Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Adu Prestasi Dua Jenderal Perempuan Asal Sulsel: Faridah Faisal dan Christina Rantetana

Dari daerah ini, lahir dua jenderal perempuan TNI yang mencetak sejarah di matra berbeda.

Tayang:
Editor: Ansar
Tribun-timur.com
JENDERAL TNI - Faridah Faisal (kiri) dan Christina Maria Rantetana. Berbeda generasi dan jalur karier, keduanya sama-sama menjadi pelopor perempuan di institusi militer yang identik dengan disiplin dan hierarki ketat. 

TRIBUN-TIMUR.COM – Sulawesi Selatan kembali menegaskan reputasinya sebagai lumbung tokoh nasional.

Dari daerah ini, lahir dua jenderal perempuan TNI yang mencetak sejarah di matra berbeda.

Satu di ranah hukum militer, satu lagi di kekuatan laut.

Mereka adalah Faridah Faisal dan Christina Maria Rantetana.

Berbeda generasi dan jalur karier, keduanya sama-sama menjadi pelopor perempuan di institusi militer yang identik dengan disiplin dan hierarki ketat.

Brigjen TNI Faridah Faisal resmi menjabat Kepala Pengadilan Militer Utama (Kadilmiltama) ke-11 pada 9 Februari 2026.

Jabatan ini merupakan posisi tertinggi dalam struktur peradilan militer, membawahi Dilmil (Pengadilan Militer), Dilmilti (Pengadilan Militer Tinggi), hingga pengadilan militer pertempuran.

Perempuan kelahiran Makassar, 23 Juni 1968 ini menjadi perempuan pertama memimpin lembaga tersebut, sejak peradilan militer modern dibentuk berdasarkan UU Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer.

Latar belakang pendidikannya kuat di bidang hukum.

Ia meraih gelar Sarjana Hukum pada 1991 dan Magister Hukum pada 2011 di Universitas Hasanuddin. 

Setahun setelah lulus S1, ia mengikuti Sepamilwa 1992 dari Korps Hukum (Chk), jalur yang memang diperuntukkan bagi sarjana hukum untuk menjadi perwira TNI.

Kariernya ditempa di berbagai satuan hukum, mulai dari Kumdam VII/Wirabuana hingga dipercaya menjadi Kadilmil di Yogyakarta dan Makassar.

Ia juga pernah menjabat Kadilmilti di Surabaya dan Jakarta serta menjadi anggota Pokkimiltama di Mahkamah Agung.

Beberapa perkara besar pernah ia tangani, termasuk kasus pembunuhan berencana yang melibatkan perwira menengah TNI pada 2021 serta perkara yang menjadi sorotan nasional seperti Tragedi Cebongan.

Pengalamannya itu memperlihatkan konsistensi dan ketegasannya dalam menegakkan hukum di lingkungan militer.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved