Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Gejolak Timur Tengah Bikin Investor 'Wait and See' Tanam Modal

Selat Hormuz sudah ditutup membuat harga minyak dunia melonjak. Berbagai negara sudah menunjukkan sikap dan keberpihakan.

Penulis: Faqih Imtiyaaz | Editor: Ansar
Tribun-timur.com
EKSPOR SULSEL - Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Asrul Sani. Investor kini sedang 'wait and see' melihat gejolak geopolitik di Timur Tengah 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Konflik Timur Tengah sedang memuncak.

Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran membuat situasi memanas.

Terlebih pimpinan tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia.

Di tengah masa berkabung, Iran membalas serangan.

Selat Hormuz sudah ditutup membuat harga minyak dunia melonjak.

Berbagai negara sudah menunjukkan sikap dan keberpihakan.

Kecaman terus berdatangan mengingat eskalasi semakin meningkat.

Investasi pun dikhawatirkan terdampak gejolak perekonomian ini.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Sulsel Asrul Sani menyebut investor kini sedang bimbang mengambil keputusan.

Hal itu wajar terjadi, mengingat dunia menghadapi ketidakpastian.

"Kalau saya pasti juga ada pengaruhnya. Jadi kan orang kalau mau modalnya itu melihat kondisi globalnya. Karena kan ujung-ujungnya kalau dibikin pabrik investasi kan ujung-ujungnya dia ekspor. Jadi paling tidak dia akan menunggu, dia wait and see, menunggu kondisi di Timur Tengah," kata Asrul Sani yang mengenakan kemeja putih saat ditemui di Lobby Utama Kantor Gubernur Sulsel, Jl Urip Sumoharjo, Makassar, Sulsel pada Rabu (4/2/2026).

Industri banyak mengandalkan minyak, namun kini terdampak dengan penutupan selat Hormuz.

Selat Hormuz menjadi jalur vital distribusi minyak mentah.

Sehingga baginya, kini sudah waktunya mendorong investasi pada Energi Baru Terbarukan (EBT)

"Sementara kita potensi EBT di Sulsel besar. Baik itu energi bayu, energi, hidro, surya, itu kita potensinya besar. Jadi kita mulai mendorong investasi atau pabrik-pabrik yang beroperasi di Sulsel itu menggunakan sumbernya dari energi baru dan terbarukan," kata Asrul Sani. 

Seperti misalkan energi baru melalui Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Sidrap dan Jeneponto.

Dengan memaksimalkan EBT menghasilkan energi, maka dampak gejolak geopolitik tidak berdampak.

Tersisa kini kepastian secara regulasi dan penyerapan energi listrik ini.

Di sisi lain, Pemerintah Iran resmi menutup Selat Hormuz.

Langkah Iran memicu kekhawatiran global mengingat Selat Hormuz selama ini salah satu titik paling strategis dalam pasokan minyak dan gas alam.

"Selat hormuz itukan di kontrol sama iran. Selat hormuz itu adalah jalur vital energi dunia. Kecil dia (selatnya) yang dikontrol tapi dampaknya sangat besar," kata Pakar Energi Universitas Hasanuddin Prof Bachtiar Nappu saat dihubungi Tribun-Timur.com, pada Senin (2/3/2026).

Hormuz merupakan selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan Samudra Hindia.

Pada titik tersempit, lebarnya hanya sekitar 33 kilometer.

Namun jalur pelayaran efektifnya jauh lebih kecil karena dibagi untuk arus masuk dan keluar kapal tanker.

Prof Bachtiar Nappu menjelaskan harga minyak mentah maupun Liquefied Natural Gas (LNG) atau gas alam cair sangat tergantung pada pasokan via selat Hormuz.

"20 persen sampai 26 persen minyak mentah, dan LNG (Gas alam cair) itu lewat selat hormuz sehingga mengontrol fluktuasi market share crued oil maupun LNG. Disitu lewat dari Arab, Kuwait, Oman, Iran sendiri. Jalurnya itu semua," kata Guru Besar Unhas ini.

Setiap ketegangan atau gangguan di Selat Hormuz selalu memicu sentiment negatif di pasar. 

Dampaknya Harga minyak dunia meroket, lebih jauh berdampak terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM)

Tekanan pun dihadapi negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia. 

Prof Bachtiar memprediksi kenaikan Harga minyak mentah bisa mencapai 40-50 persen. 

"Ekspektasi saya akan tembus 90 sampai 100 USD per barel, sekarang kan 70 USD per barel. Itu akan picu kenaikan BBM," sambungnya.

Ketegangan di Timur Tengah dengan penutupan Selat Hormuz, diyakini Prof Bachtiar akan berdampak ke Indonesia.

Laporan Wartawan Tribun-Timur.com, Faqih Imtiyaaz

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved