TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Ketua RW 004 Kelurahan Paccerakkang, Muhammad Amir, turun langsung memimpin penanganan banjir yang kembali merendam wilayahnya sejak Selasa sore.
Menurut Amir, air mulai naik menjelang waktu Magrib.
“Awalnya naik sedikit waktu sore, tapi sekitar jam 02.30 dini hari air naik tinggi sekali,” ujarnya kepada Tribun-Timur.Com, Rabu (25/2/2026).
Ketinggian air saat ini berkisar antara 40 hingga 60 sentimeter.
Kondisi tersebut menyebabkan ratusan rumah terdampak.
Sebagai langkah cepat, Amir bersama pengurus RT dan warga mendirikan tiga titik pengungsian.
Posko pertama berada di Masjid Ar Ra’mun yang menampung 15 kepala keluarga atau 53 jiwa.
Posko kedua di Mushala Al-Ummah dihuni 11 kepala keluarga atau 42 jiwa.
Sementara di Masjid Nurul Hikmah terdapat 8 kepala keluarga atau 29 jiwa.
“Total yang mengungsi sekitar 124 jiwa,” jelasnya.
Meski demikian, tidak semua warga terdampak memilih meninggalkan rumah.
Sebagian masih bertahan karena memiliki rumah bertingkat atau menilai kondisi genangan masih dapat ditoleransi.
Amir mengungkapkan, keterbatasan kapasitas tempat pengungsian menjadi salah satu pertimbangan warga untuk tetap tinggal.
“Tempat pengungsian sempit. Ada warga yang merasa kurang nyaman jika bergabung,” katanya.
Untuk mengantisipasi lonjakan pengungsi, Amir terus berkoordinasi dengan pengurus lingkungan serta pengelola fasilitas ibadah dan rumah kos guna menyiapkan alternatif posko pengungsian.
Selain itu, Amir memastikan kebutuhan dasar pengungsi tetap terpenuhi.
Ia mengatakan telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kota Makassar disebut untuk menjamin kebutuhan makanan bagi warga di pengungsian.
Selain itu, telah didirikan juga dapur mandiri di posko pengungsian untuk memenuhi kebutuhan logistik pengungsi, terutama kebutuhan berbuka puasa dan sahur.
“Katanya Dinsos sudah disiapkan buka puasa dan sahurnya para pengungsi,” ujarnya.
Terdapat 1.300 jiwa penduduk RW 002. Tersebar di lima RT.
Sekitar 500 kepala keluarga dilaporkan terdampak banjir.
Amir mengungkapkan, wilayahnya memang tergolong daerah rendah yang sejak lama rawan banjir.
"Dari sejak saya jadi ketua RW pada 2008, sudah banjir memang," ucapnya.
Kondisi tersebut, menurutnya, diperparah oleh perkembangan pembangunan yang menyebabkan aliran air tidak lagi lancar.
“Dulu ini area persawahan. Sekarang banyak pembangunan dan jalan yang lebih tinggi, sehingga air tertahan dan menggenang di permukiman,” ungkapnya.
Saat ini, menurut Amir, fokus utamanya adalah memastikan keselamatan warga, menjaga keamanan rumah yang ditinggalkan, serta mengantisipasi kemungkinan kenaikan debit air susulan.
“Kita selalu siap siaga mengantisipasi dan menanggulangi banjir,” tegasnya.(*)