Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Gejolak Timur Tengah Bikin Investor 'Wait and See' Tanam Modal

Selat Hormuz sudah ditutup membuat harga minyak dunia melonjak. Berbagai negara sudah menunjukkan sikap dan keberpihakan.

Penulis: Faqih Imtiyaaz | Editor: Ansar
Tribun-timur.com
EKSPOR SULSEL - Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Asrul Sani. Investor kini sedang 'wait and see' melihat gejolak geopolitik di Timur Tengah 

Seperti misalkan energi baru melalui Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Sidrap dan Jeneponto.

Dengan memaksimalkan EBT menghasilkan energi, maka dampak gejolak geopolitik tidak berdampak.

Tersisa kini kepastian secara regulasi dan penyerapan energi listrik ini.

Di sisi lain, Pemerintah Iran resmi menutup Selat Hormuz.

Langkah Iran memicu kekhawatiran global mengingat Selat Hormuz selama ini salah satu titik paling strategis dalam pasokan minyak dan gas alam.

"Selat hormuz itukan di kontrol sama iran. Selat hormuz itu adalah jalur vital energi dunia. Kecil dia (selatnya) yang dikontrol tapi dampaknya sangat besar," kata Pakar Energi Universitas Hasanuddin Prof Bachtiar Nappu saat dihubungi Tribun-Timur.com, pada Senin (2/3/2026).

Hormuz merupakan selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan Samudra Hindia.

Pada titik tersempit, lebarnya hanya sekitar 33 kilometer.

Namun jalur pelayaran efektifnya jauh lebih kecil karena dibagi untuk arus masuk dan keluar kapal tanker.

Prof Bachtiar Nappu menjelaskan harga minyak mentah maupun Liquefied Natural Gas (LNG) atau gas alam cair sangat tergantung pada pasokan via selat Hormuz.

"20 persen sampai 26 persen minyak mentah, dan LNG (Gas alam cair) itu lewat selat hormuz sehingga mengontrol fluktuasi market share crued oil maupun LNG. Disitu lewat dari Arab, Kuwait, Oman, Iran sendiri. Jalurnya itu semua," kata Guru Besar Unhas ini.

Setiap ketegangan atau gangguan di Selat Hormuz selalu memicu sentiment negatif di pasar. 

Dampaknya Harga minyak dunia meroket, lebih jauh berdampak terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM)

Tekanan pun dihadapi negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia. 

Prof Bachtiar memprediksi kenaikan Harga minyak mentah bisa mencapai 40-50 persen. 

"Ekspektasi saya akan tembus 90 sampai 100 USD per barel, sekarang kan 70 USD per barel. Itu akan picu kenaikan BBM," sambungnya.

Ketegangan di Timur Tengah dengan penutupan Selat Hormuz, diyakini Prof Bachtiar akan berdampak ke Indonesia.

Laporan Wartawan Tribun-Timur.com, Faqih Imtiyaaz

 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved