terdapat sekitar 133 kepala keluarga. 

‎Idawati menargetkan seluruh warga dapat terlibat secara bertahap membuang sampah secara lebih terkelola. 

‎Sampah organik yang terkumpul di Teba akan menjadi pupuk. 

‎“Hasilnya ada, airnya bisa dipakai menyiram tanaman,” ujarnya.

‎Sementara itu, sampah non-organik dikelola melalui bank sampah milik warga. 

‎Sampah seperti botol plastik, kertas, dan kardus kemudian ditimbang dan dikonversi menjadi pendapatan tambahan. 

‎“Inisiatif bank sampah ini juga dari warga. Kalau banyak kita timbang, kalau sedikit biasanya kita sedekahkan saja,” ucap Idawati.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved